Mohon tunggu...
Syarif Enha
Syarif Enha Mohon Tunggu... Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hukum, Keadilan, dan Uang

21 Mei 2020   03:34 Diperbarui: 21 Mei 2020   03:34 163 3 1 Mohon Tunggu...

Suatu malam saya nongkrong di salah satu angkringan sepanjang jalan Tegalsari Semarang. Saya terlibat perbincangan serius dengan penjual angkringan membicarakan tetang negara dan hukum. Dengan kalimat yang bukan dalam maksud bercanda, pak angkringan bilang bahwa hukum di Indonesia itu hanya permainan politik orang-orang yang punya duit. Sementara negara kita bukan negara berdasarkan hukum, namun juga negara duit. Kemudian dia menyimpulkan bahwa kita seperti hidup dalam film India. Siapa yang menjadi tuan Takur, dia yang berkuasa, bahkan presiden bisa dibelinya. Saya hanya tersenyum geli dengan cara dia bicara dan mengumpamakan negara kita dengan film India yang pernah booming pada tahun 2000-an.

Pernyataan pak Angkringan itu bukannya tidak berdasar. Dia memaparkan beberapa fakta yang diketahuinya. Tetangganya pernah kehilangan motor, ketika melapor ke Polisi malah justru dimintai uang oleh oknum Polisi sendiri. Ketika motornya ketemu, dia masih harus menebus motornya lagi, padahal itu motor dia sendiri. Namun itu wajar, katanya. Karena untuk menjadi polisi, kenalannya harus membayar uang masuk sebesar seratus juta. Sehingga tentu sangat masuk akal jika mereka perlu banyak usaha untuk mengembalikan modalnya.

Kemudian dia bicara tentang penjara. "Lha orang dipenjara kok springbednya setinggi ini," sambil dia menempeleng meja gerobaknya yang setinggi perut orang dewasa. Belum lagi kamarnya pakai AC. "Lha iku jenenge mung numpang turu!" Suaranya meninggi. "Mentang-mentang dia punya duit." Katanya mengakhiri argumentasi. Kemudian dia pun menentukan sikap, "Bagi saya yang penting bisa cari makan Mas. Males mikirin begituan mas. Tidak ada yang bayar."

Mohon maaf sebelumnya, jika ada pihak-pihak tersinggung. Namun tulisan ini sama sekali tidak untuk menyinggung pihak manapun. Saya hanya mencoba memaparkan bagaimana sebenarnya jika seseorang yang tidak terlibat langsung dalam masalah-masalah hukum dan negara memberikan komentar yang orisinal.

Dengan mendengar pernyataan tersebut, saya jadi berpikir ulang, sebenarnya seberapa pentingkah hukum dan negara itu bagi rakyat kebanyakan seperti kita dan mereka yang tidak mendapatkan jatah kue kekuasaan?

Jika masih saja berpandangan bahwa hukum adalah untuk mendapatkan keadilan, cobalah berpikir ulang mengenai apa sebenarnya fungsi hukum. Apakah benar hukum itu untuk mewujudkan keadilan?

Ahli hukum Taverne pernah membuat pernyataan "Berikanlah aku hakim, jaksa, polisi, dan advokat yang cerdas dan bermoral, maka dengan hukum yang tidak sempurna sekalipun akan dapat aku tegakkan hukum dan keadilan." Taverne seperti hendak menyatakan bahwa keadilan itu tidak dikandung oleh hukum itu sendiri, melainkan manusia yang menjadi aktor-aktor hukum.

Di lain keadaan, Jimly Assiddiqy menyatakan bahwa hukum adalah solusi bukan malapetaka. Dia ingin menegaskan bahwa hukum merupakan satu perangkat yang diperlukan manusia untuk menyelesaian berbagai persoalan dalam hidupnya.  Tapi di mata banyak orang, justru banyak masalah yang timbul dalam masyarakat karena adanya hukum itu sendiri.

Sekarang tergantung kepada kita. Jika berhenti pada objek hukum, kita akan dihadapkan pada dogma-dogma kosong, namun jika kita menilik pada subjek hukum, maka kita akan menyaksikan coreng moreng wajah kita sendiri.

Syarif_Enha@PelemWulung, 1 Nopember 2011

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x