Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis - Dosen

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK - Konsultan di DSS Consulting sekaligus Edukator Dana Pensiun. Kandidat Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak. Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang)), Wakil Ketua IKA FBS UNJ (2017-sekarang), Wasekjen IKA UNJ (2017-2020). Penulis dan Editor dari 31 buku dan buku JURNALISTIK TERAPAN; Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen "Surti Bukan Perempuan Metropolis" sudah dicetak ulang. Sebagai Pendiri dan Kepala Program Taman Bcaaan Lentera Pustaka di Kaki Gn. Salak Bogor. Education Specialist GEMA DIDAKTIKA dan Pengelola Komunitas Peduli Yatim Caraka Muda YAJFA. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ketika Puisi Memeluk Langit Malam (Aksi Bela Kata HUT Komunitas Ranggon Sastra)

24 Maret 2017   07:18 Diperbarui: 24 Maret 2017   08:28 1525 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Puisi Memeluk Langit Malam (Aksi Bela Kata HUT Komunitas Ranggon Sastra)
Dok.pribadi

Anggora, biarkan saja puisi melecut di tubuhmu

Membalut rindu hingga ke bahumu, menyetubuhi rindu semalam

Memekik kata  tuk sinari langkahmu

Teruslah berjalan, teruslah melangkah

Karena aku tahu, kamu pun tahu.

Bahwa kita ada sampai memeluk langit malam


Ketika puisi memeluk langit malam

Suasana itu, kental menyelimuti acara AKSI BELA KATA dalam rangka peringatan HUT Ke-8 Komunitas Ranggon Sastra (KRS) Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Pada Rabu, 22 Maret 2017 Pukul 15.00 s.d. 21.00 WIB di Pelataran Kampus A Unindra Tanjung Barat. Bertajuk “Aku dan Kamu tapi Jarang Sekali Kita”, KRS menggelar hajatan puisi; mulai dari Pembacaan Puisi, Musikalisasi Puisi, dan Teaterikal Puisi. Suguhan penuh makna dari para anggota KRS dan civitas akademika Unindra, terlebih lagi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unindra.

Ketika puisi memeluk langit malam.

Karena sudah tidak banyak lagi. Orang-orang di luar sana yang sudi “memeluk langit” apalagi di malam hari. Hari ini mungkin sampai esok, mereka lebih senang “menggapai langit”, meraih langit bahkan hendak menguasai langit. Dari subuh hingga siang bolong, melewati sore hingga menyusuri malam; segala waktu terpakai untuk “menaklukkan langit”. Langit tak lagi menjadi anugerah Tuhan, langit tak lagi menjadi teman. Karena KITA sudah jarang “memeluk langit”. Egois, terlalu dipenuhi rasa AKU dan KAMU.

Entah sampai kapan, aku dan kamu tak mau lagi bercumbu dengan langit; sambil memeluknya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN