Mohon tunggu...
Syantrie Aliefya
Syantrie Aliefya Mohon Tunggu... Administrasi - Wiraswasta

Penggemar Puisi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bahagia, Sesuatu yang Mudah Diucapkan Tetapi Sulit Dilakukan

17 September 2016   02:48 Diperbarui: 17 September 2016   03:47 515
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Illustrasi: www.ngopy.com

Betapa bahagianya seseorang jika telah meraih apa yang diidam-idamkannya, diperjuangkan habis-habisan, juga mengorbankan harta, waktu dan kesempatan. Tapi apakah hanya sebatas itu yang disebut bahagia? Berikut sekedar catatan tercecer saya tentang bahagia, mudah-mudahan ada hal bermanfaat yang dapat dipetik.

Bahagia Sebagai Pilihan

Bahagia adalah pilihan, keputusan yang lahir dari hati setiap manusia. Dicari, diperjuangkan dan dinikmati dalam kehidupan kita. Arti kebahagiaan bagi setiap orang memang tak selalu sama karena kebahagiaan sering dipersepsikan sebagai ketercapaian atas sesuatu yang kita inginkan, kesuksesan atau kesempurnaan. Sejatinya, tidak ada kesempurnaan yang bisa membuat kita bahagia, tetapi kebahagiaan membuat hidup kita terasa sempurna. 

Setiap harapan dan kenyataan sebenarnya bisa membuat kita bahagia karena diri kitalah yang bisa menentukan, menjadi sumber, dan merasakan kebahagiaan itu. Apakah makna bahagia yang sesungguhnya? Bagaimanakah cara kita untuk bahagia?

Bahagia bisa dimaknai sebagai menyatunya berbagai perasaan positif sehingga menumbuhkan ketentraman dan ketenangan hati, serta melahirkan kebermaknaan hidup. Kebahagiaan hakiki bukan sekedar mengejar mimpi, tapi memiliki mimpi bisa membuat kita termotivasi untuk bahagia. Kebahagiaan sejati tidak bersumber pada kesempurnaan materi karena materi hanya perantara dan sementara. 

Kebahagiaan itu terjadi jika kita benar-benar memahami hati, bersahabat dengan hati, mengikuti kata hati, dan menjadikannya energi untuk membuat keadaan dan kenyataan yang kita jalani lebih berarti. Kata hati tak pernah mendustai, menuntun kita kepada kejujuran memahami, mengasah kepekaan untuk merasakan, memberi dan berbagi dengan orang lain, tanpa kepura-puraan dan tanpa ditutup-tutupi.

Banyak cara yang dilakukan orang dengan tujuan dan alasan kebahagiaan. Dari eksploitasi fisik hingga eksplorasi pikiran. Berkutat dengan fakta dan logika, hingga semua hal sering dinilai dengan logis dan tak logis. Kata hati, begitu sering terlupakan dan terabaikan. Padahal, kata hati mampu menuntun kita ke jalan yang tepat. Jalan yang bisa membuat kita merasa bahagia. Meskipun barometer kebahagiaan bagi setiap orang bersifat relatif, kebahagiaan itu sederhana jika kita mau mengikuti kata hati. Diri dan cara kita menyikapi setiap keadaanlah yang sebenarnya sering membuat kebahagiaan itu sirna.

Mungkin kita pernah mengalami kondisi seperti ini?

Kita tidak bahagia karena kita terlalu banyak keinginan, sehingga kita tidak fokus berproses mencapai satu keinginan, tidak benar-benar memahami apa sebenarnya yang lebih kita butuhkan. Keinginan yang berlebihan adalah nafsu yang mencelakakan dan menimbulkan penyesalan.

Kita tidak bahagia karena kita seringkali berperang dengan diri, merasa tidak puas dengan keadaan dan tidak mampu menerima kenyataan hidup, sehingga kita larut dalam kekecewaan, menyalahkan bahkan mengkambinghitamkan orang lain, dan menyalahkan takdir

Kita tidak bahagia karena kita selalu melihat ke atas, terlalu sering membandingkan diri dengan orang yang lebih tinggi, sehingga selalu merasa kurang dan merasa tidak adil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun