Mohon tunggu...
Syarif Enha
Syarif Enha Mohon Tunggu... Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mengatasi Masalah Tanpa Masalah, Itu Mitos!

18 Mei 2020   02:53 Diperbarui: 18 Mei 2020   03:08 112 2 0 Mohon Tunggu...

Kawan saya tiba-tiba menelpon malam tadi. Dia bercerita tentang keadaannya di tempat jauh sana. Tentang kondisi tempat kerjanya yang sungguh tidak memberikan kenyamanan, penuh dengan tekanan dan kebohongan. Panjang lebar dia ceritakan satu persatu kebobrokan sistem maupun pola pergaulan orang-orang di sekitarnya. Saat ini dia tengah berada pada kondisi dilema, di satu sisi dia mengetahui kejahatan beberapa oknum yang telah mapan, namun di satu sisi dia terbentur dengan dinding paham birokrasi dan pencitraan yang tidak masuk akal.

Ada seorang oknum guru SMP yang dia tahu telah melakukan perbuatan asusila kepada para siswanya. Memang sampai saat ini dia belum mengantongi bukti nyata selain keterangan para korban yang berhasil dia rangkum. Modus yang oknum itu gunakan adalah dengan memanggil ke ruangannya dan melakukan tindakan tidak senonoh kepada muridnya itu dengan ancaman dan kadang diberikan imbalan yang tidak seberapa. Sampai saat ini belum ada satu korbanpun yang berani bersuara akecuali kepada kawan saya itu.

Jelaslah sebagai seorang guru BK, dia memang harus siap menampung semua masalah para anak didiknya untuk bisa membantuk merumuskan jalan keluar, namun apakah benar dia memiliki bertumpuk solusi untuk setiap masalah, dan segudang keberanian untuk berdiri didepan atas nama kebenaran. Sebagai seorang manusia, dia banyak menimbang tentang apa yang mungkin akan terjadi dengan solusi yang akan dia ambil. Dia menimbang apa yang akan terjadi pada keluarga si oknum jika kemudian kasus itu ia ungkap. Bagaimana dengan citra sekolah yang belum lama dibangun, yang nota bene masih sangat muda umurnya. Namun di lain sisi, dia tidak memungkiri ada kepentingan lebih besar yang harus dilindungi yaitu kehidupan anak-anak didik yang menjadi korban. Lebih jauh tentang kebenaran dan moralitas yang yang bukan saja harus namun wajib dijaga dan dipupuk dalam dunia pendidikan.

Mungkin persoalan akan lebih mudah jika anak-anak didik yang menjadi korbannya itu mendesaknya untuk menjadi pembela, namun yang terjadi tidaklah demikian, mereka justru mengadu untuk agar tidak pernah diungkapkan. Mereka meminta agar peristiwa-demi peristiwa itu tetaplah menjadi aib yang dirahasiakan. Kawan saya pun menyadari betul, jika sampai peristiwa ini diungkapkan, beban yang ditanggung para korban dalam hal ini anak-anak didiknya tidaklah ringan. Tidak bisa dia bayangkan rasa malu yang akan mereka tanggung di hadapan kawan-kawannya. Bisa jadi usaha mengungkap kebenaran ini akan berdampak domino yang tidak sederhana. Dalam budaya patriarki, perempuan memang selalu tertindas.

Akhirnya, sampailah dia pada pertanyaan, "Bagaimana jika oknum itu tahu saya yang mengadukan kemudian dendam dan mengancam saya?"

Bagaimana jika ada seseorang yang mengadukan masalah seperti di atas kepada anda? Saya baru tersadar bahwa menyelesaikan masalah tanpa masalah itu benar-benar hanyalah slogan semata.

Sebagai orang yang berjarak dengan kasus tersebut, dengan mudah saya bisa memberinya masukan tentang apa yang sebaiknya dan mestinya dia lakukan. Banyak alternatif yang saya berikan dengan berbagai pertimbangan konsukuensi logis yang mungkin terjadi. Bahkan saya bisa memberikan prinsip-prinsip yang mestinya jadi dasar pengambilan keputusan. "Hukum adalah alternatif terakhir setelah semua upaya penyelesaian di luar itu gagal untuk ditempuh." Akhirnya, kalimat itulah yang saya tawarkan kepadanya. Bisa saja, banyak orang berang karenanya. Syarif_Enha@JambidanKidul, 05 Maret 2012

VIDEO PILIHAN