Mohon tunggu...
Sony Warsono-bin-Hardono
Sony Warsono-bin-Hardono Mohon Tunggu...

Staff pengajar di FEB UGM

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Al-Quran & Akuntansi (6): Pengetahuan yang Rahmatan Lil 'Alamin

5 Oktober 2012   01:08 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:14 147 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Al-Quran & Akuntansi (6): Pengetahuan yang Rahmatan Lil 'Alamin
1349399003819678724

PENGEMBANGAN PENGETAHUAN BERBASIS OBJEKTIFIKASI. Begitulah kira-kira ajakan Prof. Kuntowijoyo (2007) kepada pemerhati pengetahuan. Dengan metodologi berbasis objektifikasi ini maka ilmu pengetahuan yang dihasilkan sebagai wujud ibadah umat Islam kepada ALLAH SWT juga diaplikasikan oleh semua manusia karena pengetahuan tersebut dianggap sebagai hal yang natural/alami. Disadari atau tidak, sebagian pengembangan pengetahuan yang dikembangkan umat Islam dewasa ini masih lebih banyak bersifat eksternalisasi, yaitu sebatas perwujudan ibadah tanpa mempedulikan apakah pengetahuan tersebut berguna bagi umat manusia lainnya. Metodologi pengembangan pengetahuan berbasis objektifikasi pada dasarnya merupakan implementasi atas kebenaran yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur'an, yaitu bahwa Islam diturunkan sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam). Keberadaan oksigen dan air yang sama tersedia untuk kaum yang bertakwa maupun kaum yang durhaka, dan sinar matahari yang memberi manfaat tidak hanya berlaku untuk insan kamil, tetapi juga manusia tidak beradab, merupakan contoh tanda-tanda kekuasaan ALLAH SWT yang mengajarkan umat Islam agar mengobjektifikasi pengetahuan yang dikembangkan. Demikian pula, seruan "Wahai orang-orang yang beriman" dan juga seruan "Wahai manusia" dalam kitab suci Al-Qur'an dapat diinterpretasikan sebagai wujud bahwa Al-Qur'an sebenarnya berlaku untuk semua manusia. Persoalannya adalah, bagaimana mengembangkan pengetahuan yang mencerminkan objektifikasi, bukan sebatas eksternalisasi? Yang jelas, pengembangan pengetahuan yang terutama berlandas pada aturan, kesepakatan, maupun kebiasaan buatan manusia telah terbukti gagal dan akan selalu demikian di masa datang. Sebagai ilustrasi, ketentuan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations) dan beragam standar yang dibuat, pada gilirannya akan direvisi, ditinggalkan, dilupakan atau bahkan dilanggar seiring berlalunya waktu. Dalam kaitannya dengan akuntansi, saat ini pemerhati akuntansi sudah mulai meninggalkan standar akuntansi yang berlaku sebelumnya untuk beralih menerapkan IFRS (International Financial Reporting Standards). Sebagai catatan, hingga sekarangpun ternyata negara-negara pendiri IFRS (pada awalnya adalah IASC [International Accounting Standards Committee]) belum kompak menerapkan standar tunggal (lihat Sony Warsono-bin-Hardono, 2012). Di masa datang, IFRS pada gilirannya juga akan direvisi atau digantikan oleh standar lainnya yang dipertimbangkan sesuai dengan jamannya. Kondisi yang sebaliknya justru terjadi dalam pengembangan pengetahuan yang berlandas matematika. Sebagai ilustrasi, hasil perkalian bilangan 19 dan 6 (dituliskan "19 x 6") yang dihitung menggunakan sistem angka puluhan akan menunjukkan bilangan 114. Menariknya, meskipun manusia antar negara atau bahkan antar benua tidak membuat kesepakatan atau menerbitkan aturan tetapi manusia mau menerima hasil tersebut dan secara konsisten menggunakannya. Lebih menarik lagi, hasil perkalian di atas telah terbukti robust atau tahan uji terhadap perubahan jaman di masa-masa lalu, dan manusia sekarang lebih mudah mempercayai bahwa hal ini juga akan tetap berlaku di masa datang. Dengan demikian, pengembangan pengetahuan berlandas matematika sangat berpeluang untuk menjadikan pengetahuan yang dikembangkan menjadi rahmat bagi semesta alam. Bagi pembelajar akuntansi, kita patut sekaligus harus bersyukur bahwa pengetahuan dasar dan inti akuntansi telah dikembangkan berlandas matematika yang tercermin dalam mekanisme debet kredit (lihat Sony Warsono-bin-Hardono, 2012: Al-Qur'an & Akuntansi - Menggugah pikiran Mengetuk relung qalbu). Sayangnya, kondisi pengembangan akuntansi saat ini justru lebih berlandas pada aturan ataupun kesepakatan buatan manusia semata. Akankah kita berani menerima amanah untuk mengembangkan akuntansi berlandas matematika agar akuntansi menjadi pengetahuan yang mencerminkan rahmatan lil 'alamin?

Referensi:

Kuntowijoyo. 2007. Islam Sebagai Ilmu - Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Edisi kedua. Tiara Wacana. Sony Warsono-bin-Hardono. 2011. Adopsi Standar Akuntansi IFRS: Fakta, Dilema, dan Matematika. ABPublisher. Edisi pertama. Fb: akuntamatika@yahoo.com Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al Qur'an & Akuntansi: Menggugah Pikiran Mengetuk Relung Qalbu. ABPublisher. Edisi pertama. Fb: akuntamatika@yahoo.com Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur'an & Akuntansi (1) Asal-usul Debet Kredit. 31 Agustus. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/31/al-quran-akuntansi-1-asal-usul-debet-kredit/ Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur'an & Akuntansi (2): Sistem Pencatatan Berpasangan. 7 September. Website: http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/07/al-quran-akuntansi-2-sistem-pencatatan-berpasangan/ Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Fakta & Dilema IFRS (1): Jepang Sebagai Nengara Penggagas IFRS. 17 Sept. http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/09/17/fakta-dilema-ifrs-1-jepang-sebagai-negara-penggagas-ifrs/ Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur'an & Akuntansi (4): Kiri Kanan Cermin Keadilan. 21 September. http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/21/al-qur%E2%80%99an-akuntansi-4-kiri-kanan-cermin-keadilan/ Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Al-Qur'an & Akuntansi (5): Terimakasih Luca Pacioli. 28 September. http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/28/al-quran-akuntansi-5-terima-kasih-luca-pacioli/ Sony Warsono-bin-Hardono. 2012. Fakta & Dilema IFRS (2): Mudah Bersepakat, Sulitnya Menjaga. 24 September. http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/09/24/fakta-dilema-ifrs-2-mudah-bersepakat-sulitnya-menjaga/ (5 Okt 2012; 05.30 - 07.52, Wisma MM, Jakarta)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x