Mohon tunggu...
Sutriyadi
Sutriyadi Mohon Tunggu... Penulis lepas

Pekerja sosial

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Seorang Suami yang Mengawini Tulisannya

7 November 2020   07:43 Diperbarui: 9 November 2020   17:50 279 26 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seorang Suami yang Mengawini Tulisannya
Ilustrasi (unsplash.com/@cdx2)

Suamiku adalah salah satu di antara banyak orang yang bercita-cita menjadi penulis. Namanya ingin dikenal dunia dan quote-nya ada di mana-mana.

Aku selalu memperhatikan tingkah dan kebiasaan suamiku setiap waktu. Aku tahu sebab apa ia gelisah dan bingung sendiri saban malam seolah ada sesuatu yang kurang pas sehingga membuatnya tidak fokus untuk menulis.

Agar cita-citanya tercapai, ia tidak pernah kehabisan akal untuk melawan rasa malas yang amat mengganggu, ia pun membuat jadwal wajib, malam menulis dan siang membaca. Ia sangat disiplin dan komitmen dengan jadwal yang ia buat.

Selain itu, ia juga memegang teguh prinsip-prinsip dari penulis-penulis ternama, seperti kata-kata berikut: untuk jadi penulis Anda harus membaca seribu buku. Motivasi itu ia print out dan ditempel di dinding kamar dekat dengan meja kerjanya sebagai pengingat jika sewaktu-waktu ia lupa tidak membaca atau menulis. Karena itulah aku seringkali tak dianggap.

Pernah suatu ketika aku mencoba membujuknya tidur saat ia sedang fokus menulis, spontan ia menuduhku sebagai orang yang tidak senang jika suaminya sukses. Aku dianggap makar dan pelakor terhadap cita-cita yang ia patri sejak kecil. Ia marah besar dan hampir saja menalakku. Sejak kejadian itu aku trauma dan enggan menghalangi keinginannya.

Suamiku juga sering ke toko buku membelanjakan uang hasil pekerjaannya sebagai guru honorer untuk memborong buku lalu menyimpan rapi di rak buku minimalis yang ia beli lebih mahal dari belanja dapur selama satu bulan. Terlebih jika ada diskon buku 30%, beringasnya setara dengan emak-emak di mall saat ada diskon 75%.

Setelah ditanya, untuk apa ia memborong buku itu, sebagai referensi menulis, dalihnya dengan enteng.

Fasilitas menulis miliknya melebihi ruang manager yang lengkap. Kamar empat kali empat meter disesaki berbagai macam alat kerjanya serta siluet penulis-penulis hebat lengkap dengan quote-nya masing-masing. Tidak heran ia lebih betah memenjarakan dirinya di dalam kamar di depan laptop dan dengan berlembar-lembar buku.

Semua isi rumah dan uang belanja tidak berasal dari gajinya sebagai guru honorer, akan tetapi penyumbang terbesar yang memberi kami hidup adalah sebidang tanah beserta kelapa sawit yang diwarisi oleh orang tuanya. Sebab gajinya setiap bulan yang diperoleh dari lembaga pendidikan hanya mampu membeli tiga hingga lima judul buku.

Tekadnya memang luar biasa. Sebagai seorang istri, kadang bangga melihat suami yang menikahiku empat tahun lalu. Kadang pula menjengkelkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x