Mohon tunggu...
Syahrul Chelsky
Syahrul Chelsky Mohon Tunggu... Tokoh Fiksi

Orang Absurd.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Kalani, Sebuah Nama dan Cerita

6 Juni 2019   19:54 Diperbarui: 7 Juni 2019   16:47 0 51 15 Mohon Tunggu...
Cerpen | Kalani, Sebuah Nama dan Cerita
Photo by: pxhere.com

KALANI, sebuah nama yang cantik dan pernah kubaca di beberapa cerita pendek bergenre roman yang ditulis oleh seseorang, juga pada film-film berseri yang kutonton di situs video. Bagiku, tokoh perempuan yang menempel dengan nama ini adalah dara kelahiran Medan, Echa Oemry yang selalu menawan dengan wajah mungilnya yang oval. Pada film yang dibintanginya itu Kalani datang ke sebuah barbershop dan meminta dicukur hingga botak. Ia sedang patah hati, lelakinya buaya.

Sejujurnya aku berencana ingin memberikan anakku nama Kalani jika kelak ia terlahir, atau setidaknya sampai aku menemukan seorang perempuan yang cocok untuk kujadikan sebagai ibunya. Yang mungil, berambut panjang, dengan wajah yang mirip Echa Oemry, barangkali. Ah sial!

Tapi aku jadi berpikir duakali untuk menamai anakku Kalani ketika suara hujan yang riuh dan membuatku mengantuk, tapi memaksaku tetap terjaga akibat deadline naskah cerita yang harus sudah selesai serta kukirim seminggu lagi, memaksaku menemukannya.

Menemukan seorang perempuan yang tiba-tiba jatuh seperti meteor, menembus atap rumah, dan tanpa rasa bersalah --karena sudah merusak atap rumahku-- ia malah memakan es krim rasa cokelat yang sengaja kusimpan di kulkas untuk keponakanku.  

Aku menjerit. Dia telanjang! Astaga! Karena saking kagetnya, aku sampai lupa mengintip bagian vitalnya. Sial! Hanya sampai pada bagian buah dadanya yang mungkin kenyal dan agak menonjol. Aku menutup mataku, tapi aku juga mendengar dia berteriak.

Tiba-tiba sesuatu yang dingin terasa menimpal kepalaku. Meleleh sampai ke dahi. Perempuan itu melempar es krim yang dia makan.

"Siapa kamu!!?" Dia berteriak.

"Kamu yang siapa!?" timpalku sembari perlahan melangkah mundur dari lubang persegi panjang pada sekat yang  memisah dapur dengan ruang tamu, dengan punggung tangan yang masih menutupi jarak pandangku darinya. Aku segera berlari ke kamar, mengambil baju dan celanaku dari dalam lemari pakaian.

Beberapa saat kemudian, aku kembali. "Pakai ini," ucapku, sambil melempar baju dan celana yang entah cocok untuk ukuran tubuhnya atau tidak. Aku bersembunyi.

"Sudah?" tanyaku.
"Sudah apanya?"
"Baju dan celana itu sudah kamu pakai?"
"Sudah."

Aku keluar dari balik dinding penyekat, menyibak tirai hijau toska yang agak transparan. Aku memerhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi kakinya tidak terlihat. Bajunya pas, celananya mungkin kebesaran, ujung kainnya menyentuh lantai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7