Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Konsultan di DSS Consulting, Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 25 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Remehkan Siapapun, Bak Ikan Besar di Kolam Kecil

13 Desember 2019   11:33 Diperbarui: 13 Desember 2019   15:14 108 1 1 Mohon Tunggu...
Jangan Remehkan Siapapun, Bak Ikan Besar di Kolam Kecil
dokpri

Sekarang ini makin banyak orang yang seperti "ikan besar di kolam kecil". Itu cuma simbol buat mereka yang "merasa paling kuat, padahal ia sangat kecil jika dibawa pada kolam samudera yang luas". Refleksi buat mereka yang suka meremehkan, merendahkan orang lain.

Gak tau kenapa, kita sering lupa.

Satu pohon itu bisa dipakai untuk membuat jutaan batang korek api. Tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon. Maka wajar, satu pikiran negatif juga terlalu mudah untuk membakar jutaan pikiran positif yang kita punya.
Semua manusia di belahan dunia manapun sepakat. Korek api itu punya kepala tapi gak punya otak. Maka tiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar, lalu membakar. Terus kenapa, kita berbuat sebaliknya?

Lha, terus kenapa banyak orang banyak jadi kayak korek api?

Kita dan manusia lain kan punya kepala, punya otak, juga punya akal sehat. Terus kalo cuma karena gesekan kecil, beda pendapat beda pilihan, kenapa harus terbakar? Kenapa harus marah dan mencaci maki? Welah dalahh ....

Kita semua tahu kan...

Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung.

Ini pesan buat sesama. Jangan remehkan siapapun.

Karena waktu terus berputar, zaman pun bergerak. Siklus kehidupan tiap orang terus berlanjut. Gak ada yang stag, berhenti .... Semua berputar, sesuai takdir-Nya.

Gak usah remehkan siapapun, jangan merendahkan siapapun dalam hidup. BUKAN karena siapa mereka, tapi karena siapa diri kita?

Kita memang boleh berkuasa, atau merasa berkuasa. Tapi WAKTU sungguh lebih berkuasa daripada kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN