Mohon tunggu...
Syarif Enha
Syarif Enha Mohon Tunggu... Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mengenang Peristiwa Anugerah Dr. (H.C) Gus Mus di UIN SUKA

26 Juli 2020   05:38 Diperbarui: 26 Juli 2020   05:56 26 3 0 Mohon Tunggu...

"Saya berterima kasih kepada duta besar perwakilan Syiria, yang menyempatkan hadir hanya untuk melihat saya memakai toga." Kata Gus Mus diikuti gelak tawa seluruh hadirin. Hari itu, Sabtu, 30 Mei 2009 Kiai Ahmad Mustofa Bisri mendapat anugearh gelar doktor honoris causa (Hc) dalam bidang kebudayaan Islam oleh Universitas Islam Indonesia Sunan Kali Jaga, Jogjakarta.

Acara yang digelar di gedung Multi Purpose itu, dihadiri oleh banyak tokoh nasional dan kalangan seniman dan agamawan. Mahfud MD, Din Syamsuddin, Syafi'i Maarif, Emha Ainun Nadjib, Tohari, Zawawi Imron, Butet, dan masih banyak lagi. Kehadiran dari banyaknya kalangan menunjukkan jangkauan pergaulan dan kepopuleran Gus Mus.

Menurut Prof. Mahasin selaku ketua tim promotor, mengemukakan, sosok Gus Mus sangat layak ntuk mendapat gelar Doktor Honoris Causa. Gus Mus dinilai mampu menjadi seorang yang perhatian kepada masalah keagamaan yang tidak hanya pada tingkat formalitas saja. Selain itu, Gus Mus juga dianggap sebagai sosok yang memiliki kemampuan mengemukakan pemikiran-pemikirannya tentang Islam secara sederhana. Sehingga semua kalangan bisa menerima kehadiran beliau.

Dalam pidatonya, Gus Mus dengan sedikit guyonan menceritakan perasaannya ketika akan dianugerahi gelar doktor. "Satu hal yang langsung ada dalam pikiran saya ketika mendengar kabar tersebut adalah bagaimana membuat teks pidato?" Beliau menyatakan tidak pernah membuat catatan ilmiah dimana standarnya harus menggunakan footnote. Dan seluruh footnote yang ada dalam pidatonya ternyata ayat-ayat Al Qur'an.

Dalam pidatonya yang bertajuk "Mengkaji Ulang Beberapa Konsep Keislaman Sebagai Mukaddimah Reformasi Keberagaman Bagi mengembalikan Keindahan Islam". Gus Mus mengemukakan tentang kesyirikan. Syirik yang paling besar menurut beliau adalah syirik menyekutukan Tuhan dengan dirinya sendiri. Dengan mengatas namakan Tuhan, memutlakkan kebenaran pendapatnya sendiri. Bahkan menjadi legitimasi bagi dirinya untuk menghancurkan kelompok lain. "ini adalah syirik yang teramat besar." Katanya, kemudian mengakhiri pidatonya.

Tokoh Pembangun Kebudayaan

"Kita saat ini surplus dengan para economic builder dan para politic builder, tetapi kita defisit education and cultural bulder (pembangun tradisi/budaya)." Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Prof. Dr. Amin Abdullah, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kali Jogo, setelah menganugerahkan gelar Doktor Honoris causa kepada Gus Mus.

Kemudian beliau menjelaskan, bahwa peran para ulama dalam masa globalisasi telah tergeser perannya sebagai panutan. Sehingga secara perlahan namun pasti, globalisasi menyebabkan semacam sosial panic (kepanikan sosial). Sementara agama yang diharapkan menjadi solusi, hanya menampakkan hard power-nya saja dalam berbagai masalah. Dicontohkan dengan banyaknya fatwa-fatwa yang kurang jernih, yang kurang menyentuh pokok masalah, seperti fatwa haram rokok, haram golput, haram facebook dan sebagainya.

Dan masih menurut Prof Amin Abdullah, harapan yang masih bisa dibangun adalah dengan mengedepankan soft power dari agama berupa kebudayaan, yang dulu pernah berhasil diterapkan oleh para wali di Jawa, terutama Sunan Kali Jaga. Dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Leteh Rembang, Jateng tersebut, dinilai memiliki kemampuan pikir dan peran besar dalam mengembangkan peran kulutural atau budaya.

"Adanya penganugerahan ini, diharapkan dapat mengisi kekosongan tersebut (kultural builder)." Tandas Amin pada akhir pidatonya.

Syarif_Enha@UINSuka_2009

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x