Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Konsultan di DSS Consulting & Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK, Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 31 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dana Operasional Taman Bacaan di Indonesia; 82% Swadaya 18% Donatur, Pemerintah Nol

28 Maret 2020   17:48 Diperbarui: 28 Maret 2020   17:58 44 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dana Operasional Taman Bacaan di Indonesia; 82% Swadaya 18% Donatur, Pemerintah Nol
Sumber" Survei TBM Lentera Pustaka

Mengenaskan kondisi taman bacaan di Indonesia. Mengapa?

Sekalipun gerakan literasi nasional (GLN) menjadi program pemerintah, namun faktanya dana operasional taman bacaan 82% berasal dari swadaya pendiri/pengelola taman bacaan, 18% dari donator, dan andil pemerintah nol.

Maka wajar, banyak taman bacaan di Indonesia yang seakan "mati suri". Sulit berkembang karena tidak adanya dukungan biaya atau anggaran dari pihak eksternal. 

Minimnya dana operasional untuk menjalankan aktivitas taman bacaan, harus diakui menjadi kendala besar. Karena tanpa dana, maka sulit taman bacaan untuk dikelola dengan baik. Bahkan anggaran untuk membeli buku pun tidak ada.

Apalagi sekadar "uang kopi" bagi pegiat literasi yang membimbing aktivitas membaca anak-anak di taman bacaan. Berangkat dari realitas itulah, pihak pemerintah daerah atau donatur perlu ikut peduli terhadap "kebertahanan" eksistensi taman bacaan di Indonesia.

Itulah simpulan Survei Tata Kelola Taman Bacaan di Indonesia yang dilakukan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka pada tahun 2019 lalu. Survei ini diikuti oleh 54 pegiat literasi dari 33 lokasi di Indonesia, seperti dari Bogor -- Sukoharjo- Banyuwangi- Sumba Tengah -- Jambi -- Purwokerto - Nias Selatan - Buru Selatan - Sorong Selatan - Kab. Gowa -- Asahan - Padang Panjang -- Rappang -- Cirebon - Seram - Mamuju Tengah - Tapanuli Utara -- Matawae - Landak - Manggarai Barat -- Grobogan -- Wonogiri - Buton Tengah - Kota Baru -- Boyolali - Aceh Barat - Probolinggo -- Purworejo -- Malang - Semarang - Lampung Timur -- Tanggamus -- Jeneponto -- Sumba Barat.

Tidak dapat dipungkiri. Taman bacaan sebagai aktivitas sosial yang bersifat nonformal pun membutuhkan dana operasional. Baik untuk biaya listrik, honor alakadarnya petugas baca, dan membeli buku koleksi taman bacaan.

Tanpa dukungan dana atau anggaran, bisa dipastikan taman bacaan menjadi tidak menarik bagi anak-anak di lokasinya berada. Maka sekali lagi, kepedulian pemerintah dan donatur/korporasi terhadap aktivitas taman bacaan harus digerakkan.

"Survei ini membuktikan, taman bacaan sulit berkembang dan diminati anak-anak karena tidak adanya dukungan dana operasional. Sumbernya hanya dari kantong pendiri atau donatur. Maka pemerintah atau korporasi harus ikut peduli. Bila tidak akan banyak taman bacaan yang mati. Kasihan pegiat literasi di Indonesia" ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor.

Di tengah gempuran era digital, harusnya pemerintah dan masyarakat mendukung gerakan untuk "membaca secara manual" di kalangan anak-anak usia sekolah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x