Mohon tunggu...
Sutriyadi
Sutriyadi Mohon Tunggu... Penulis lepas

Pekerja sosial

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Perempuan Salihah yang Selalu Menangis

1 Juni 2020   15:28 Diperbarui: 1 Juni 2020   15:29 36 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Perempuan Salihah yang Selalu Menangis
ruangmuslimah.co

"Alamak! gitu amat ya, kalau seorang hamba telah menemukan nikmat cinta kepada Tuhannya" Kata Suminah ke telinga Supini dari mulut pintu rumah Sutini.

Bukan tetangga namanya jika tidak tahu seluk beluk rahasia serta duka lara tetangga lainnya. Fitri dikenal sebagai perempuan salihah. Semenjak boyong dari pesantren lima tahun silam ia menjadi cerminan perempuan-perempuan yang ada di kampungnya. Fitri menjadi banding-bandingan ibu-ibu yang lain saat memarahi anak gadis mereka.

Bukannya tidak ada yang mau menenangkan. Namun tiap kali Sutini berusaha meringankan kesedihan anaknya, upaya itu tidak memetik hasil. Semenjak hari terkahir ramadan kemarin, tangis perempuan beranak satu itu menjadi-jadi. Air matanya tak terbendung sudah berapa banyak cucuran kesedihan dari mata indahnya jatuh sia-sia. Putih matanya pun berubah merah pucat dan pipi tembemnya basah seolah kian membengkak.

Saban lebaran, Fitri tak pernah merasa bahagia. Ia berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya yang mengisi idulfitri dengan kebahagiaan bersama keluarga. Fitri justru teramat sedih sebab ditinggal ramadan yang penuh rahmat itu. Kesehariannya merenung serta menyesali betapa terbuainya ia atas nikmat dan kesempatan yang diberikan kepadanya untuk beribadah di bulan suci ramadan.

Ya, baginya ramadan merupakan bulan yang paling dirindu-rundukan guna memantapkan diri kepada Yang Esa. Bulan ramadan adalah bulan pengampunan. Bulan yang menyembunyikan seribu bulan di balik sinarnya rembulan. Sehingga tidak heran seminggu berikutnya hati Fitri hanya diisi kesedihan dan kekhawatiran jika umurnya tidak sampai menghirup ramadan yang akan datang.

Seperti yang terlihat saat salat taraweh terakhir kemarin, jamaah yang lain pun ikut meneteskan air mata mendengar Fitri sesenggukan menangis sejadi-jadinya karena ditinggal bulan rahmat itu. Tontonan itu menjadi rutin setiap tahunan bagi jamaah di samping kanan dan kirinya. Sehingga hal itu tidak mengagetkan lagi bagi mereka. Bukan barang langka, juga bukan pula riya, bahwa tangisnya itu dibuat-buat atau mengada ingin terlihat khusyuk atau ingin viral, sungguh tidak. Bulir-bulir air yang jatuh dari kelopak matanya diyakini karena ditinggal ramadan.

Pengetahuan agama yang diperoleh di pesantren ia amalkan di kehidupan sehari-hari. Sungguh beruntung lelaki yang menjadi suaminya. Selain paham agama, Fitri tetap sadar kamera merawat diri dari penuaan. Ia tahu bahwa mempercantik diri dengan niatan untuk suami adalah dihitung pahala. Yang lebih menjadikannya istimewa, ia juga merawat kecantikan luar dan dalam. Walaupun beranak satu, Fitri tetap seolah muda perawan. Ia juga tidak seperti perempuan lain mudah tergoda lelaki mentereng.

Ia adalah istri yang setia walaupun kadang suaminya tak merawat diri dan tampak jauh lebih tua seakan sejajar dengan almarhum ayahnya. Orang-orang kadang berceletuk bahwa suami Fitri lebih cocok jadi suami ibunya, Sutini. Dan Fitri lebih pas jadi anaknya. Kadang omongan angin ini menjadi materi komedi di sela-sela rerasan tetangga.

Keseharian Fitri hanya seorang ibu rumah tangga dari suami yang menikahinya empat tahun lalu. Suaminya bekerja sebagai seorang pekerja sosial di bawah kementerian sosial. Hidup suaminya juga didedikasikan kepada masyarakat luas yang membutuhkan jasanya. Ia bolak-balik mengurusi masalah batuan sosial dari pemerintah. Memastikan batuan pendidikan dan kesehatan itu sampai ke tangan warga yang berhak mendapatkannya. Seperti melakukan pertemuan kelompok setiap bulannya guna memberikan pendidikan agar taraf pengetahuan dan kemampuan ibu-ibu penerima manfaat itu meningkat dan tidak bergantung kepada bantuan pemerintah.

Fitri pun demikian ia juga keliling setiap hari jumat memberikan pengajian kepada kelompok muslimat di kampungnya. Ilmu yang diperoleh di pesantren, Fitri salurkan kepada mereka. Tidak ada yang menggaji Fitri, namun keikhlasannya persis seperti yang diajarkan nyainya di pesantren.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x