Mohon tunggu...
Sutriyadi
Sutriyadi Mohon Tunggu... Penulis lepas

Pekerja sosial

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Epan-tepanih

4 Mei 2020   13:23 Diperbarui: 4 Mei 2020   13:31 98 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Epan-tepanih
Republika

Beberapa bulan terakhir ini tubuh Madri menjadi sarang penyakit. Gering hulu, tulang ngilu, leher bengkak, napas sesak, muntah-muntah, dan yang terakhir perut suami Sarmiti itu melembung seperti hamil enam bulan. Tubuh yang dulunya tinggi besar dan kekar berubah seperti betis belalang.

Saban hari orang-orang datang silih berganti menjenguknya yang tergeletak di atas tikar pandan coklat pucat persis warna kulit Madri. Tubuhnya lemas, selemas dua bantal guling yang mengapit tubuhnya. Rumah besar nan kokoh itu seolah menjadi gerbang keluar-masuk tetangga, saudara, kawan ngaji, hingga rekan-rekan bisnisnya dari kota yang datang menenteng doa dan sepucuk harapan bahwa: seberat apapun, hidup mesti diperjuangkan.

Madri adalah seorang pengusaha ulung. Tiga kedai cafe dan dua rumah makan miliknya di Surabaya dibanjiri pengunjung. Madri cukup banyak membantu tetangga, anak-anak saudaranya yang putus sekolah, dan bujang-bujang lapuk pengangguran di kampungnya. Dibawalah mereka ke kota untuk bekerja di kedai-kedai miliknya. Tak heran dengan kondisi Madri saat ini membuat cemas banyak orang terutama istrinya.

"Saya seperti keluar masuk jamban kalau soal pergi ke dukun. Tapi, ya beginilah tak kunjung membuahkan hasil." Cerita Sarmiti istri cantik Madri saat menjawab setiap pertanyaan yang dilemparkan kepadanya. Sarmiti adalah sepupu Madri. Ia dijodohkan sejak umur empat tahun agar tidak lepas tali kekerabatan dan harta sangkolan-nya (1).

"Coba tengokkan ke Keh Dulladi e mor laok (2), Ti. Barangkali jodoh." Kata Marni tetangga samping rumah Madri yang juga turut membantu Sarmiti menjamu tamu.

"Iya, Bing (3). Takutnya suamimu ini epan-tepanih (4). Coba mintakan air ke sana. Kemarin Marjelah istrinya Man Masdi batuk darah, alhamdulillah sembuh setelah dimintakan air ke Keh Dulladi." Imbuh Kardi suami Marni seraya memberi keyakinan.

Kardi merupakan teman kelana Madri saat masih bujang dulu. Kisah yang paling heboh dari mereka berdua, adalah ketika leher Madri hampir dibacok dengan celurit karena Madri tak tahu perempuan yang didekatinya saat nonton pengajian adalah tunangan orang. Beruntung Kardi menengahi yang kebetulan pemuda tunagannya itu masih ada hubungan keluarga dengan Kardi. Saat ini, Kardi tak seberuntung Madri. Meskipun demikian atas jasanya itu Kardi diangkat sebagai penjaga sekaligus pengelola kebun oleh Madri.

"Iya. Suamimu ini bukan sakit biasa. Sepertinya ia kena kiriman angin. Mungkin ada orang benci atau iri. Pembisnis besar seperti Madri harusnya punya sekep (5). Saut Teh Maskur.

Jika bintang toejoe tidak mempan maka sakitnya diangap kena guna-guna seperti santet dsb. Terlebih kondisi Madri yang mirip seruling ular itu. Orang kian yakin bahwa ada ilmu hitam yang bersarang dalam tubuhnya. Di kampung ini Pak Mantri dan puskesmas kalah pamor. Orang-orang lebih mempercayai dukun yang bermodalkan air putih dan secarik kertas putih. Jadi, kata epan-tepanih cukup menakutkan sekaligus populer di telinga masyarakat pulau garam terutama kampung Morleke.

"Biasanya salim berapa Kak, kalau ke Keh Dulladi?" Tanya Sarmiti kepada Kardi sambil mengipas tubuh suaminya. Kardi tidak bisa berbicara apa-apa. Ia pasrah dengan maut jika siang ini atau malam nanti merenggut nyawanya dari tubuh ringkihnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x