Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Konsultan di DSS Consulting & Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK, Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 30 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pentingnya Literasi Ekonomi di Masa Sulit

5 Desember 2019   21:44 Diperbarui: 5 Desember 2019   21:41 74 1 0 Mohon Tunggu...
Pentingnya Literasi Ekonomi di Masa Sulit
foto pribadi. tangkapan layar

Bahwa kondisi ekonomi saat ini secara umum dirasakan sulit, tentu sesuatu yang sulit dibantah. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun pun dengan tegas menyatakan kondisi ekonomi saat ini berat (CNBC News, 14 November 2019). Ekonomi global melemah. Bahkan indikator perdagangan internasional menunjukkan angka terlemahnya sejak 20 tahun.

Maka imbasnya, perekonomian nasional Indonesia pun mengalami pelemahan. Perdagangan barang dan jasa, arus modal termasuk dana secara psikologis dan sentimen pun terus tertekan. Kinerja neraca perdagangan pun kian lesu, baik ekspor maupun impor.

Lalu, apa artinya itu semua? 

Tentu, urusan negara dan pemerintah untuk mencarikan solusi terbaiknya. Namun, kondisi ini pun bisa jadi momentum bagi masyarakat untuk merefleksi diri tentang "literasi ekonomi" yang dipahami dan dijalankan selama ini. Bila ekonomi dalam kondisi sulit, adakah kesadaran masyarakat untuk mengubah perilaku ekonominya sendiri?

Maka di situlah pentingnya literasi ekonomi. Sebuah budaya literasi untuk lebih mengedepankan "kesadaran" memahami kondisi, kesadaran belajar tentang apapun dalam kehidupan, termasuk masalah ekonomi. Melalui literasi ekonomi yang kokoh, masyarakat diharapkan mampu bertahan dalam situasi ekonomi seperti apapun. Utamanya, manakala ekonomi sedang sulit.

Karena literasi ekonomi, setidaknya masyarakat diajarkan dan diajak untuk tahu dan paham dalam mengelola uang. Paham tentang cara mengendalikan kebutuhan dan keinginan manusia yang tidak terbatas. 

Sementara sumber daya yang ada tetap terbatas.  Peran penting literasi ekonomi inilah yang seharusnya disajikan ke tengah masyarakat. Agar lebih paham, lebih mampu mengendalikan diri dalam urusan ekonomi.

Karena ekonomi, hakikatnya bukanlah "kekuasaan" manusia terhadap uang atau modal. Tapi literasi ekonomi lebih menekankan tentang pemahaman bahwa ekonomi harus lebih bertumpu pada 1) rasionalitas komposisi biaya versus manfaat (cost vs benefit), 2) tahu mana yang jadi kebutuhan -- mana yang jadi keinginan, dan 3) sikap manusia itu sendiri terhadap uang.

Melalui literasi ekonomi yang mumpuni, setidaknya masyarakat mampu sadar dan tahu dalam mengambil keputusan ekonomi. Pemanfaatan ekonomi atau uang yang lebih berorientasi pada "manfaat" yang lebih besar daripada "biaya". Bukan sebaliknya, lebih besar "pasak" daripada "tiang".

Misal saja. Bila kita ke pasar ingin membeli kebutuhan lauk pauk, lalu mengapa begitu mudah tergoda dengan "diskon 50%" buah-buahan impor. Sehingga lupa membeli kebutuhan lauk pauk yang utama ketimbang buah-buahan impor yang hanya sebatas keinginan.  

Kemudahan berbelanja online pun sering kali hanya untuk "pelampiasan nafsu konsumtif" yang sebatas keinginan. Karena belum tentu barang yang dibeli online itu dibutuhkan. Fakta inilah yang kian menegaskan pentingnya literasi ekonomi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN