Syareef Uddin
Syareef Uddin wiraswasta

Aku bisa menangis sedih hanya karena membaca. Aku bisa tersenyum hanya dengan membaca. dan aku bisa tertawa terbahak-bahak hanya dengan membaca. Dan aku jadi tahu alasan kenapa wahyu yang pertama diturunkan pada Nabi muhammad SAW adalah perintah untuk membaca.

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

Tentang Menunggu

28 Juli 2012   14:59 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:30 1236 1 0
"Kejenuhan menunggu bukan disebabkan karena menunggu itu sendiri, melainkan kita tidak bisa mengarahkan pikiran kita untuk mengisi waktu dalam menunggu itu sendiri"
Menunggu adalah hal yang paling menjenuhkan, membosankan, setidaknya itulah yang sering orang katakan. Disaat mereka menunggu berjam-jam, berhari-hari maupun berminggu-minggu. Bahkan meskipun  hal yang mereka tunggu adalah sebuah hal yang membahagiakan. Namun fase menunggu ini adalah fase yang membosankan. Meskipun hal yang di tunggu adalah hal atau sesuatu yang membuat hatinya bahagia.
Seperti halnya kita menunggu pacar kita saat kita mau menjemput pulang kerja atau pulang sekolah. Dan pada dasarnya, bagi saya bukan hal menungguny, yang membuat kita jenuh, bosan ataupun BeTe. Melainkan karena dalam fase menunggu kita tak bisa mengalihkan pikiran atau menyibukkan diri kita untuk menyibukan sesuatu dalam hal menghabiskan waktu untuk menunggu.Karena menurut hemat saya, yang membosankan adalah bukan "menunggunya" tapi karena kita tidak bisa mengisi ataupun menyibukan diri kita dalam mengisi waktu luang tersebut. Bukankah pengangguran, atau lebih tepatnya menganggur itu adalah hal yang membosankan. Meskipun dalam status menganggur itu tidak sedang menunggu sesuatu. Karena ketika waktu berjalan dan dalam perjalanan waktu itu kita tidak bisa menyibukan diri kita dengan hal apapun, maka setiap detik waktu yang berputar adalah sangat menjenuhkan, membosankan.
Hal ini pernah saya coba dengan teman saya waktu saya lagi menunggu sebuah kabar. Iya, kabar yang tentunya gembira, semisal menunggu transferan dari seseorang.
Padahal kabar tersebut yang belum tentu pastinya. Artinya saya lagi menunggu sesuatu yang belum pasti. Tidak seperti waktu kita lagi menunggu taksi, atau menunggu kereta berangkat. Atau sedang menunggu pacar kita selesai kuliah yang jelas kapan waktunya akan selalsai dan tibalah waktu itu. Taksi datang, kereta berjalan, ataupun pacar kita yang selesai kuliah meskipun waktunya sedikit mulur tapi setidaknya kepastian akan datangnya sesuatu yang ditunnggu itu tiba.
Tapi lain dengan sesuatu hal yang aku tunggu waktu itu. Dimana teman diluar kota pernah meminjam uang pada saya dan hari itu dia berjanji akan mentransfer uang tersebut.  Nah dalam waktu aya menunggu tem,an saya tetrsebut sekiditpun tidak ada kepastian apakah jam 11.00 siang dia akan mentransfer uang tersebut, karena berbagai kemungkinan akan terjadi, mungkin karena teman saya ingkar, hanya berjanji agar say tidak bolak balik telpon dia, mungkin juga teman saya sebenarnya tidak punya duit, atau hala-hal lain dan kemungkinan-kemungkinan lain yang menyebabkan tidak sampainya sesuatu yang aku tunggu tersebut.
Dan ternyata benarn setelah enam jam saya tunggu, ternyata ketika jam 14.00 saya coba telpon, teman saya tidak bisa mentransfer uang pada hari itu karena saudaranya yang di kota tempat tinggalnya sedang di rawat di rumah sakit, terkait benar atau tidaknya wallahu 'a'lam. Yang jelas waktu sehari itu yang aku tunggu tersebut tidak menghasilkan kabar sesuai yang aku tunggu.
Dan kita bisa bayangkan, kalau seandainya saya tidak mencoba untuk mengisi waktu tersebut dengan hal-hal yang menyibukkan diri saya untuk mengisi putaran wakttu dalam fase menunggu kabar tersebut, sudah barang tentu saya akanm marah besar bahkan  saya bisa saja menghujat teman saya yang terkesan "ngerjain" saya. Meskipun pada dasarnya saya tetap kecewa. Namun kekecewaan tersebut tidak sebesar kalau saya menunggu dengan menghabiskan waktu tanpa sesuatu hal yang bisa saya kerjakan. Karena dalam hemat saya, kekecewaan tersebut bukan karena tidak terealisasinya sebuah janji. Melainkan karena kesalnya dalam hal menunggu.