Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sufisme: Kesalehan Etik dan Militansi Politik

8 April 2019   14:55 Diperbarui: 8 April 2019   15:05 0 4 1 Mohon Tunggu...

Kegiatan Multaqa As Sufi Al Alamy (Konferensi Ulama Sufi Internasional) yang diadakan oleh Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) pada 08 -- 10 April 2019 di Pekalongan, Jawa Tengah, seperti memperkukuh sejarah lama soal pengaruh tarekat yang sukses "membumikan" Islam di Nusantara.

Tidak penting lagi soal perdebatan pihak mana yang secara meyakinkan menjadi penyebar Islam di Nusantara---sebagaimana tercatat adalah para pedagang Gujarat dari India Selatan, Persia, dan Arab---namun sepertinya terdapat "kesepakatan" bahwa Islam masuk dan tersebar ke Indonesia melalui cara-cara paling  akomodatif, diantaranya melalui jalur sufistik yang dibawa oleh para pedagang dari Barat (Maghribi) dan ulama-ulama lokal sepulang dari perjalanan ibadah haji.

Eksistensi Islam di Indonesia, tentu saja merasa berhutang budi atas menguatnya akar pengislaman melalui penyebaran ajaran sufi ini. Sehingga hampir tidak ada alasan apapun yang kemudian mengenyampingkan Islam Indonesia sebagai bentukan dari corak "mistisisme" yang sebelumnya telah mengurat akar dalam alam pikiran masyarakatnya.

Ajaran dan praktik sufisme yang diperkenalkan oleh para penyebar Islam di Nusantara, tentu saja lekat dengan spekulasi-spekulasi tentang nilai kehidupan dan corak dunia fenomena, yang mutlak dan nisbi, sudah merupakan pokok-pokok umum dalam pemikiran keagamaan di Indonesia di masa pra Islam.

Terlepas dari adanya soal "kesamaan nilai" yang berasal dari tradisi Hindu-Budha, sufisme---yang selanjutnya mewujud dalam beragam kelompok tarekat---memang menjadi ciri khas yang tak dapat diabaikan dari corak keberislaman di Nusantara. Tulisan mengenai perkembangan tarekat di Indonesia---terutama masa-masa peningkatan jumlah pengikutnya---secara apik dan menarik ditemukan dalam buku, "Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia" yang ditulis sejarawan Belanda ahli Islam Indonesia, Martin Van Bruinessen. Pasang surut keberadaan tarekat yang kerapkali menjadi perhatian penting kolonial, hanyalah dianggap tradisi "sinkretistik" yang lebih banyak mempraktikkan tahayul belaka sehingga bukan merupakan "ancaman" bagi negara.

Padahal, praktik tarekat di Indonesia tentu saja tidak melulu menekankan kesalehan etis, namun dalam beberapa hal, tarekat dapat menjadi suatu kekuatan politik yang cukup signifikan. Pemberontakan terhadap penguasa Batavia akibat intervensi VOC terhadap kekuasaan politik di Banten pernah dipimpin tokoh tarekat ternama, Syek Yusuf Makassar dan kemudian terjadi lagi pemberontakan pada awal abad 19 yang dinisiasi guru sufi Syekh Abdul Karim dari Mekah (Bruinessen: 1992).

Hasil laporan Van Bruinessen ini tentu saja menarik, dimana ketika banyak anggapan soal tarekat yang cenderung dinilai suatu ritual keagamaan dalam bentuk spekulasi-spekulasi mistik-keagamaan, baik itu zikir, pernafasan, latihan-latihan tertentu yang hanya memusatkan pada nilai kesempurnaan manusia, hampir tak ada kaitannya dengan urusan politik.

Sejarawan Belanda, G.W.J Drewes yang merupakan murid senior Snouck Hurgronje telah terlebih dahulu mengungkapkan bahwa perambatan Islam di kalangan masyarakat Indonesia telah dimulai di akhir abad ketiga belas, sekalipun dokumentasi yang lengkap mengenai hal tersebut masih teramat minim. Menurutnya, dokumen-dokumen paling tua yang menyebut soal penguatan aspek mistisisme Islam yang mewujud dalam bentuk tarekat atau sufisme banyak ditemukan dalam dokumentasi di awal akhir abad keenambelas dan akhir abad ketujuhbelas. Hamzah Fansuri, barangkali tokoh sufi pertama yang memperkenalkan ajaran-ajaran sufismenya melalui serangkaian karya tulis yang menginisiasi tumbuh suburnya gerakat tarekat kemudian di Nusantara.

Hamzah, yang dikenal sebagai tokoh sufi yang menganut aliran "wihdatul wujud" (monisme-eksistensialisme), nampaknya dipandang "ekstrim" oleh muridnya, Syamsuddin as-Sumatrani. Melalui Syamsuddin-lah kemungkinan ajaran-ajaran sufi gurunya "direformasi" dari bentuk mistisisme heterodoks menjadi lebih berpandangan ortodoks: menanamkan lebih kuat ke dalam benak orang Indonesia pengetahuan lebih luas tentang pokok-pokok ajaran Islam (syariat) dan rasa hormat lebih banyak terhadap ajaran-ajaran ulama berfaham ortodoks (istilah "mistisisme heterodoks" pertama kali disebut oleh Drewes dalam makalahnya, "Indonesia: Mistisisme dan Aktivisme" yang mungkin mengacu pada model sufisme "campuran" yang menggabungkan berbagai macam faham pemikiran Islam yang melahirkan corak tarekat atau aliran sufisme yang khas).

Pada kenyataannya, perkembangan tarekat di Indonesia---yang kini sudah tergabung dalam suatu wadah sufi internasional---memang tidak hanya menarik bagi para peneliti, tetapi juga kerap "dimanfaatkan" oleh penguasa sebagai bagian dari "dukungan" politik. Praktik keagamaan Islam yang menggabungkan aspek-aspek syariat dan kontemplasi ini, sekalipun tampak jarang muncul ke permukaan, namun tetap dipandang sebagai unsur menentukan terutama dalam setiap kontestasi politik. Hampir dipastikan, berbagai kelompok tarekat memang seringkali memiliki afiliasi erat dengan NU dibanding ormas Islam lainnya di Indonesia. Tokoh kharismatiknya, Habib Luthfi bin Yahya adalah Rais Aam Jatman, salah satu badan otonom dibawah ormas besar NU.

Indonesia, tentu saja memiliki akar kesejarahan yang sangat kuat mengenai tarekat, sebab corak sufisme ini sesungguhnya yang paling banyak berpengaruh terhadap proses Islamisasi di Nusantara. Bermula dari usaha-usaha perdagangan bertolak dari wilayah Malaya dan Sumatera hingga ke pesisir Jawa, tokoh-tokoh sufi dan tarekat telah berjasa dalam menyemai benih sufisme di areal tanah yang subur beragam praktik keagamaan sebelumnya di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x