Mohon tunggu...
Syaiful Bahri
Syaiful Bahri Mohon Tunggu...

Syaiful Bahri, lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 11 Maret 1991. Kini tinggal di Surabaya dan berhimpun di komunitas ESOK. Sejumlah puisinya termaktub dalam antologi bersama, Teka-Teki tentang Tubuh dan Kematian (IBC, 2010), Antologi 100 Puisi Ibu (Satriowelang Publisher, 2011) dan Mengejar Matahari (2011).

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Kenapa Buku Puisi Jarang Menjadi Best Seller

2 Desember 2011   15:24 Diperbarui: 25 Juni 2015   22:55 518 1 5 Mohon Tunggu...

Tahun 2010 kemarin, saya mempunyai kesempatan menerbitkan beberapa puisi saya ke dalam antologi puisi bersama. Salah satunya adalah Teka-Teki Tentang Tubuh dan Kematian. Karena itu, saya mempunyai pengalaman bagaimana sulitnya menjual sebuah buku. Khususnya buku puisi. Dari sana saya belajar, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya cari jawabannya. Mendadak wartawan. Saya menanyai beberapa teman, baik nyata mau pun virtual. Yang virtual saya lakukan melalui chat facebook dan Yahoo Messanger. Dari sana saya menyimpulkan faktor yang menghambat buku puisi menjadi best seller. Perlu ditekankan terlebih dahulu, artikel ini saya buat menurut jawaban dari teman-teman saya. Berikut butir-butir penting yang bisa saya catat. Kebanyakan puisi menampilkan bahasa sulit. Sehingga pikiran masyarakat umum percuma membaca, karena tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan menggerakkan puisi mereka pun tidak. Saya menyukai puisi-puisi Joko Pinurbo, Pablo Neruda dan Robert Frost. Dari mereka saya belajar, bagaimana membuat puisi yang sederhana. Menjaga jarak, sambil memberikan peluang masyarakat memaknainya dengan mudah. Mungkin inilah yang perlu dipelajari oleh penyair pemula seperti saya. Terlihat ketika saya bandingkan dengan novel, yang memang bahasanya lebih mudah dimengerti. Sehingga peluang laku dan menjadi best seller lebih terbuka. Ketika ke toko buku, Anda tidak akan kesulitan mendapatkan novel best seller. Adanya sastra koran. Sehingga ekspektasi terhadap puisi terpenuhi di sana. Meski pun tidak seluruhnya. Setidak-tidaknya sastra koran mengurangi pangsa pasar buku puisi. Memang tidak hanya puisi yang ditampilkan di sastra koran. Ada juga cerpen, sehingga  mungkin juga berlaku padanya. Kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh sastra koran adalah keinginan untuk mengoleksi buku. Ini diakui salah satu teman saya. "Saya pecinta buku, ada banyak buku yang belum saya baca di rumah," Kata teman saya. Untuk mengataasi hal tersebut, jangan menerbitkan buku puisi yang sebagian besar isinya telah terbit di media cetak. Menurut saya itu penting, sebagai diferensiasi produk. Sebenarnya sulit mengungkapkan butir terakhir, karena hal itu menyakitkan bagi saya pribadi. dan mungkin bagi Anda. Dari 70 orang yang saya wawancarai, dengan asumsi mereka bukan orang sastra, mereka hampir rata berkata, "Beli buku puisi? Memang apa manfaatnya untuk saya?(*)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x