Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 34 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kenapa Kamu Menyesal?

23 Juni 2022   08:35 Diperbarui: 23 Juni 2022   12:23 35 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: TBM Lentera Pustaka

Berkiprah di taman bacaan adalah sebuah keputusan. Berjuang untuk literasi pun sebuah keputusan. Bahkan menyediakan akses bacaan untuk anak-anak pun bukan perkara gampang. Sementara orang-orang serba digital, taman bacaan masih berpikir buku-buku yang manual. Taman bacaan, sama sekali tidak populer. Lalu pertanyaannya, apakah saya menyesal berada di taman bacaan?

Memang ada benarnya. Anekdot yang menyebut "pendaftaran itu berada di depan dan penyesalan itu datangnya belakangan". Memilih taman bacaan sebagai jalan hidup bisa jadi menyesal. Berjuang jadi pegiat literasi pun bisa jadi pilihan yang tidak pas di era digital seperti sekarang. Apalagi sulitnya membangun tradisi baca dan budaya literasi di masyarakat. Bisa jadi, penyesalan yang terjadi kian paripurna.

Untuk para pegiat literasi, apakah Anda menyesal berada di taman bacaan?

Itu pertanyaan sederhana, sangat mudah untuk dijawab. Karena faktanya di luar sana, tidak sedikit orang yang menyesal setelah mengambil keputusan. Merasa salah memilih jurusan saat kuliah, merasa salah memilih pekerjaan. Bahkan menyesal karena telah membuang kesempatan di depan mata. Anda menyesalkah?

Jaid begini sahabat. Di dunia ini, setiap manusia pasti akan dan pernah menyesal dalam hidup. Tanpa terkecuali dia orang baik atau tidak baik. Jangan orang tidak baik, orang baik pun pasti menyesal. Penyesalan itu sesuatu yang dekat dengan manusia. Tapi untuk apa menyesal atas pilihan?

Penyesalan itu sama dengan kerugian. Bagi sahabat muslim,, tentu hafal  dengan surat pendek Al 'Ashr (waktu). Bahwa "Demi waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS Al 'Ashr: 1--3). Waktu adalah aset terpenting yang dimiliki manusia. Tapi sayangnya, tidak semua manusia mampu mengelola waktu hidupnya. Maka siapa pun akan menyesal bila gagal menggunakan waktunya.

Siapa pun yang gagal mengelola waktu, pasti merasakan penyesalan. Manusia yang rugi dan menyesal. Bahkan orang yang telah berbuat baik sekalipun, akan menyesal. Mengapa dia tidak berbuat baik lebih banyak, lebih sering? Bukankah "khoirunnas anfauhum linnas", bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?

Anda merasa menyesal berada di taman bacaan, tidak masalah. Penyesalan itu lumrah. Tapi penyesalan bukan berarti negatif. Justru penyesalan bisa berdampak positif bila mampu direnungkan dan dijadikan hikmah dalam hidup. Karena dengan menyesal, siapa pun bisa memperbaiki niat dan meningkatkan ikhtiar. Agar rasa sesal mampu menjadikan untuk:

1. Makin tahu kemampuan diri sendiri untuk meningkatkan "tahu ilmu tahu diri tahu arti peduli" dan mengenal kelebihan -- kekurangan  diri sendiri.

2. Meminimalisasi kegagalan untuk bahan evaluasi dan pembelajaran ke depan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan