Mohon tunggu...
Syahrul Badri
Syahrul Badri Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara UIN SUSKA RIAU

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Prabowo Bakal Jadi Calon Menteri Pertahanan Jokowi-Ma'ruf Amin

22 Oktober 2019   23:40 Diperbarui: 23 Oktober 2019   00:19 0 0 1 Mohon Tunggu...
Prabowo Bakal Jadi Calon Menteri Pertahanan Jokowi-Ma'ruf Amin
Momen saat ketua umum dari Partai Gerindra Prabowo Subianto ( sebelah kiri) dan wakil ketua umum partai Gerindra, Edhy Prabowo ( sebelah kanan), (BBC)

Presiden Joko Widodo melakukan pemanggilan para calon menteri Kabinet Jokowi - Ma'ruf Amin, masa kerja tahun 2019 - 2024 ke Istana Negara, Selasa (22/10). Para calon anggota menteri, datang secara bergelombang dari mulai Senin (21/10) sampai Selasa (22/10). Dengan komposisi dari partai politik, profesional, mantan birokrat, mantan Jenderal TNI, Jenderal TNI, Jenderal Polisi.

Di hari kedua, Jokowi memanggil barapa menteri dari koalisi partai pendukung diantaranya Agus Gumiwang Kartasasmita dan Zainuddin Amali dari Golkar, Suharso Manoarfa dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ida Fauziah dan Abdul Halim Iskandar dan Agus Suparmanto dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 

Prabowo mengatakan bahwa Presiden Jokowi meminta untuk memperkuat kabinet dan keputusan Gerindra adalah "siap apabila diminta". "Saya diminta membantu beliau di bidang pertahanan. Jadi beliau tadi memberikan pengarahan kepada saya dan saya akan bekerja sekeras mungkin untuk mencapai sasaran dan harapan yang ditentukan," ini kata Prabowo. Mantan komandan jenderal Kopassus ini bersaing dengan Jokowi dalam pilpres lalu, mengulang kontestasi pada pilpres 2014.

Tentu kita kaget juga melihat pak Prabowo mau jadi menteri," kata Yandri Susanto di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa. Dia menduga Prabowo punya mimpi besar supaya bisa aktif kembali atau mungkin ingin membersihkan nama baiknya yang selama ini menjadi pro-kontra di kalangan masyarakat.

Untuk itu, Yandri Susanto menilai saat Prabowo menjadi menteri, maka Prabowo memiliki kesempatan untuk mengabdi kepada negeri. "Saya tidak terbayang, itu kan capres lalu nanti Rapat Kerja dengan Komisi I DPR, nanti jangan-jangan dipanggilnya Pak Capres bukan Pak Menteri," ujarnya.

Dalam proses politik yang mana berjalan selama berbulan-bulan, Prabowo berada di kubu oposisi. Bahkan, menurut dosen ilmu politik Universitas Muhamadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, DR Ahmad Atang, Prabowo telah menjadi simbol oposisi.

"Posisi Prabowo menjadi simbol oposan yang benar-benar luar biasa. Kita berharap sebetulnya posisi ini dipertahankan untuk mengontrol kekuasaan pemerintahan Jokowi."

"Tapi dengan Prabowo tergiur mengambil posisi masuk di gerbong kekuasaan, itu sebetulnya Prabowo sudah memperlemah posisi oposan," jelasnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Ahmad Atang tidak menafikkan kemungkinan Prabowo akan memberikan warna dalam perjalanan pemerintahan mendatang, suatu langkah positif mengingat masyarakat mengalami perpecahan sehubungan dengan pemilihan presiden yang terjadi pada april lalu. Namun sekali lagi ia menandaskan kemungkinan lemahnya sistem pengawasan dan keseimbangan.

"Dengan masuknya Prabowo ke kekuasaan, itu kemudian kekuatan-kekuatan oposan baik di partai politik maupun di organisasi-organisasi pendukung menjadi lemah karena mereka kehilangan tokoh."