Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 34 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor serta penasehat Forum TBM Kab. Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Katanya Zaman Canggih, Kok Masih Ada Rentenir?

9 Agustus 2021   09:01 Diperbarui: 9 Agustus 2021   09:22 42 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Katanya Zaman Canggih, Kok Masih Ada Rentenir?
Sumber: Koperasi Lentera

Siapa bilang di zaman begini udah gak ada rentenir?

Tidak jauh dari Jakarta, di kaki Gunung Salak itu praktik rentenir masih ada. istilahnya "bank keliling" atau warga menyebutnya "bank emok" (bukan semok). Siapa pun tahu, rentenir itu katanya merugikan. Tapi apa yang bisa diperbuat saat "orang-orang kecil" punya kebutuhan? Hanya pinjam dan pinjam lagi. Lalu terlibat utang berbunga tinggi. Pinjam 3 juta bayarnya 4,5 juta dalam 45 minggu, itu pun yang diterima tidak utuh. Dipotong biaya administrasi. Hahhh ...

Maka jadilah rumah yang terpaksa dijual. Akibat Di sini terjadi, keluarga yang terlibat utang dan tidak mampu membayar. Hingga rumah dijual lalu anaknya "dititipkan" ke saudaranya. Belum lagi rumah orang tua oleh anaknya karena terliat utang. Semua terjadi karena praktik rentenir, utang berbunga tinggi. Dan ibu-ibu itu pun tidak punya akses keuangan.

Atas keprihatinan itulah, TBM Lentera Pustaka mendirikan "Koperasi Lentera" yang fokusnya koperasi simpan pinjam. Sebagai gerakan untuk menghindari jeratan rentenir, sekaligus mengajarkan pentingnya "simpan sebelum pinjam". Literasi finansial sederhana dimulai dari yang begini-begini.

"Koperasi Lentera saya dirikan karena keprihatinan akibat banyaknya warga sekiat TBM Lentera Pustaka yang terjerat rentenir dan utang berbungan tinggi. Maka saya ajarkan untuk simpan dulu baru pinjam. Memang nilainya kecil tapi saya yakin koperasi bisa jadi "obat" untuk mengurangi derita ekonomi rumah tangga ibu-ibu di wilayah ini. Insya Allah dan mohon dukungannya saja" ujar Syarifudin Yunus, Penggagas Koperasi Lentera sekaligus Pendiri TBM Lentera Pustaka di Bogor.

Sejak berdiri di bulan Apri 2021 lalu, alhamdulillah saat ini sudah 20 ibu-ibu jadi anggota Koperasi Lentera. Tiap Sabtu sore setor iuran Rp. 10.000 per minggu. Kini ada 8 anggota yang sudah meminjam dengan nilai Rp. 2,8 juta. Sehingga mereka terhindar dari praktik rentenir dan utang berbunga tinggi.

Katanya zaman canggih, kok masih ada rentenir?

Rentenir, katanya udah jadi penyakit masyarakat. Banyak rakyat jelata terjerat di dalamnya. Iya banget. Maka harus ada ikhtiar edukasi masyarakat untuk menghindarinya. Minimal, pinjam uang karena butuh bukan ingin.

Praktik sederhana literasi finansial pun sudah berjalan di TBM Lentera Pustaka. Alhamdulillah #KoperasiLentera #LiterasiFinansial #TBMLenteraPustaka

Renternir di Balik Berdirinya Koperasi Lentera, Selamat Hari Koperasi

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan