Mohon tunggu...
Syahirul Alim
Syahirul Alim Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

Alumnus Magister Ilmu Politik UI, Penulis lepas, Pemerhati Masalah Sosial-Politik-Agama, Tinggal di Tangerang Selatan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Bunuh Diri Bennington dan Tantangan Anomali Sosial

22 Juli 2017   09:50 Diperbarui: 22 Juli 2017   22:19 0 3 0 Mohon Tunggu...
Bunuh Diri Bennington dan Tantangan Anomali Sosial
Sumber ilustrasi: lonroom.com

Melihat pada tren bunuh diri yang kerap dilakukan oleh para selebritas, di saat mereka sedang dalam puncak karir, sukses menjadi publik figur dan didukung oleh kehidupan yang glamour mengingatkan kita pada suatu kondisi anomali dalam sebuah masyarakat. Anomali---sebagaimana Emile Durkheim---adalah situasi di mana ketiadaan norma dan arah dikarenakan tidak selarasnya harapan kultural dengan kenyataan sosial. Hampir dipastikan, mereka yang diposisikan sebagai publik figur, selebritas, orang penting yang semestinya diliputi kebahagiaan, malah sebaliknya mereka merasa terasing dan tak pernah merasa bahagia. Kondisi inilah yang kemudian dianggap sebagai anomali sosial yang bisa terjadi kepada siapa saja, walaupun pada kenyataannya, seorang publik figur atau selebritis lebih sering berada dalam "keterasingan" di tengah ingar-bingar kehidupan dirinya.

Bunuh diri sulit dijelaskan secara individual, terlebih harus menguak latar psikologis seseorang yang melakukannya. Oleh karena itu, Durkheim memandangnya sebagai fenomena yang memiliki keterkaitan dengan kenyataan sosial. Bunuh diri bukan persoalan psikologis yang mandiri, tetapi pengaruh dari kondisi dan lingkungan sosialnya dimana seseorang itu hidup. Hal inilah barangkali yang membuat vokalis Linkin Park, Chester Bennington, bunuh diri di saat puncak karirnya sedang moncer. Pengaruh lingkungan sosial yang dipenuhi anomali, mendorong dirinya mencari kedamaian dengan meninggalkan seluruh apa yang diraihnya, termasuk dunia yang ditempatinya. Terlepas dari beragam isu soal ketergantungan obat-obatan yang dialami Bennington, kondisi anomali sosial tampaknya lebih kuat dalam mendorong dirinya melakukan bunuh diri.

Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, demikian salah satu ayat yang tertulis dalam kitab suci Al-Quran. Mati adalah keniscayaan yang pasti terjadi kepada seluruh mahluk hidup. Segala sesuatu yang pasti terjadi itu dekat, sedekat ketika kita hendak tidur dan pergi menuju kamar tidur. Saking dekatnya kematian, bahkan kita sendiri tidak pernah tahu, bagaimanakah caranya kita mendatangi kematian: dengan menanggung rasa sakit, seperti bunuh diri ataukah mati dengan cara damai. Bagi seseorang yang beriman, tentu kematian akan lebih senang dijemput dengan cara damai seraya menghindari kematian dengan cara-cara kasar maupun menyakitkan.

Dalam kondisi yang normal, manusia sejatinya selalu ingin hidup, bila perlu berumur panjang dan tak mati-mati. Inilah gambaran bait puisi Chairil Anwar, "Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi". Mempertahankan hidup seharusnya menjadi filosofi kehidupan setiap manusia, bahkan semut yang tampak remeh akan mempertahankan dan melawan jika hidupnya terancam. Bunuh diri tidak saja menyalahi kodrat mempertahankan hidup, tetapi sebuah prilaku menyimpang (deviant lifestyle) yang ketika dibaca dalam kacamata ilmu sosiologi disebut sebagai anomali sosial.

Memang diakui, dalam memandang kehidupan, tidak semua orang berpandangan seragam. Bagi mereka yang berpandangan optimis, hidup bukan hanya sebatas kenikmatan belaka, tetapi bagaimana hidup memiliki makna sebagai penghormatan dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Di sisi lain, bagi yang memandang pesimisme dalam hidup, akan menjadikan hidup sebagai sebuah penderitaan, sesuatu yang berat dijalani penuh dengan kesedihan. Kematian bagi para penganut pandangan pesimisme adalah akhir dari segala penderitaan hidup. Bisa jadi, bahwa tindakan bunuh diri di samping karena pengaruh anomali sosial, juga dorongan pesimis karena hidup dianggap suatu beban yang berat yang harus dihapus melalui kematian.

Padahal, sesungguhnya manusia selalu mengalami "kematian" selama dia hidup justru ketika dirinya sedang tidur. Tidur dan mati adalah kondisi serupa, karena ketika tertidur, jiwa kita terlepas dari materi yang mengurungnya. Jiwa melanglang buana di alam yang lain, bermimpi dan hidup bertemu dan berinteraksi dengan jiwa-jiwa yang lainnya. Ajaran Islam mengajarkan, sebuah doa yang indah yang senantiasa dibaca ketika seseorang hendak tidur, "Bismika allahumma ahya wa amuut, Ya Allah dengan asma-Mu aku menjalani hidup, dan dengan asma-Mu, malam ini aku akan mati". Tidur adalah kematian sementara, karena ketika tidur, jasad sudah tak mampu lagi mengendalikan dirinya.

Dalam ajaran agama, hidup haruslah disyukuri sebagai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tepat seperti gambaran doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, ketika seseorang bangun dari tidurnya, "Alhamdulillahi alladzi ba'da maa amaatanaa wa ilaihi al-nusyuur, Segala puji bagi-Mu ya Allah, yang telah menghidupkan kembali diriku dari kematianku, dan hanya kepada-Mu nanti diri ini berpulang". Melalui filosofi bersyukur yang senantiasa diajarkan oleh semua agama, tentunya hidup selalu optimis dan penuh makna. Perubahan zaman dan generasi, meskipun di tengah kepungan globalisasi dan anomali, menyongsong hidup secara optimis jelas hanya dipahami oleh orang yang dalam jiwanya dipenuhi rasa iman kepada Tuhan, tanpa itu hidup hanya beban berat dan penderitaan yang harus segera diakhiri dengan kematian. Bagaimapun, dalam pandangan ajaran agama, tindakan bunuh diri jelas karena jiwa kosong dari iman, walaupun fisik tampak penuh dengan kebahagiaan.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x