Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 31 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bcaaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Literasi Puasa, Move On Itu Bukan Melupakan tapi Berpindah

10 April 2021   17:54 Diperbarui: 10 April 2021   18:09 75 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Literasi Puasa, Move On Itu Bukan Melupakan tapi Berpindah
Sumber: TBM Lentera Pustaka

Saat ditanya kawan, apa artinya puasa?

Jawaban saya pun tidak lazim. Saya bilang puasa itu momen untuk "move on". Iya move on. Karena zaman now, banyak orang sulit move. Idola-nya tidak terpilih, susah move on. Tidak sependapat dengan teman pun gagal move on. Hingga diam di rumah akibat pandemo Covid-19 pun sulit move on. Maka puasa, harusnya jadi momen untuk move on.

Move on itu bukan "melupakan" masa lalu. Tapi lebih pasnya, move on itu berani untuk "berpindah" dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Membuka diri untuk menerima realitas apa pun dalam hidup.  Move on juga bukan soal hati. Tapi soal sikap dan perilaku. Maka puasa kali ini, siapa pun sejatinya harus berani move on. Berpindah ke keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan hanya sekadar "menahan diri".

Move on di bulan puasa, bolehlah disebut "hijrah".

Berhijrah untuk meningkatkan kualitas ibadah menjadi lebih baik. Berubah untuk memperbaiki diri sebagai hamba-Nya. Bila puasa tahun lalu, biasa-biasa saja. Maka puasa kali ini, harusnya lebih luar biasa. Tidak lagi sebatas ritual. Tapi lebih berkualitas, lebih berdampak terhadap sikap dan perilaku sehari-hari. Mumpung, masih diberi kesempatan "bertemu" puasa. Karena tahun depan belum tentu bisa ketemu puasa lagi.

Bila move on itu hijrah. Maka puasa kali ini, siapa pun bisa hijrah dari ibadah yang alakadarnya ke ibadah yang paripurna. Hari-hari yang diisi dengan kekhusyukan ibadah, di samping kepedulian dan kemanfaat kepada orang lain. Puasa sebagai "training center" untuk memperbaiki diri. Sebagai hamba Allah, bukan karena selain Allah. 

Puasa ya move on-lah. Mulai saja dari yang kecil-kecil.

Pakai baju putih, pakai kopiah lalu sarungan. Bisa juga sedekah  ke orang-orang yang kurang beruntung. Lebih rajin mengaji atau kaji kitab. Atau stip ngomongin orang, Karena sayang, bulan puasa kan bulan suci. Nah, jangan kotori kesucian yang hanya sebulan dalam setahun. Move on itu sederhana.

Seperti di taman bacaan pun. Bisa dijadikan sarana untuk move on. Taman bacaan yang tidak sekadar jadi tempat membaca anak-anak. Tapi juga mengkaji ilmu agama. Seperti di TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak pun. Puasa kali ini ditargetkan bisa "khatam Al Quran keroyokan" tiap hari Sabtu. Sehingga selama bulan puasa berarti 4 kali khatam, insya Allah. 

Suka tidak suka, spirit "move on" di bulan puasa bisa jadi penting. Agar ada semangat untuk hijrah dan berubah. Agar bisa bersahabat dengan realitas. Maklum, hidup di zaman now. Terlalu penuh dinamika, penuh kejutan bahkan hal tak terduga di luar kontrol kita. Agar selalu bergerak, berani hijrah. Seperti kata cendekiawan Muhammad Iqbal, "sekali berhenti, berarti mati."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN