Syarif Yunus
Syarif Yunus Karyawan Swasta

Pekerja & Pemerhati Pendidikan Bahasa. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA BINDO) FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Sekjen IKA FBS UNJ (2013-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis & Editor dari 17 buku. Buku yang telah cetak ulang adalah JURNALISTIK TERAPAN & "Kompetensi Menulis Kreatif", Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis", dan buku "Bahasa di Panggung Politik; Antara Kasta dan Nista". Pendiri & Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Gn. Salak Bogor. Owner & Education Specialist GEMA DIDAKTIKA, Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA, Pengurus Asosiasi DPLK Indonesia (2003-Now). Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Puasa Dinanti Bukan Dikhianati

17 Mei 2018   22:28 Diperbarui: 17 Mei 2018   22:58 166 0 0
Puasa Dinanti Bukan Dikhianati
dokumentasi pribadi

Puasa baru hari pertama. Seorang ABG bilang, puasa itu paling gak kuat menahan rasa lapar. Betul banget. Sederhana saja, kalo kenyang namanya bukan puasa. Puasa terasa lapar. Bisa jadi, karena puasa dianggap sebagai beban buat sebagian orang, termasuk ABG yang bilang tadi.

Lapar di saat puasa itu lazim.

Karena lapar bikin orang bisa rendah hati, bisa melenyapkan kesombongan dan kezaliman dirinya. Biasanya, orang lapar itu mampu menjernihkan hati dan menajamkan penglihatan. Sebaliknya, orang kenyang itu bisa membutakan mata hati. Maka siapa yang gak kuat lapar di kala puasa? Pasti, puasanya akan berhenti di tengah hari.

Jauh dari sekadar lapar. Puasa sering dinanti. Tapi sering pula dikhanati.

Puasa dinanti. Karena bulan  puasa dikenal sebagai bulan penuh rahmat, penuh berkah. Bulannya memperbanyak ibadah, bulannya menebar kebaikan. Banyak orang ingin "dipertemukan" kembali dengan puasa tahun depan. Puasa pantas dinanti. Kata ulama, puasa itu salah satu dari arkanu al islam al khamsah; hal yang sakral dalam Islam. Maka wajar, bulan puasa menyimpa banyak keutamaan, banyak hikmah. Bulan puasa memang lebih hebat dari 11 bulan lainnya. Puasa dinanti ...

Tapi puasa pun bisa dikhianati...

Katanya bulan puasa telah tiba. Tapi sholat tarawih hanya ramai di hari-hari pertama saja. Tiap sore sibuk wara-wiri hingga "gelap mata" cari makanan berbuka. Pengennya khatam Al Quran tapi nyatanya sebatas niat doang. Akhirnya, di bulan puasa justru sibuk dan rajin tawaf di banyak mal. Puasa dikhianati. Karena puasa malah menggenjot konsumerisme. Lagi puasa pun, adab dan kebiasaan gak banyak berubah. Tetap berkeluh-kesah, ngegosip bahkan tetap sulit "menahan diri" dari amarah dan kebencian. Gagal mengendalikan hawa nafsu, maka puasa dikhianati ...

Puasa dinanti tapi dikhianati.

Puasa itu bukan soal berapa kalah, berapa menang. Puasa pun bukan soal warung nasi boleh buka atau tidak boleh buka. Puasa bukan soal kuat atau tidak menahan lapar. Tapi puasa itu soal sikap mental, soal integritas hamba kepada Allah SWT sang pencipta. Sungguh, puasa gak lebih dari komitmen untuk menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Jika kemarin sudah baik, maka puasa menjadikan lebih baik. Itulah puasa dinanti, bukan dikhianati.

Puasa dinanti, bukan dikhianati.

Manusia pun ada yang dinanti, tapi gak sedikit manusia yang dikhianati. Puasa pun ada yang menanti, ada yang mengkhianati. Puasa dirindu bukan diseteru. Puasa dicinta bukan dinista. Puasa disukai bukan untuk dicederai.

 Puasa sulit jadi bersih, bila jiwa dan pikir tetap kotor.

Karena puasa itu ibarat hujan. Hanya turun untuk memelihara dan menyuburkan benih-benih sikap dan perilaku baik, bukan sebaliknya ... ciamikk

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi