Syahirul Alim
Syahirul Alim Penulis Lepas dan Aktivis Sosial-Keagamaan

Alumnus Magister Ilmu Politik UI, Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Menakar Sinyal Dukungan NU di Pilgub Jatim 2018

11 Oktober 2017   15:01 Diperbarui: 11 Oktober 2017   15:14 1297 1 0

Jawa Timur (Jatim) memang sejak zaman dahulu merupakan basis terkuat warga nahdliyyin, karena memang Nahdlatul Ulama (NU) sejatinya lahir dan besar di wilayah timur Pulau Jawa ini. Paling tidak, ke-NU-an harus melekat pada seseorang yang ingin meniti karir di puncak kekuasaan, entah itu bupati, walikota, terlebih bila mau maju sebagai calon gubernur. Latar belakang partai politik (parpol) terkadang tidak begitu terpengaruh bagi seseorang yang mencalonkan dirinya, selain kedekatan atau afiliasi dirinya denga ormas Islam terbesar ini. 

Mencari dukungan warga NU, memang sebuah keharusan jika ingin ikut kontestasi politik di Jatim ini. Untuk Pilgub 2018 kali ini, lebih menarik, karena kelihatannya, warga NU akan digiring untuk memilih dua orang yang merupakan figur dari kalangan NU sendiri, yaitu Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khafifah Indar Parawansa.

Keduanya jelas merupakan tokoh-tokoh NU papan atas, yang memiliki basis massa nahdliyyin yang sama-sama kuat. Khofifah, bahkan telah dua kali mengikuti kontestasi politik di Pilkada Jatim (2008 dan 2013) yang justru selalu gagal meraih tiket menuju kursi gubernur Jatim. Pertaruhan memperoleh tiket ke kursi gubernur Jatim 2018 ini barangkali masih menyisakan rasa penasaran Khofifah, setelah selama dua kali pilgub justru tak pernah terwujud. 

Rasa-rasanya, tak mungkin ketika kedua tokoh NU ini berpasangan, karena masing-masing justru mengincar kursi kekuasaan menjadi gubernur, bukan wakil gubernur. Walaupun sebenarnya, jika keduanya dipasangkan, maka pilihan warga nahdliyyin akan lebih bulat dan kesempatan keduanya menang dari pasangan lainnya cenderung lebih besar.

NU memang ormas yang unik, karena ikatan solidaritas sosial didalamnya secara kultural bisa sangat kuat, meskipun secara politik, mereka bisa memiliki afiliasi dengan parpol manapun. PKB, yang merupakan cermin dari kendaraan politik NU, belum tentu merupakan representasi sesungguhnya kalangan nahdliyyin. Ini terbukti, dimana kekuatan PKB di Jatim yang mengusung Khofifah ternyata dua kali gagal membawa Ketua Muslimat NU ini menjadi orang nomor satu di Jatim. 

Inilah kenapa, kemudian Khofifah tidak lagi memanfaatkan PKB sebagai kendaraan politiknya, tetapi hijrah ke Partai Demokrat, yang sebelumnya menjadi parpol yang memuluskan Soekarwo ke kursi gubernur. Entah apakah karena Khofifah kapok setelah dua kali gagal diusung PKB sehingga mencari keberuntungan lewat parpol lain, ataukah memang ciri khas NU yang "akomodatif" terhadap banyak afiliasi politik.

Membaca sinyal dukungan NU dalam Pilgub Jatim memang selalu tampak terbelah, terlebih jika ada beberapa calon yang masing-masing merupakan representasi dari kekuatan politik NU itu sendiri. Melihat fenomena seperti ini, mesin partai dari masing-masing pengusung memang harus bekerja ekstra keras, terutama dalam soal meyakinkan para tokoh NU di wilayah tersebut untuk menggalang dukungan kepada salah satu calon saja. 

Sejauh ini, figur Khofifah dan Gus Ipul di mata warga nahdliyyin terlihat sama-sama kuat, meskipun yang kedua tersebut justru sejauh ini dinilai sebagai figur independen yang tidak berafiliasi dengan parpol manapun, karena Gus Ipul diketahui pernah berafiliasi dengan PDIP dan juga PKB dalam rentan waktu cukup berdekatan.

Bagaimanapun juga, mekanisme untuk ikut dalam kontestasi politik tetap saja harus melalui dukungan parpol, karena dipastikan, calon yang berasal dari jalur independen terlampau berat jika terjun dalam ajang kontestasi. Diantara kedua calon yang merupakan representasi politik NU, barangkali hanya Khofifah yang telah secara resmi mendaftar melalui jalur parpol, sedangkan Gus Ipul kelihatannya masih sebatas dilirik, didekati dan dipertimbangkan, belum sampai ada parpol yang berani "melamar" dirinya hingga saat ini.

Namun demikian, kalangan nahdliyyin sudah mulai banyak yang kepincut pada sosok dua tokoh ini, karena dukungan sudah dimulai datang dari tokoh-tokoh NU setempat. Hanya Madura yang secara terang-terangan memberikan dukungan kepada keduanya, dimana para kiai mendukung Khofifah dan para nyai (istri kiai) se-Madura memberikan dukungan kepada Gus Ipul. 

Madura memang bisa menjadi semacam "patron" politik di kalangan nahdliyyin, karena kultur NU jelas mengakar di bumi Karapan Sapi ini. Saya kira, kharismatis tokoh pendiri NU yang fenomenal, almarhum KH Cholil Bangkalan, sangat mengakar dalam kultur NU, sehingga Madura bisa saja menjadi tolok ukur yang bisa dipakai untuk membaca sinyal dukungan politik NU dalam Pigub Jatim nanti.

Meskipun pada kenyataannya sinyal dukungan warga NU nampak terbelah, namun tidak berarti bahwa warga NU tidak rasional dalam berpolitik. Rasionalitas politiknya justru terletak pada bagaimana penerimaan warga NU terhadap program-program kerja nyata para kandidat, bukan sekadar penerimaan atas trah NU yang melekat pada setiap kandidat yang terpilih. 

Memang, kemenangan Soekarwo pada Pilgub sebelumnya, semata-mata diuntungkan karena dipasangkan dengan Gus Ipul yang memiliki akar kuat pada basis massa NU. Namun, kekalahan Khafifah waktu itu, justru karena dirinya terlampau percaya terhadap "kekuatan politik" pesantren yang dapat mendongkrak suaranya seraya mengabaikan sisi program kerja yang ditawarkan.

Lagi-lagi, ini adalah soal adu kekuatan program kerja yang sejauh ini telah diperkuat oleh masing-masing kandidat, baik Gus Ipul maupun Khafifah. Saya kira, dua periode menjadi wakil gubernur Jatim, cukup sebagai modal politik Gus Ipul untuk melenggang mendapatkan tiket gubernur Jatim periode mendatang. Khafifah yang kebetulan menjabat sebagai menteri sosial, pasti sudah terlebih dahulu mempersiapkan dengan menggalang kekuatan politik di kantung-kantung NU Jatim. 

Namun sayang, semestinya keduanya bisa bersatu menjadi paket pasangan cagub-cawagub Jatim 2018 yang tentu saja lebih mudah mengantisipasi suara-suara pemilih warga NU nantinya. Pada akhirnya, kita hanya dapat mencermati dan menunggu, kemana arah sinyal politik warga NU menguatnya, kearah  Gus Ipul atau Khafifah?