Mohon tunggu...
Syarif Enha
Syarif Enha Mohon Tunggu... Dosen - Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Melibatkan Anak adalah Wujud Penghargaan dan Penguatan

4 Juli 2021   11:28 Diperbarui: 4 Juli 2021   11:37 56 3 0 Mohon Tunggu...

Ketika kita melihat perilaku negatif pada anak, yang terbersit dalam pikiran seketika adalah bagaimana orang tuanya mendidiknya, kok bisa begitu? Sering kita melihat dan merasa aneh, ketika melihat anak berperilaku layaknya raja di rumah. Di tengah orang tua beraktivitas membereskan rumah, anak-anak justru acuh tak acuh bermain HP atau yang lain, padahal, mereka mestinya bisa membantu. Bahkan sikap mereka kadang memperlakukan orang tua seperti pembantu.

Ada sebuah persepsi yang menurut saya agak kurang tepat, misalnya, sikap kalau dulu masa kecil kita susah, maka jangan sampai anak kita mengalami kesusahan. Ini sudah jaman Makmur. Kan sudah ada pembantu, sehingga anak-anak tidak perlu mengerjakan tugas beres rumah, termasuk kamar mereka sendiri.

Saya pernah menulis tentang generasi kaca. Dimana sejak balita mereka mendapatkan proteksi yang sedemikian rupa, sehingga tidak pernah bahkan sekedar merasakan sakitnya jatuh ketika belajar berjalan. 

Tidak pernah merasa tertolak atas semua kehendaknya. Tidak pernah merasa sedih dan kecewa karena semua harapannya dipenuhi secara sempurna oleh orang tuanya, bahkan berlebih. Bahkan ketika berinteraksi dengan teman-temannya, orang tua selalu hadir menjadi tameng dan pembela. Ini saya sebut generasi kaca. Generasi yang indah. Namun, kelak ketika ia harus hidup sendiri, ketika dia harus menghadapi badai, dia akan mudah tetapi rentan jatuh dan pecah.

Saya meyakini bahwa tidak ada pola tunggal pendidikan anak yang baik. Setiap keluarga memiliki keunikan situasi sehingga peran orang tua memainkan seni parenting ini menjadi penentu. 

Salah satu bagian pokok utama dalam pendidikan anak adalah pelibatan anak pada aktivitas rumah. Melibatkan mereka dalam tugas-tugas yang mampu mereka bantu untuk lakukan, seperti mengambilkan sapu, menyiapkan alat makan sendiri, membereskan kamar masing-masing, kerja bakti bersama bersih-bersih rumah, atau sekedar membawakan anak kunci untuk membuka rumah.

Melibatkan anak dalam aktivitas yang nyata akan mengikat dan membangun penerimaan diri mereka dengan baik. Bahwa mereka ada dan memiliki peran yang berguna untuk lingkungan, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Pelibatan ini akan menjadi penghargaan yang berarti pada diri anak. Bahwa mereka merasa ada dan beguna serta dibutuhkan.

Anak yang sering dilibatkan dalam aktivitas rumah, akan memiliki sikap empati yang lebih baik. Mereka akan belajar kepekaan pada kebutuhan lingkungan yang ia dapat berkontribusi di dalamnya. Satu dua kali mungkin kita akan meminta tolong dia mengambilkan sapu ketika ada kotoran yang akan dibersihkan di dalam rumah, lain kali dan selanjutnya, mereka akan terbiasa, mengambil sapu dan membersihkannya sendiri. Jangan lupa beri apresiasi dengan pujian yang cukup.

Selain belajar empati, anak akan belajar peran dan fungsi sosial. Sikap ini tidak dapat diajarkan instan di sekolah dengan satu dua mata pelajaran. Ini dicontohkan dan dipraktekkan secara konsisten. Kita ajari dan contahkan perilaku itu sejak dini. Kelak ketika dia berada pada lingkungan yang lebih besar, dia akan lebih mudah berinteraksi dan menyesuaikan diri dalam lingkungan sosialnya.

Jangan segan minta bantuan anak. Memang kadang pekerjaan tidak akan lebih mudah dengan melibatkan anak di dalamnya, namun yakinlah, kelak anak-anak kita akan dimudahkan hidupnya dari banyak kesulitan hidup karenanya.

Syarif_Enha@Tegalsari, 4 Juli 2021

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN