Mohon tunggu...
Syahrul Chelsky
Syahrul Chelsky Mohon Tunggu... Tokoh Fiksi

absurd. penulis puisi picisan. blog pribadi https://www.syahrulchelsky.com | https://medium.com/@syahrulchelsky

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

[PCB] | Permintaan Maaf

23 Januari 2020   14:52 Diperbarui: 23 Januari 2020   15:15 257 36 12 Mohon Tunggu...
[PCB] | Permintaan Maaf
instagram.com/kulturtava

#ProyekCerbung

[2]

Cerita sebelumnya

Di tengah perasaan terkejut dan sedikit tidak percaya, Ratih dengan reflek membalik tubuh, bermaksud menuju pintu ruangan tengah dan berjalan semampunya menuju pintu luar.

Namun memandang wajah malaikat anaknya yang tengah berada dalam gendongan Bik Inah membuatnya tertahan sebentar.

"Ada apa Nyonya?" tanya Bik Inah.

"Aku keluar sebentar tidak apa kan, Bi?"

"Nyonya mau ke mana? Harinya sedang mendung. Nanti Nyonya kehujanan."

"Aku hanya ingin menikmati udara pagi untuk menjernihkan pikiranku. Aku tidak akan jauh. Aku tidak akan lama."

"Baik, Nyonya."

Ratih kembali mencuri pandang ke arah pagar. Dia melihat lelaki itu masih berdiri di balik sana dengan cukup tabah. Dengan gaya berjalan yang sedikit tertatih dia menuju pintu depan, membukanya agak perlahan.

Ada kekhawatiran di dalam benaknya jika saja ada tetangga yang melihat kedatangan seorang laki-laki asing di depan rumahnya. Meski memang jarak antara rumah Ratih dengan tetangga sekitar cukup berjauhan. Tapi tetap saja dia tidak ingin ada desas-desus kurang sedap yang sampai ke telinga suaminya.

Ratih memutar kepalanya untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihat ketika dia sedang berbicara dengan laki-laki itu. Dia berjalan dengan lamban, menghampiri Rusli yang nampak tersenyum, namun seolah dilapisi oleh kebohongan.

"Kamu? Apa yang kamu... aku tidak akan membukakan pagar ini untukmu," Ratih membuka suara dengan agak sesak. Matanya sedikit memerah.

"Aku tidak akan memintamu untuk menerimaku sebagai tamu di rumahmu." Rusli tersenyum. "Suamimu ada di rumah?"

Ratih menggeleng.

"Tentu. Pertanyaan itu hanya basa-basi untuk mencairkan suasana yang beku ini," terang Rusli. "Beberapa saat yang lalu aku melihat suamimu keluar."

"Untuk apa kamu datang ke sini?" suara Ratih agak meninggi, namun semakin terdengar ada sesuatu yang tengah dia tahan untuk tidak tumpah.

Rusli mengembuskan nafas lebih kencang.
"Aku dengar kamu sudah melahirkan dua bulan yang lalu."

"Lalu?"

"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."

"Aku baik..." suara Ratih terhenti. "Baik saja. Aku baik-baik saja."

"Kamu menangis. Itu berarti sebagai hal yang lain. Kamu tidak akan pernah bisa membohongiku."

Rusli memasukkan tangannya ke sela-sela jeruji pagar. Mendekatkan jemarinya ke pipi Ratih yang nampak berair dan segar. Namun dengan sigap ratih menghindar.

"Maafkan aku," ucap Rusli menunduk.

"Kamu tahu, kita selalu memiliki pilihan. Sejak awal sudah kukatakan padamu, bukan?"

Rusli hanya menunduk. "Kamu benar."

"Juna. Dialah pilihanku sekarang setelah kamu tidak pernah berani untuk menjadikanku sebagai tujuan. Bahkan selagi kamu memiliki kesempatan untuk melakukannya."

Rusli mengangkat kepalanya.

"Aku mohon jangan menangis di hadapanku."

"Tidak. Aku tidak..." Ratih menghentikan suaranya sejenak. "Lalu apa yang kamu dapatkan sekarang?" tanya Ratih seraya menyapu matanya dengan ujung jilbab.

"Tidak ada, selain kesepian. Orangtuamu memang benar. Aku tidak memiliki bakat untuk menjadi kaya."

Rusli agak tersenyum. Dipandanginya Ratih dengan lebih dalam. Ratih merespon. Memandang Rusli cukup lama sebelum memalingkan matanya ke arah bunga anggrek di sebelahnya.

"Katakan kalau kamu bahagia."

"Untuk apa?"

"Atau aku akan menyesal selamanya."

"Kamu tidak akan mengerti apa yang sudah aku alami sejak kamu pergi. Kamu tidak akan mengerti apa-apa saja yang sudah aku lewati di awal-awal pernikahan kami."

"Katakan bahwa kamu bahagia," kata Rusli sedikit lebih keras. Dipegangnya kedua bahu Ratih.

Ratih menatap Rusli, lalu segera menepis kedua belah tangannya yang menembus jeruji pagar besi. Dia mundur secara perlahan.

"Pulanglah. Aku baik-baik saja," jelas Ratih.
Dia berjalan mundur dengan tatapan yang sesekali masih dilayangkannya kepada Rusli.

"Aku masih akan mengawasimu. Untuk saat ini, tidak ada hal yang lebih menenangkan selain bisa menjagamu dari jauh, untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Bahwa kamu bahagia." Rusli tidak memalingkan sedikitpun wajahnya dari punggung Ratih yang kini telah sepenuhnya menjauh dan berpaling. Kemudian hilang di balik pintu. "Maafkan aku."

Tak lama setelah itu rintik hujan mulai turun, membasahi bagian bahu dari kemejanya.

Bersambung..

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x