Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 39 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pegiat Literasi Kian Berat bila Belum Kelar dengan Diri Sendiri

14 September 2022   21:15 Diperbarui: 14 September 2022   21:17 134 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: TBM Lentera Pustaka

Survei menyebutkan, 70% taman bacaan terkesan "mati suri" alias hidup segan mati tak mau. Entah karena anak-anak yang membaca tidak menentu, koleksi buku yang tidak memadai atau komitmen pengelola yang setengah hati. Hingga akhirnya, tidak ada jadwal tetap untuk membaca. Bahkan kadang buka kadang tutup. Pembaca pun jadi bingung.

Sebagai aktivitas sosial dan gerakan moral, memang tidak mudah mengelola taman bacaan. Apalagi bila dihadapkan pada masalah dana operasional, tidak adanya relawan, hingga kebutuhan hidup sehari-hari dari pengelola taman bacaan itu sendiri. Maka wajar, taman bacaan kian dihadapkan bak "buah simalakama". Satu sisi, pengelola harus bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisi lainnya, ada misi sosial yang harus dijalanak untuk menegakkan tradisi baca dan budaya literasi melalui taman bacaan.

Maka mau tidak mau, suka tidak suka, pengelola taman bacaan memang harus kelar dengan diri sendiri. Agar gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan dapat dijalankan secara optimal. Tentu, dengan melibatkan relawan maupun berkolaborasi dengan berbagai pihak atau komunitas. Karena bila belum kelar dengan diri sendiri, bisa jadi pengelola taman bacaan jadi mudah frustrasi. Berujung pesimis lalu bersikap skeptis.

Sejatinya, pengelola taman bacaan harus berjiwa spartan. Sekaligus menghindari diri bermentalitas "korban". Mampu menghadapi tantangan dan bersikap realistis. Kelar dengan diri sendiri. Pada akhirnya, akan membuat pikiran dan tindakannya lebih fokus pada visi yang lebih besar. Lebih senang pada solusi daripada masalah. Selalu berbuat daripada menghujat. Maka, jadikanlah kelar dengan diri sendiri. Agar bisa berbuat yang lebih baik dari sebelumnya.

Siapa pun, saat sudah kelar dengan diri sendiri. Maka yang dibahas bukan lagi "aku" tapi "kita". Bukan lagi mempersoalkan masalah tapi mencari solusi. Bukan lagi mudharat tapi maslahat. Bukan lagi siasat tapi manfaat. Untuk gerakan literasi dan aktivitas taman bacaan yang lebih berkualitas.

Maka "pekerjaaan rumah" pegiat literasi atau pengelola taman bacaan. Adalah bertanya, "apakah sudah kelar dengan diri sendiri?". Jadikan spirit ke depan menjadi lebih baik. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan