Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 31 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bcaaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Refleksi Hardiknas, Jangan Jejali Siswa Pelajaran tapi Optimalkan Karakter

2 Mei 2021   09:56 Diperbarui: 2 Mei 2021   10:13 124 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Refleksi Hardiknas, Jangan Jejali Siswa Pelajaran tapi Optimalkan Karakter
Sumber: Pribadi

Di Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021, inilah momen semua pihak untuk berpikir ulang tentang cara memajukan pendidikan Indonesia. Karena pendidikan di era digital kini harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif. Pendidikan tidak bisa dipandang sekedar pengajaran. Tapi harus melibatkan etika dan moral. Maraknya korupsi, hoaks, dan salaj pakai medsos jadi bukti, pendidikan gagal membangun akhlak manusia pembelajar. Maka, semua elemen masyarakat harus terlibat untuk membenahi dan memajukan dunia pendidikan.

Motto twibbon Hardiknas Kemendikbud yang tersebar di medsos "serentak bergerak wujudkan merdeka belajar". Apa artinya itu? Bahwa urusan pendidikan, masyarakat harus merasa memiliki, pemerintah harus memfasilitasi, dunia bisnis harus peduli, pendidik dan anak didik pun harus menyadari makna pendidikan yang hakiki. Era pendidikan 4.0 harusnya bukan menjadikan "merdeka belajar" sekadar jargon. Tapi Pendidikan adalah "gerakan" untuk menjadikan masa depan pendidikan lebih berkualitas. Semua pihak, harus mau dan bersedia menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan problematika yang merundung pendidikan Indonesia.

Maka wajar, banyak orang menilai. Sementara era digital dan teknologi melaju pesat. Tapi pendidikan Indonesia belum beranjak membaik. Justru makin kisruh dengan kebijakan dan praktik yang dianggap tidak berkualitas. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemi Covid-19 dinilai gagal. Dunia pendidikan bukan membaik malah jadi polemik. Revolusi industri 4.0 yang sulit dibantah seakan tidak bisa diimbangi merdeka belajar. Pendidikan gagal merespon cepat teknologi. Bila tidak mau dibilang sulit berubah.

Sungguh, mencari cara untuk membenahi dunia pendidikan di Indonesia tidak mudah. Ada  tantangan besar. Berharap adanya kualitas pendidikan di Indonesia bisa jadi masih angan-angan. Terlalu banyak batu sandungan, membuat dunia pendidikan terus-menerus jadi polemik. 

Soal implementasi merdeka belajar, kekerasan di sekolah, kurikulum, kualitas guru, model pembelajaran, hingga korupsi di dunia pendidikan masih jadi masalah. 

Belum lagi soal mencari cara yang pas untuk merespon era revolusi industri 4.0. Maka mau tidak mau, dunia pendidikan dituntut mampu merespon otomatisasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan. Maka kata kunci Pendidikan terletak pada kompetensi dan kreativitas. Pendidikan yang memberdayakan masyarakat.

Tujuan pendidikan untuk mengembangkan potensi peserta didik. Agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab bisa jadi hanya slogan. Bila proses belajar dan dunia Pendidikan gagal mengemas upaya pencerdasan dan penumbuhan generasi yang berkarakter dan berkepribadian. Maka, ikhtiar mengembalikan kesadaran tentang pentingnya pendidikan berkarakter menjadi tanggung jawab semua pihak hari ini.

Hari Pendidikan Nasional kali ini, harusnya mampu mengajak kita untuk melakukan introspeksi diri. Untuk mengukur apa yang sudah benar dan apa yang masih salah dalam proses pendidikan selama ini. Pemerintah, guru, dan orang tua harus berpikir ulang. Tentang pendidikan itu bukan membangun kecerdasan tapi keteladanan.

Pendidikan bukan lagi soal pelajaran tapi soal etika dan moral. Maka di situ, sangat dibutuhkan upaya merevitalisasi pendidikan. Pendidikan tidak lagi proses edukasi. Tapi bertumpu pada nilai-nilai. Ada 5 (lima) uaya revitalisasi pendidikan, antara lain:

Pertama, merevitalisasi sekolah sebagai sentra pendidikan yang mandiri dan berkarakter. Sekolah tidak lagi sekadar pelaksana kurikulum. Melainkan menjadi basis pengembangan budaya dan karakter siswa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN