Mohon tunggu...
Syahrul Chelsky
Syahrul Chelsky Mohon Tunggu... Tokoh Fiksi

pencerita yang buruk, kadang menulis dan menerjemahkan puisi. tulisan lain di https://www.syahrulchelsky.blogspot.com dan https://medium.com/@syahrulchelsky

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

New Normal dan Herd Immunity, Gerbang Menuju "Perdamaian" dengan Corona?

27 Mei 2020   11:08 Diperbarui: 27 Mei 2020   11:17 136 36 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
New Normal dan Herd Immunity, Gerbang Menuju "Perdamaian" dengan Corona?
ilustrasi: m.ayojakarta.com

Pada dasarnya saya termasuk golongan orang yang lebih sering memendam keresahan saya terhadap kebijakan atau langkah-langkah yang diambil pemerintah, atau pun hal-hal hangat yang terjadi di waktu-waktu dekat. 

Kalaupun memang ingin mendiskusikannya, saya hanya akan berdiskusi dengan orang-orang tertentu yang saya meyakini mereka tidak akan melukai argumen saya karena beberapa waktu, saya memang memiliki "unpopular opinion" terhadap suatu peristiwa. Tapi untuk sekali ini, saya beranikan diri untuk menulis terkait dengan isu hangat yang tengah banyak direnungi.

Akhir-akhir ini, setelah Presiden Jokowi mengatakan bahwa kita harus berdamai dengan korona, kita mungkin kerap menemukan istilah "new normal" atau kenormalan baru atau kelaziman baru sebagai headline berita yang kita tonton atau kita baca.

Saya membayangkan arti berdamai yang beliau maksud barangkali seperti  let it be, atau ya udah, biarkan begini adanya, karena pada akhirnya kita akan dibuat hidup berdampingan dengan Korona selagi vaksin belum ditemukan.

Sadar atau tidak sadar, negara kita agaknya memang telanjur kagok dan tidak memiliki kesiapan untuk berperang melawan Korona. Ibarat lawan bertempur dengan tank, sementara kita hanya memegang pistol. Sehingga kata "berdamai" barangkali menjadi pilihan alternatif yang bisa diadopsi pemerintah.

Sangat wajar jika Indonesia tidak sanggup menerapkan lockdown, PSBB, atau menjamin kesejahteraan rakyatnya. Juga sangat wajar bila rumah sakit kewalahan. Karena memang sejak awal kita kekurangan infrastruktur juga alat kesehatan, serta SDM kita yang belum terlalu difokuskan untuk menjadi prioritas.

Seiring dengan lahirnya istilah new normal, belakangan istilah "herd immunity" juga menyerbak. Herd immunity atau "kekebalan kelompok" disebut sebagai salah satu langkah untuk mengakhiri pandemi Korona.

Konsep herd immunity sendiri sudah diterapkan di beberapa negara, termasuk Swedia, yang menurut berita, saat ini kematian di negara tersebut karena Korona adalah yang tertinggi di Eropa Utara.

Merujuk pada wikipedia, "Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah suatu bentuk perlindungan secara tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui infeksi sebelumnya atau vaksinasi, sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi."

Dalam kasus ini, ringkasnya, semakin banyak orang yang terinfeksi dan sembuh, semakin banyak juga orang yang kebal hingga herd immunity pun terbentuk.

Apakah secara perlahan negara kita juga akan menerapkan sistem herd immunity ini? Entahlah. Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Mungkin dengan protokol yang berbeda. Mungkin dengan nama atau istilah yang juga berbeda (seperti mudik dan pulang kampung) untuk mengurangi gejolak di benak rakyat.

Secara sederhananya—pasrah? Mungkin bisa disebut seperti itu. Mungkin kita harus menerima nasib. Kita akan membiarkan Korona menyebar, namun di saat yang sama, kita juga tetap berada di dalam trek untuk menangani komplikasinya bersama amunisi yang tersedia.

Dalam penerapannya sendiri, kita akan dibuat—atau lebih tepatnya dipaksa— terbiasa untuk hidup normal di tengah ketidaknormalan. Pusat perbelanjaan akan dibuka secara bertahap, tempat hiburan akan dibuka secara perlahan, kantor-kantor, perusahaan dan lain sebagainya dengan prosedur-prosedur yang tentunya (dan semoga) sudah dipertimbangkan.

"Tidak ada cinta tanpa pengorbanan", sebut saja begitu. Sebagai perbandingan, secara global, Korona membunuh setidaknya 5-6 jiwa dari 100 orang yang menderitanya. Jumlah penduduk Indonesia saat ini berkisar 250 juta, dan jika kita berasumsi akan ada 50 juta orang (semoga saja tidak) yang positif untuk membentuk herd immunity, maka seminim-minimnya akan ada 5% atau 2.500.000 jiwa dari kita yang positif akan gugur.

Mungkin itu saya, mungkin itu kamu, atau siapa saja. Perjalanan masih sangat panjang. Mari tautkan hati untuk saling menguatkan. Mari berdoa untuk masing-masing keselamatan. Mari sama-sama jaga kesehatan dan kebersihan.

Sesungguhnya segala kesembuhan dan keselamatan ada pada-NYA.

Jaga diri baik-baik. Saya sayang kamu. Emmuaah.

Referensi:

1. Berdamai dengan Corona, Presiden Isyaratkan Konsep Herd Immunity

2. Herd Immunity, Benarkah Bisa Menekan Penyebaran COVID-19?

3. Tipis! Tingkat Kematian Corona RI 6,93 Persen, Makin Dekati Angka Global

4. Pembangunan Infrastruktur Kesehatan Jadi PR Pemerintah

5. Herd Immunity Tak Mempan? Kematian di Swedia Tertinggi Se-Eropa Utara

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x