Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan & Penulis

Konsultan di DSS Consulting, Pengajar Pendidikan Bahasa Indonesia & Edukator Dana Pensiun. Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak. Pendiri TBM Lentera Pustaka. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 25 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Literasi Media Sosial Warga Medsos Rendah

5 Januari 2019   08:49 Diperbarui: 5 Januari 2019   19:53 0 1 0 Mohon Tunggu...
Literasi Media Sosial Warga Medsos Rendah
Sumber : dokpri


Di media sosial. Bisa diprediksi, kita makin kenyang sama hoaks atau berita bohong. Ditambah ujaran kebencian, shaming, bullying, dan konten negatif lainnya. Maka lengkaplah "kelaparan" yang menghiasi jagat per-media sosial-an di Indonesia.

Riset "We Are Social" (Jan 2018) pun merilis rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial. Kini, sudah 49% penduduk Indonesia  tercatat sebagai pengguna aktif media sosial. Keren dan luar biasa.

Maka wajar, ketika ada "7 truk kontainer" keluar dari Tanjung Priok, siapa saja yang ada di dekat situ bisa bikin informasi apa saja. Bisa bilang "surat suara yang udah dicoblos", bisa juga "sertifikat tanah yang siap diedarkan". Termasuk "buka bengep" karena pengen awet muda dan cantik (barangkali bukan barangrongsokan) pun diplesetin "habis digebukin". Contoh kayak begitu, tentu hanya terjadi di media sosial. Media sosial emang keren bin ciamik.

Kita,  pasti senang sama barang-barang konsumsi. Mulai dari makanan, fashion, buku bacaan, kosmetik, bahkan kendaraan. Maka untuk urusan itu semua, kita pun "sangat pandai" memilah dan memilih mana yang cocok mana yang tidak. Ada yang suka makanan pedas, ada yang tidak. Ada yang suka fashion motif batik ada yang tidak. Sudah pasti, tiap kita berbeda pilihan beda selera. Makanya, harus dipilah dan dipilih yang cocok. Biar nyaman dan enak buat kita, tentunya.

Tapi sayang, kita sering lupa.

Hari ini dan ke depan, ada barang konsumsi yang kita snatap tiap hari tiap menit tiap detik.Bahkan dengan sangat rakusnya kita lahap. Itulah "informasi" atau "berita", apalagi yang ada di media sosial. Andai saja, informasi atau berita itu kita anggap sebagai obat-obatan. Tentu, kita gak bisa tenggak semua obat untuk semua penyakit. 

Minum obat itu kan biar kita sehat, biar fit. Jangan minum obat, bila bikin tambah sakit atau malah pusing. Jadi harusnya, informasi pun harus bisa dpilah dan dipilih yang bisa bikin lebih sehat.

Media sosial itu hebatnya, gak kenal kasta. Apapun yang ada di medsos, berasal dari manapun terlalu mudah dilahap oleh semua orang. Jangan orang gak pintar, orang pintar saja bisa "hanyut" terbawa arus banjir informasi yang gak terbendung lagi di media sosial. Tiap informasi, gagal dipilah, gagal dipilih apalagi cari tahu kebenarannya. 

Wajar kalau akhirnya, hoaks atau berita bohong jadi merajalela. Terus, siapa yang harus bertanggung jawab bila sudah begitu? Yang paling gampang sih, salahin saja pemerintah. Negara ini mau bagus mau gak, itu kerjaan pemerintahnya bukan rakyatnya. Cakep.

Hari ini dan esok, informasi itu makin gampang diperoleh. Informasi itu ada di mana-mana. Bahkan informasi itu pun terlalu mudah dibuat. Oleh siapapun, atas motif apapun. Tapi sayang, kita sering lalai. Kita justru malas dan tidak mau mengecek "kebenaran informasi itu sendiri". Terlalu gampang menebar informasi, yang belum tentu benar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2