Mohon tunggu...
M Syarbani Haira
M Syarbani Haira Mohon Tunggu... Jurnalis - Berkarya untuk Bangsa

Pekerja sosial, pernah nyantri di UGM, peneliti demografi dan lingkungan, ngabdi di Universitas NU Kal-Sel

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Kopi "Ndeso" Menjadi Sang Pemersatu

6 Oktober 2019   21:46 Diperbarui: 8 Oktober 2019   11:21 146
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Warung Rakyat di Gambut Baharat, Kopi Hitam, Kopi Susu, dan Wadai Banua Khas Banjar (foto : SH)

Dalam tradisi warga pedalaman Kalimantan, pasar hanya berlangsung sekali dalam seminggu. Maka itu terkenal sekali ada Pasar Ahad untuk hari Minggu. Ada Pasar Sanayan buat hari Senin. Pasar Salasa untuk hari Selasa. Pasar Aruba buat hari Rabu. Pasar Kamis untuk hari Kamis. Pasar Jumahat untuk hari Jumat, dan Pasar Sabtu untuk hari Sabtu.

Kopi Manis

Mayoritas masyarakat Banjar jika minum kopi selalu berasa manis, dan panas. Bagi mereka yang pernah mempelajari ilmu kesehatan masyarakat, bisa jadi muncul kengerian jika melihat orang-orang tua di bumi Kalimantan jika sedang minum kopi. 

Bagaimana tidak, karena takaran gula pasirnya kadang sampai seperempat dari gelas yang ada. 

Itu artinya kadar gula yang masuk ke dalam tubuh tinggi sekali. Belum lagi jika mereka makan nasi dengan takaran yang banyak, yang secara guyonan mereka sebut "lindung kucing baduduk" ('maksudnya sepiring nasi bisa melindungi seekor kucing yang tengah duduk). Ini saking banyaknya.

Bukankah kandungan gula pada nasi putih justru lebih tinggi. Jika dibarengkan minum teh atau kopi dengan rasa yang manis pula, karena pakai gula, maka lengkaplah sudah inflasi kadar gula yang masuk ke dalam tubuh. 

Nyatanya orang-orang tua Banjar tempoe doeloe sehat wal-afiat. Tak banyak ditemukan penyakit degeneratif, seperti sekarang. Kenapa? Karena mereka pekerja keras, dimana keringat yang keluar sangat banyak. Artinya, proses pembakaran sangat normal. Energi yang masuk dengan yang keluar seimbang.

Zaman berganti, anak melineal pun ikutan minum kopi, tetapi  di cafe modern. Karena bukan pekerja keras, maka keringat yang keluar sedikit sekali. Mereka bahkan rutin bergadang bisa sampai pagi. Karena itu kelompok ini rawan diserbu penyakit. 

Apalagi ada di antara mereka yang terkontaminasi obat-obatan terlarang. Tentu kesehatannya bisa memburuk, dan usianya pun tak panjang-panjang amat.

Kendati demikian, melalui kopi jalinan persahabatan terpelihara dengan baik.  Kopi telah menjadi pemersatu ummat. Untuk itu, penggemar kopi perlu strategi yang bagus, agar kesehatannya tetap surprise. Misalnya, jumlah kopi yang diminum cukup 3 gelas sehari. Ideal sekali cuma 2 gelas, dan tanpa gula. 

Saya pernah masuk rumah sakit karena ngopi sampai 7 gelas sehari. Saya terpengaruh seorang sahabat sesama penggemar kopi, dosen Fakultas Kedokteran UI. Katanya limit maksimal bisa 7 gelas. Kini saya ngopi paling banyak 2 gelas sehari, dan tanpa gula. Analisis sementara, model ini lebih sehat.

Minum kopi idealnya bukan kopi kemasan siap saji. Minumlah kopi asli produksi rakyat, dan tanpa gula. Jika ini yang dilakukan, maka manfaat ngopi jadi berlipat ganda berkahnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun