Mohon tunggu...
Syaiful Rahman
Syaiful Rahman Mohon Tunggu... Mahasiswa - Pelajar

Saya suka membaca dan menulis. Namun, lebih suka rebahan sambil gabut dengan handphone.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Salah Diksi, "Kuliah Tidak Wajib" jadi Polemik

21 Mei 2024   10:26 Diperbarui: 21 Mei 2024   12:27 130
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: https://pixabay.com/illustrations/school-education-welcome-learn-8766573/

Dunia pendidikan memang topik yang selalu menarik untuk dibicarakan. Apalagi dunia pendidikan di Indonesia. Pasalnya, dunia pendidikan Indonesia masih diliputi banyak problem yang tak kunjung selesai. Mulai dari aspek kurikulum hingga biaya yang terus naik hingga sulit dijangkau masyarakat menengah ke bawah.

Banyak para ahli yang percaya bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk mengubah masa depan suatu bangsa. Pendidikan yang berkualitas akan sangat menentukan kualitas bangsa tersebut. Sebaliknya, apabila dunia pendidikannya anjlok maka jangan harap bangsa tersebut bisa maju di masa depan.

Pascajatuhnya bom atom di Herosima dan Nagasaki, pemerintah Jepang segera melakukan perbaikan. Perbaikan pertama dan utama yang dilakukan adalah perbaikan SDM, yakni pendidikan bangsanya. Alhasil, kita bisa menyaksikan bagaimana Jepang bisa pulih dengan cepat dan kembali menguasai dunia.

Kita juga telah banyak belajar kejayaan suatu bangsa sejak zaman dahulu. Tak ada kejayaan suatu bangsa yang tidak dipelopori oleh kemajuan pendidikannya terlebih dahulu. Oleh karena itu, negara-negara yang sadar betul akan pentingnya pendidikan tak akan pernah mengabaikan pentingnya pendidikan untuk bangsanya.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Sebelum melihat kondisi pendidikan saat ini, alangkah baiknya bila kita melihat ke zama dahulu. Yakni, bagaimana negara dan bangsa ini bisa bangkit dan menghapus penjajahan. Kita akan segera menemukan bahwa faktor utama kebangkitan bangsa Indonesia tidak lain kecuali dimulai dari pendidikan masyarakatnya.

Kala itu, ketika semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki pendidikan baik, mereka mulai sadar bahwa apa yang dialami Indonesia adalah bentuk penjajahan. Mereka pun mulai berusaha untuk melepaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah.

Masyarakat terdidik tidak ragu untuk menjadi pelopor perubahan. Mereka mulai membuka mata masyarakat bahwa Indonesia adalah negeri gemah ripah loh jinawi yang sedang diperkosa oleh para penjajah. Mereka pun tidak segan untuk mempelopori perlawanan agar Indonesia bisa mencapai kemerdekaan.

Sayangnya, semakin hari negara Indonesia seolah semakin abai terhadap pendidikan masyarakatnya. Dunia pendidikan tidak lagi menjadi perioritas pembangunan utama. Justru sebaliknya, dunia pendidikan dijadikan lahan basah untuk berpolitik dan mengeruk keuntungan semata.

Dunia pendidikan seolah dikomoditisasi sedemikian rupa sehingga dapat diperjualbelikan. Bahkan, sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya pernah mendengar pernyataan yang mengagetkan dari seorang pejabat pendidikan. Secara pribadi dia mengatakan kepada saya bahwa pendidikan adalah bisnis mulia.

Seiring perjalanan waktu, pernyataan itu tampaknya menemukan pembuktiannya. Seluruh perguruan tinggi didorong untuk menjadi perguruan tinggi berbadan hukum. Akibatnya, perguruan tinggi berlomba-lomba mencari cuan untuk membiayai dan memperkaya instansinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun