Mohon tunggu...
Syahrul Chelsky
Syahrul Chelsky Mohon Tunggu... Tokoh Fiksi

Orang Absurd. https://www.syahrulchelsky.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kaktus, Ikan Cupang, dan Hal-hal Lain untuk Diceritakan

22 Agustus 2019   05:30 Diperbarui: 22 Agustus 2019   05:36 0 38 14 Mohon Tunggu...
Cerpen | Kaktus, Ikan Cupang, dan Hal-hal Lain untuk Diceritakan
infoikan.com

Pagi saya belakangan kerap dibangunkan oleh suara omelan ibu saya, ketimbang kemauan saya untuk bangun sendiri. Ini berkaitan dengan berbagai peristiwa buruk yang saya alami beberapa bulan ini, kemalangan saya, serta hal-hal lain yang di mata beliau adalah kesalahan. Tentu semua ini membuat saya tidak pernah bisa tertidur nyenyak lagi.

Kehampaan dalam hidup ini, saat saya membuka mata, ketika saya sarapan dengan sepiring nasi dan telur dadar, atau sewaktu saya mengingat bahwa mungkin saya akan menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia lagi. Mungkin saya masih akan menunggu perempuan itu.

Seusai dipecat dari toko sepatu, saya sudah tidak bekerja lagi. Waktu saya banyak di tempat tidur meskipun saya tidak mengantuk sama sekali. Saya juga mulai terbiasa menyaksikan acara-acara televisi yang sering menayangkan film-film romantis murahan yang sebenarnya tidak pernah ingin saya tonton. Namun akhirnya tetap saya tonton juga. Setiap hari.

Saya sudah mulai hafal dengan semua jadwal keresahan ini; ibu saya akan muncul, marah-marah. Sebulan belakangan ini, setelah puas memarahi saya yang sedang menonton film televisi romantis murahan, ibu saya rutin memberi wejangan. Saya tahu, pada dasarnya ibu saya adalah orang baik. Buktinya beliau selalu memasakkan saya telur dadar. Juga kadang-kadang membantu saya untuk mencari pekerjaan baru.

***

Setelah bangun pagi hari ini, saya tidak bergegas mandi. Saya melamun cukup lama di depan jendela, menatap ke arah luar, ke arah gunung yang jauh, ke arah pepohonan atau tumbuhan lain.

Hal ini terkadang membuat saya sedikit teringat pada anak kaktus yang pernah perempuan itu berikan kepada saya. Sudah hampir enam bulan yang lalu. Masih segar dalam ingatan. Dua menit sebelum dia berangkat dan lenyap di jalur rel kereta yang berkarat.

Itu terjadi setelah kami bertengkar cukup hebat, hingga kemudian dia mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan menjaga toko sepatu yang sama dengan saya. Kata temannya, dia pulang ke kampung halaman karena kakeknya sedang sakit parah. Namun saya jadi ragu. Apalagi ketika dia tidak menjawab saat saya bertanya apakah dia akan kembali.

Sesaat setelah saya bertanya, sebelum dia masuk ke dalam kereta dan pergi, dia hanya mengeluarkan anak kaktus dari dalam tasnya, kemudian menyerahkannya kepada saya.

"Saya akan kembali, dan saya akan belajar untuk menerimamu lagi apabila kaktus ini dapat tumbuh dan hidup lama."

Saya ingat betul dengan kalimat terakhir yang dia ucapkan itu. Sedang saya hanya mengangguk. Tidak dapat berbuat banyak.

Selepas kepergiannya, saya benar-benar merawat kaktus itu dengan sepenuh hati. Saya jaga dan besarkan dia seperti anak sendiri. Tentu saya tidak ingin kaktus itu mati.

Satu minggu, satu bulan, saya hidup dengan kaktus itu. Memberinya pupuk, menyiramnya dengan air. Kadang saya membawanya ke dalam kamar tidur, kadang saya bersamanya di dalam kamar mandi. Saya juga pernah beberapa kali membawanya ke tempat kerja --ke toko sepatu-- hingga membuat pemilik toko sepatu tempat saya bekerja, yang juga punya kumis model pyramidal itu menjadi bingung.

Begitu juga dengan ibu saya yang geleng-geleng kepala sewaktu melihat saya yang teramat obsesi dengan kaktus itu.

Memasuki bulan kedua, anak kaktus itu tumbuh lebih besar. Duri-durinya juga semakin banyak. Saya sempat bersemangat. Namun tidak lama. Karena di bulan ketiga --entah kenapa-- kaktus itu perlahan layu. Dan beberapa hari setelahnya kaktus itu akhirnya mati.

Hari-hari berikutnya saya merasa sangat kehilangan kaktus itu. Atau mungkin, sebenarnya saya hanya takut apabila perempuan itu tidak akan pernah kembali dan mau mencintai saya lagi.

Saya tidak masuk bekerja selama tiga hari tanpa alasan. Hingga akhirnya saya dipecat.

Semuanya lebih sering berakhir seperti ini, saya pandai membiarkan pergi apa-apa yang saya miliki: kekasih, kaktus, pekerjaan, dan hal-hal lain yang tak bisa saya ceritakan.

"Kamu kenapa?" tanya ibu saya ketika melihat saya yang jadi sering murung sejak kematian kaktus itu.

"Tak apa," jawab saya.

Ibu saya pernah membelikan saya anak kaktus yang baru di pasar. Menentengnya dengan kantung plastik di tangan. Sebagai pengganti kaktus saya yang mati, begitu kata beliau.

"Ini," ucap ibu menyerahkan kantung plastik berisi anak kaktus itu saat saya sedang duduk di kursi sambil menonton film televisi romantis murahan.

"Bu, ini bukan sekadar masalah kaktus..." perkataan saya terhenti.

Ibu saya menunggu kalimat berikutnya, namun saya urung untuk meneruskan.

Saya menghela nafas.

"Terima kasih," ucap saya lagi.

Ibu saya nampak terlihat lega. Mengangguk.

"Sekarang carilah kerjaan baru," kata beliau sesudahnya. Rautnya berubah, suaranya naik dua oktaf.

Kaktus yang dibeli ibu saya letakkan di teras. Tidak pernah saya beri pupuk. Tidak pernah saya siram.

***

Di hari-hari berikutnya, saat saya masih juga murung. Saat saya masih juga belum bekerja. Saat saya masih juga belum menghirup udara segar di luar rumah, kemarahan ibu saya memuncak. Suaranya nyaring betul. Matanya merah dan melotot penuh ke arah saya. Sementara saya hanya menunduk saja.

Selesainya beliau marah, barulah saya dengan terpaksa menuruti kemauannya. Ya, saya keluar rumah pada akhirnya. Setelah berbulan-bulan.

Saya turun dari beranda menuju jalan setapak di depan teras. Ibu saya berdiri di dekat pintu dengan wajah merah marah.

"Cari kerja sana! Cari kehidupan!" teriaknya sambil menendang kaktus yang beberapa hari lalu dibelinya.

Saya tahu, kemarahan ibu tidak akan bertahan lama. Namun saya belum pernah melihat beliau semurka itu kepada saya.

Dengan berbekal selembar baju kaos di badan, celana bola berlogo klub kesayangan, serta uang dua puluh ribuan, saya berjalan tanpa tujuan. Saya tidak tahu akan melangkah ke mana.

Sempat ada di pikiran saya untuk singgah makan di warung bakso langganan di pertigaan, kemudian bertanya jika barangkali ada lowongan. Entahlah. Tapi saya tidak lapar. Ditambah, hanya itu uang yang saya miliki.

Kemudian sewaktu berjalan terus agaknya bermaksud menuju kedai bakso di pertigaan itu, saya dipanggil oleh penjual ikan hias di pinggir jalan.

"Ikannya, Pak."

Saya menoleh.

"Saya belum punya anak," jawab saya ketus.

"O, maaf, Pak."

Saya mengernyitkan dahi saya sambil mengeluarkan tatapan membunuh kepada penjual ikan itu.

Sejenak otak saya memutar ingatan tentang sebuah artikel di internet yang pernah saya baca. Mengenai manfaat memelihara ikan hias bagi kesehatan. Pada artikel itu, dikatakan bahwa memelihara ikan hias dapat mengurangi tingkat stres, serta dapat juga dijadikan sebagai terapi untuk menyehatkan jantung.

Sebenarnya saya tidak terlalu yakin pada hal tersebut. Tapi waktu itu, saya kira tidak ada salahnya untuk mencoba. Toh, saya benar-benar sedang merasa stres. Atau tanpa saya sadari, saya mungkin saja memiliki penyakit jantung.

Saya memalingkan penuh wajah dan tubuh menghadap penjual ikan itu, berjalan mendekati barang dagangan yang berjejer sepanjang sekurang-kurangnya lima buah akuarium.

"Ini berapa?" tanya saya menunjuk sebuah akuarium yang di dalamnya terdapat ikan berjidat jenong.

"Itu louhan. Harganya empat ratus lima puluh ribu."

"Mahal betul."

Saya beralih menunjuk akuarium yang lain.

"Kalau yang kecil ini?"

"Ini anakan arwana. Tujuh puluh lima ribu saja," jelas dia. "Kalau ini yang sudah besar. Lima ratus ribu," terang dia lagi sembari memonyongkan dan mengarahkan bibirnya ke akuarium yang lain.

Saya berdecak-decak.

"Tidak ada yang murah?"

"Uang Bapak berapa?"

"Dua puluh ribu."

Penjual ikan itu mengeluarkan toples kaca yang terbilang besar beserta ikan-ikan kecil yang berenang di dalamnya.

"Ini satunya hanya lima belas ribu."

"Itu ikan apa?"

"Anakan cupang."

"Saya beli yang itu."

"Bapak ada kantong plastik?"

"Tidak ada. Kenapa?"

"Saya juga tidak ada. Kebetulan habis karena ikan-ikan saya sejam lalu diborong anak-anak."

"Lalu?"

"Saya hanya ada toples plastik. Tapi Bapak harus tambah lima ribu. Jadi totalnya dua puluh ribu."

Saya merogoh saku yang menempel di celana klub bola kesayangan saya. Hanya ada selembar uang kertas berwarna hijau.

"Ini," kata saya menyerahkan uang tersebut.

"Nah, seharusnya ada uang tambahan untuk harga air di dalam toples ini..."

"Lho..." saya memotong.

"Tapi..." ucap penjual ikan itu menyela agak keras, "berhubung hari ini saya bahagia, jadi air ini saya berikan pada Bapak secara gratis.

Saya hanya menatap dia heran.

"Ini, Pak. Silakan dibawa pulang."

Saya mengambil toples ikan dari tangannya dengan sigap. Berjalan beberapa meter sebelum berhenti dan memilih beristirahat di bawah pohon damar.

Saya pandangi lekat-lekat ikan itu. Dan sedikitnya perasaan saya yang semula berkecamuk jadi agak berkurang. Semuanya terasa mengalir. Perasaan saya jadi lebih tenang saat melihat anak ikan cupang itu berenang.

Saya pikir saya mulai bisa menyayangi ikan cupang itu. Setidaknya saya bisa merawatnya sampai besar. Sampai seseorang yang sudah meninggalkan saya kembali. Agar saya tidak merasa kesepian lagi.

***

Sore luruh, matahari perlahan beringsut membentuk jingga yang tidak asing. Saya pulang ke rumah. Ibu menunggu di teras.

"Dari mana saja? Sudah dapat kerja lagi?" tatapannya masih sedikit berkobar.

"Tidak," jawab saya.

"Apa yang kau bawa?"

"Anak ikan cupang."

"Untuk apa?"

"Untuk saya rawat."

"Masuk. Lekas mandi. Belikan beras dan telur di warung."

Saya mengangguk.

Dua minggu kemudian, saya masih harus menelan pahitnya kenyataan. Ikan cupang saya mati karena saya lupa mengganti air di dalam toples plastik tersebut. Dan lebih parah lagi, orang yang saya tunggu belum juga kembali.

Ternyata semuanya memang lebih sering berakhir seperti ini. Saya tidak pandai dalam menjaga apa yang saya miliki: kekasih, kaktus, pekerjaan, ikan cupang, dan hal-hal lain yang sebaiknya memang tidak usah saya ceritakan.


KONTEN MENARIK LAINNYA
x