Syahirul Alim
Syahirul Alim Penulis Lepas dan Aktivis Sosial-Keagamaan

Alumnus Magister Ilmu Politik UI, Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Merdeka dari Korupsi dan Kebodohan

13 Agustus 2017   16:43 Diperbarui: 14 Agustus 2017   06:08 248 1 0

Semarak kemerdekaan sudah jauh-jauh hari dirasakan, melalui berbagai ungkapan, simbol, seremonial atau hal lain sebagai bentuk ekspresi kegembiraan menyambut dirgahayu republik ini. 

Walaupun sesungguhnya, kemerdekaan bukanlah sekadar simbolisasi atau ekspresi yang dibalut dalam nuansa merah-putih yang terpasang di ruang-ruang terbuka, jalan-jalan protokol bahkan hingga gang-gang sempit di sudut-sudut kota. Kemerdekaan dalam arti lebih luas adalah "kebebasan" dari seluruh kemelut bangsa yang merusak peradaban, yaitu korupsi dan kebodohan.

Bangsa ini belum pernah merdeka dari korupsi dan juga kebodohan, karena sebutan bagi negeri terkorup masih melekat, termasuk kegagalan pendidikan kita yang hanya mampu "memintarkan" tetapi gagal "mencerdaskan" kehidupan bangsanya.

Kita sudah tak begitu terkejut, ketika lagi-lagi kasus korupsi terkuak dilakukan oleh mereka yang notabene publik figur, orang penting, berpendidikan tinggi dan tentu saja "pintar". Parahnya lagi, korupsi sepertinya dianggap sebagai kebiasaan yang lazim atas timbal balik jasa terhadap segala macam urusan yang saling menguntungkan. Tak peduli bahwa perbuatannya telah merusak dan merugikan seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lalu, apa hubungannya pintar dengan korupsi? Melihat pemaknaan korupsi yang terambil dari bahasa latin, "corrumpere" yang berarti "merusak", "busuk" atau "memutarbalik", maka orang-orang yang senang merusak dan melakukan kebusukan ternyata tidak identik dengan perbuatan orang bodoh, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang "pintar". Dalam sejarah kita mengenal bangsa barbar yang konon gemar melakukan invasi ke wilayah lain dengan merusak tatanan masyarakat dan peradabannya. Kemudian, istilah "barbar" dikenal untuk menunjuk sekumpulan orang bodoh yang tak beradab, gemar berbuat kerusuhan dan kerusakan. Koruptor tak ubahnya seperti orang barbar yang tanpa sadar telah merusak sendi-sendi peradaban manusia.

Istilah "korupsi" juga dimaknai "fasad" dalam bahasa Arab, yang artinya "rusak" atau "hancur" dan tentu saja pekerjaan seperti merusak atau menghancurkan jelas umumnya hanya orang-orang bodoh yang melakukannya. Jika ada orang-orang pintar melakukan kebodohan seperti merusak dan menghancurkan, itu karena mereka belum memiliki kecerdasan dalam hal mengelola kepintaran mereka untuk hal-hal yang bermanfaat bagi sesama. 

Kita seringkali tertipu oleh kepintaran seperti seringkali kita ungkapkan kepada anak-anak kita, "belajar yang rajin nak, biar jadi orang pintar". Padahal "pintar" tak selalu linier dengan kebaikan atau kemanfaatan, berbeda dengan "cerdas" yang umumnya sejalan dengan prilaku seseorang menjadi semakin baik dan bermanfaat.

Pintar dan cerdas jelas berbeda, sebab kepintaran umumnya hanya bergantung pada akal, tanpa melibatkan hati dan pikiran yang matang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, pintar berarti  "cerdik" atau "banyak akal". Dengan demikian, seorang pencuri bisa saja disebut "cerdik" karena "banyak akal" untuk mengelabui polisi. Berbeda dengan "cerdas" yang oleh KBBI diartikan "sempurna akal budinya (untuk berpikir, mengerti dan sebagainya)". Kecerdasan berarti melibatkan seluruh kematangan berpikir, sehingga kepintarannya menjadi sempurna, membentuk prilaku yang benar-benar menjauhi praktik "korup" dan kebodohan.

Dalam bahasa agama, kecerdasan merujuk pada istilah "lubb" (inti atau bagian terpenting) yang mendiami akal pikiran manusia. Maka, kemudian istilah "lubuk hati", mengandung pengertian "sesuatu yang paling penting (inti)" dimana "lubuk" benar-benar cermin sebuah ketulusan dan kejujuran. 

Seseorang ketika berbicara dan berprilaku sesuai lubuk hatinya, berarti menggunakan kecerdasannya atau "lubb" nya, tidak lagi bermain pada wilayah kepintaran yang menggunakan otaknya. Kecerdasan pada akhirnya terkait tidak hanya dengan kepintaran, tetapi berkesesuaian dengan "kata hati" yang membimbingnya menuju ruang-ruang kebenaran.

Oleh karena itu, orang-orang cerdas dalam bahasa agama disebut dengan "ulul albab" yang memiliki kedudukan dan strata lebih tinggi, dibanding sekadar beriman atau bertakwa kepada Tuhan. Ulul Albabbukan saja orang-orang dimuliakan oleh Tuhan, tetapi juga diistimewakan manusia, karena prilakunya jelas adalah cermin kecerdasan yang terpantul dari ketajaman pikirannya dan senantiasa sejalan dengan kebenaran suara batinnya. Para filosof, ilmuwan, nabi-nabi, wali, barangkali sebutan diantara sekian para ulul albab yang selalu memberi kemanfaatan dan terbukti berhasil memajukan peradaban manusia.  

Inilah barangkali, kenapa istilah "mencerdaskan" lebih dipilih oleh para founding fathers kita dibanding "memintarkan" sebagaimana dalam Preambule UUD 1945. Kalimat "mencerdaskan kehidupan bangsa" tidak sebatas mengilhami Konstitusi yang terfokus pada pendidikan dan kebudayaan, tetapi jauh lebih dalam dari semua itu. 

Kalimat "kehidupan" yang disematkan diantara "mencerdaskan bangsa" jelas terkait dengan seluruh kehidupan, termasuk "mencerdaskan" para penyelenggara negara, rakyat dan seluruh elemen pendukungnya. Inilah sesungguhnya inti dari kemerdekaan yang sesungguhnya, merdeka dari kebodohan dan kepintaran yang merusak.

"Kecerdasan bukan hanya kepintaran, tapi ketulusan dan kejujuran", demikian tulisan Alfian di salah satu kolom opini surat kabar beberapa minggu lalu. Seseorang melakukan korupsi jelas bukan karena dirinya cerdas, tetapi sekadar "pintar" namun tak memiliki ketulusan dan kejujuran. Bukankah koruptor kebanyakan orang-orang berpendidikan tinggi  yang pintar? Ternyata, memang harus diakui, bahwa bekal pendidikan yang diperoleh sejauh ini hanya sanggup menjadikan orang-orang  pintar tetapi gagal membentuk pribadi-pribadi yang cerdas. Bangsa ini telah merdeka 72 tahun yang lalu, tapi hanya merdeka dari penjajahan secara fisik akibat kolonialisme, namun tetap masih terpenjara oleh korupsi dan kebodohan.