Mohon tunggu...
Syarif Enha
Syarif Enha Mohon Tunggu... Manusia yang selalu terbangun ketika tidak tidur

Manusia hidup harus dengan kemanusiaannya

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan

Tips Mengesampingkan Nafsu

3 Mei 2020   01:29 Diperbarui: 3 Mei 2020   01:57 44 1 0 Mohon Tunggu...

Edarkan pandangan dan pikiran anda ke seluruh bagian benda yang saat ini anda klaim sebagai milik anda. Sejenak pikirkan ulang, ingat-ingat, dimana anda membelinya, dengan cara apa anda memperolehnya, dan atas dasar apa anda memilikinya. Mana saja yang anda miliki atas dasar kesenangan? Seberapa besar porsi kesenangan anda berperan dalam memutuskan. Lebih jauh lagi, pertimbangkan keputusan-keputusan hidup yang anda ambil. Tampillah di depan kaca, pikirkanlah kembali, apakah keputusan hidup anda untuk sampai detik ini lebih banyak dipimpin rasa senang dan tidak senang? Berapa persen peran kesenangan pada hidup anda? Jika hidup anda lebih banyak dikendalikan rasa senang dan tidak senang dalam pengambilan keputusan, maka anda sama halnya dengan bayi dan anak-anak. Anda tidak pernah dewasa. Anak-anak hanya melakukan sesuatu karena mereka senang. Tidak lebih. Pengantar di atas akan membawa kita pada kenyataan, ternyata hidup kita tidak lebih dari pelampisan nafsu semata. Nafsu selalu dibalut dengan hal-hal yang menyenangkan.

Ada sebuah ungkapan yang menarik, dunia seisinya tidak akan cukup memenuhi keinginan satu orang manusia, namun ia akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh bumi. Nafsu jika sudah diperturutkan dan dipertuhankan, ia tidak akan membiarkan pengikutnya puas. Namun begitu ia mampu menghadirkan kesan seolah-olah bahwa semua itu adalah kebaikan yang semestinya. Orang yang sudah dibutakan dengan nafsu, maka mereka akan mengalami ketertutupan nalar dan kemudian memangdang semua kebaikan dan kebenaran ada dalam dirinya. Ia akan merasa seperti nabi yang maksum, bahkan sangat mungkin ia merasa menjadi tuhan yang semua keputusan ada pada dirinya, dan semua orang harus mengiyakan dan membenarkannya. 

Cukuplah fir'aun dan namrud diceritakan dalam kitab suci. Kisah manusia yang menuhankan dirinya. Pada akhirnya pun kalah berkalang tanah. Namun manusia adalah mahlauq yang pandir. Sudah diberitahu namun masih saja sering lupa dan bahkan menyangkal. Pengetahuan mereka tidak melahirkan ilmu yang membimbing pada kebenaran. Pengalaman orang-orang terdahulu tidak ia sarikan sebagai petunjuk hidup. Jadilah ia manusia bodoh yang memaksakan diri untuk merasakan pengalaman pahit, kembali ditenggelamkan oleh kehidupan. Berapa nama penguasa otoriter yang akhirnya ambruk, yang bisa anda sebutkan?

Nabi menyatakan bahwa kehebatan orang adalah diukur dari kemenangannya berperang melawan hawa nafsunya sendiri. Jelas sudah, bahwa kualitas utama manusia adalah kemerdekaan untuk lepas dari belenggu hawa nafsu yang jahat. Namun, mengapa hawa nafsu begitu kuat? Paling tidak ada tiga sebab utama, pertama karena lemahnya iman. Kedua, karena lemahnya akal, dan ketiga karena ia selalu diperturutkan.

Lemahnya iman. Seperti cahaya dan kegelapan. Di seberang iman ada pelampiasan nafsu. Semakin kuat iman, nafsu semakin terkendali, sebaliknya, semakin lemah iman, maka nafsu itu semakin meraja. Dalam sebuah ruangan, ketika cahaya redup, akan muncul keremangan dan kegelapan, namun jika cahaya itu terang, keremangan dan gelap itu secara otomatis akan sirna. Tidak ada kegelapan dan cahaya menyatu dalam satu keadaan.

Lemahnya akal. Nafsu itu tidak rasional. Jika rasio kita loyo, maka irrasionallah yang akan mengusai. Nafsu bersifat liar dan sembrono, sementara akal bersifat tertib dan antisipatif. Jika akal bekerja dengan baik, nafsu akan keder dan surut. Missal ketika kita berhadapan dengan tawaran suap uang bermilyar-milyar, nafsu kita akan berkata, "ambil, ini sangat menguntungkan!" namun rasional anda akan mengatakan, "jangan, ini berbahaya, ini tidak baik!"

Selalu diperturutkan. Seperti hewan piaraan yang liar, setiap hari kita merawat dan memberinya makan. Sangat manis karena ia masih kecil. Namun pada satu waktu ketika piaraan itu tumbuh besar, kita akan menyesal atas perhatian kita kepada hewan piaraan ini. Tidak menutup kemungkinan, piaraan kita yang dulu disangka manis, kini begitu buas dan justru mengendalikan, bahkan menelan habis hidup kita.

Apakah nafsu harus diberangus? Tidak juga. Kita tidak diminta untuk menghilangkan hawa nafsu, melainkan mengendalikan. Jadi jangan anda anggap sorang ulama besar berarti sudah tidak memiliki nafsu lagi terhadap kehidupan. Mereka tetap memiliki nafsu, namun pada diri mereka ada mekanisme kendali yang hebat, sehingga tidak kita dapati mereka liar dan memperturutkan nafsunya.  

Berdasarkan identifikasi persoalan di atas, maka pertanyaan yang kemudian harus dijawab adalah bagaimana tips atau cara untuk mengendalikan hawa nafsu kita? Berdasarkan pengalaman berbagai macam manusia, paling tidak ada empat tips untuk bisa menaklukkan hawa nafsu manusia. Pertama, amankan dengan iman potensi nafsu agar tidak meledak. Kedua, kalahkan dengan akal! Ketiga, pilih jalan yang terjal! Dan keempat, kuras energy untuk sesuatu yang baik.

Amankan sebelum meledak dengan iman. Tuhan melimpahkan kepada kita potensi kebaikan dan juga potensi keburukan. Potensi kebaikan itu kita sebuat sebagai ketaatan dan potensi keburukan itu adalah hawa nafsu yang menuntun manusia kepada derajat kebinatangan. Nafsu itu seperti balon udara yang terus dipompa, sehingga potensi meledak setiap saat menjadi tinggi. Nafsu itu seperti api kecil yang berada dekat sekali dengan sekam. Ketika kita mampu mengendalikan, menjaga dan menempatkan secara tepat, maka api kecil itu akan melahirkan kebaikan, namun jika tidak, maka ia akan menjadi api besar yang siap menelan siapa dan apa saja. Amankan dengan iman, karena keduanya tidak akan hadir dalam satu keadaan. Tingkatkan iman selalu perbarui iman kita.

Kalahkan dengan akal. Akal akan menjadi batu sandungan besar setelah iman bagi nafsu untuk meraja. Dengan akal, manusia memiliki daya olah dan daya kritis atas berbagai persoalan, untuk menentukan apa yang baik dan yang buruk, mana yang benar dan yang salah, mana yang dzalim dan mana yang adil. Dengan akal, manusia akan mampu menggeser nafsu yang berorientasi pada kesenangan semata tanpa menghiraukan suasana dan akibat yang ditimbulkan. Akal akan menjadi rem bagi nafsu yang liar. Semakin kuat akal, manusia akan semakin terarah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN