Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 31 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bcaaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Anda Belum Kelar dengan Diri Sendiri?

5 Oktober 2017   02:36 Diperbarui: 5 Oktober 2017   04:20 3012 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Anda Belum Kelar dengan Diri Sendiri?
2017-10-05-02-21-10-59d537ceb5fdf2752c5fb7c2.jpg

Anda BELUM KELAR DENGAN DIRI SENDIRI ...?

Zaman boleh maju. Tapi pikiran belum tentu. Maka wajar, sekarang makin banyak aja orang yang peduli sama urusan yang remeh-temeh. Urusan kecil dibesarin. Urusan besar dikecilin. Urusan internal bilangnya pengaruh dari luar. Urusan luar dibikin heboh di internal. Timbang nonton film diributin.

Kok bisa begitu?

Jawabnya sederhana saja. KARENA ORANG-ORANG ITU BELUM KELAR SAMA DIRINYA SENDIRI.

Gak kelar sama dirinya sendiri.

Itu gak ada hubungan sama pangkat atawa jabatan. Apalagi harta. Itu soal mentalitas, soal cara pikir. Soal orang-orang yang "sangat mampu" menunjuk orang lain sebagai biang kerok. Tapi "gagal" menunjuk dirinya sendiri. Maka wajar, merasa orang-orang di luar sana dianggap musuhnya, menganggap lawannya. Karena dia "gak kelar dengan dirinya sendiri".

Orang itu kalo belum kelar dengan dirinya sendiri. Sudah pasti, pikirannya jelek. Orang lain dianggap sebagai musuhnya. Pesimis lalu skeptis. Karena mereka "tidak sedang berpijak di bumi". Tapi mereka sedang "hidup dalam mimpi dan harapan mereka". Konsekuensinya, masalah kecil dianggap besar. Masalah diri sendiri dianggap masalah akibat orang lain. Selalu dan selalu "gak kelar dengan dirinya sendiri"....

Jadi, orang yang gak kelar dengan diri sendiri. Boro-boro berbuat untuk bermanfaat bagi orang lain. Untuk dirinya sendiri saja, gak kelar-kelar. Merundung lalu nestapa... Seolah apa yang dia alami, itu terjadi akibat perbuatan orang lain. Sebut saja, orang-orang yang gak kelar dengan dirinya sendiri. Hanya bisa bermentalitas "korban".

Beda tentu. Dengan orang-orang yang sudah kelar dengan dirinya sendiri. ORANG-ORANG YANG SUDAH SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI. Pikiran dan tindakan hanya difokuskan pada visi yang lebih besar. Buru-buru mencari solusi dari tiap masalah yang ada. Bukan meratapi masalah. Apalagi menghindar atawa berdoa biar gak punya masalah.... Sungguh itu hanya omong kosong.

Maka, buatlah kita selesai dengan diri sendiri. Agar tidak lagi bicara "aku" tapi "kita". Agar bisa punya "ruang gerak" untuk memberi manfaat bagi orang lain, maslahat untuk orang lain di sekitar kita. Kenapa kita mau memikirkan orang lain, orang banyak? Pastinya, karena kita sudah kelar dengan diri sendiri.

Mereka sudah kelar dengan diri sendiri. Maka mereka berpikir dan mencari cara untuk bertindak untuk:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN