Sutriyadi
Sutriyadi Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kotak Amal

12 Februari 2019   22:26 Diperbarui: 12 Februari 2019   22:46 77 1 0
Kotak Amal
Foto: posbekasi.com

Sebuah tulisan yang menempel di kotak sebesar blek khong guan, terbuat dari papan. Ditempeli tulisan hasil print out di bagian depannya 'Amal Jariyah Mohon Sumbangan Seikhlasnya untuk Panti Asuhan'. Benda itu ditenteng oleh seorang laki-laki gaek. Memakai kopiah putih lusuh dipenuhi tahi lalat. Baju koko yang hampir menutupi seluruh ujung jemarinya. Celana hitam cingkrang dan sandal jepit tali merah dengan telapak yang kian menipis.

Ia datang dan menghampiri setiap pengunjung kafe. Sambil menyodorkan lubang kotak tersebut ia membungkukkan badannya demi sebuah keinginan yang mulia yaitu membantu anak-anak yatim. Aku pun terenyuh dan kasihan kepada kakek itu ketika melihat para mahasiswa khusyuk menikmati wifi. Bermain gawai dengan kedua tangannya.

Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengeluarkan uang besar atau receh kepada bapak itu. Jangankan memberi, menoleh pun sepertinya leher mereka berat sekali. Telinga mereka tersumbat, mulut mereka saling sahut dengan kawan dalam game online-nya. Benar-benar sebuah perkumpulan mahasiswa robot. Aku semakin tidak yakin nasib Indonesia di tangan mereka.

Kakek itu kemudian mendekatiku yang berada di paling pojok belakang dan menjulurkan tangan sambil memegang kotak amal. Ia mengangguk dan berterima kasih setelah kususukkan uang sebesar 20 ribu ke dalam kotak yang dibawanya. Setidaknya walau pun hanya dapat dariku, uang itu bisa mewaliki seisi pengunjung kafe ini. Walaupun aku tahu pahalanya tidak akan lebih besar dari kotak itu jika tidak iklas. Kemudian ia pergi berpindah ke kafe di sebelah. Mengharap kepada mereka yang memiliki hati, memiliki kepedulian terhadap anak-anak yatim. Walaupun, menurutku si kakek itu salah tempat.

"Seharusnya ke desa-desa, di sana lebih banyak yang peduli dari pada orang-orang yang ada kota ini." Bisikkku kepada Mardi sambil menatap punggung si kakek yang berjalan lunglai.

"Bukankah semua mahasiswa ini juga dari desa?" Jawab Mardi sambil memoles-moles hpnya

"Ah! mungkin mereka sudah divirusi penyakit kota" tepisku.

Kami berdua baru pertama kali menginjak kota pendidikan ini tiga hari yang lalu dan akan melakukan pendaftaran kuliah di salah satu universitas swasta. Kami sengaja memilih kampus swasta, sebab kami khawatir di tengah kuliah nanti kami kekurangan biaya, paling tidak jika di swasta kita bisa ngutang meski harus tanda tangan di atas materai atau menukarnya ementara dengan KTM.

Aku dan Mardi sama-sama dari kampung. Kami sama-sama dari ujung Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat. Kabupaten yang jarang disebut di koran-koran atau media pemberitaan lainnya. Entahlah, apakah warga di sana sudah makmur atau diam-diam jurnalis sepakat tidak memuat derita yang dirasakan rakyat di sana atau jangan-jangan jurnalis enggan turun ke pelosok-pelosok dan memisahkan diri dari kemanusiaan.

Kami berdua kuliah dengan beasiswa dari kedua orang tua dan sedikit dari hasil jerih payah kerja kita selama satu tahun setelah lulus SMA tahun lalu. Sehingga kelak jika sukses, ayah dan ibulah yang harus lebih dulu merasakannya. Selama ini aku tak mengerti ternyata ada beasiswa dari pemerintah, karena dari kampungku, beasiswa itu tidak pernah kudengar. Tapi tidak masalah, bagiku beasiswa itu pinjaman. Kita mesti mengembalikannya kepada orang yang memberikan kepada kita. Begitu juga beasiswa dari pemerintah, mereka yang memperoleh itu mesti berterima kasih kepada orang yang memuluskan jalannya.

"Di kampung sekarang musim hujan Bro, aku tadi nelpon orang rumah" tiba-tiba suara itu keluar dari mulut Mardi di tengah adukan kopi. Aku tertawa kecil dan langsung ingat bagaimana kondisi jalan di sana ketika musim hujan.

"Becek tidak karuan jalannya, sudahlah karet murah, hujan lagi." Imbuhnya.

Ini adalah pertama kalinya saya dan Mardi ngopi di pinggir jalan tidak jauh dari kampus. Hanya sekedar ngopi dan ngobrol mencari keramaian ke kafe yang sederhana. Mencoba berbaur dengan arek-arek singo edan. Kafe yang hanya dikunjungi mahasiswa gila maya dan gila game. Di kota ini kafe-kafe saling berdesakan dengan menawarkan berbagai macam pengamen, anak jalanan, dan tukang amal-amal. Kafe yang mengalami peyorasi. Kehilangan budaya bertukar ide diskusi yang mencerdaskan. Bagiku, ini adalah pemandang baru yang mesti dinikmati.

'Amal Jariyah Mohon Sumbangannya untuk Pembangunan Masjid Fii Sabilillah' Tiba-tiba kotak amal di simpan di atas meja dekat kopi kami. Mardi segera mengeluarkan dompet dan melipat kecil uang sepuluh ribu dan menyusukkan ke dalam lubang sempit di bagian atas kotak itu. Aku sendiri sengaja mengulur waktu mengeluarkan uang, biar giliran Mardi saja kataku dalam hati. Aku tida jadi memasukkan uang ke kotak amal itu karena Mardi sudah lebih dulu bersedekah. Lagi pula aku baru saja memberi kepada panti asuhan. 

Kali ini, ibu renta dengan jilbab era 90-an kelabu hampir menutupi seluruh keningnya dan kemeja yang dikancing bagian lengan. Mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan ibuku.

Mendengar doa-doa dan ucapan terima kasih ibu itu, mataku merembes. Aku jadi teringat dengan ibu di rumah. Sebelum aku berangkat ke tanah Jawa ini, kebiasaan bapak dan ibuku memang sering ke masjid dan membantu memelihara masjid. Hingga hari keberangkatanku pun ibu terlihat menangis mengenakan mukena. Mungkin setelah aku berangkat ibu lebih banyak iktikaf di masjid. Kebetulan masjid dekat dengan rumahku.

Sekarang jarang sekali ada anak muda berkecimpung di masjid, berkeliling mencari amal-amal. Lebih banyak diisi bapak-ibu yang mulai beruban. Mungkin suatu saat nanti aku juga akan begitu. Menghabiskan waktu di masjid-masjid, berkeliling membantu mencarikan dana untuk pembangunan tempat ibadah dan pendidikan. Menumpuk amal untuk menghadapi kematian yang kian dekat.

Sebelum aku pulang, kembali lagi ada seorang anak-anak seusia SD memikul kotak amal masuk keruangan ini. Ruangan kurang lebih 10 x 10 meter persegi. Di tengah berisiknya musik, anak itu berkata "Mas! Sumbangannya untuk mushalla Al-ikhlas" bujuknya kepada kami berdua sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke tulisan di kotak amal itu.

"Banyaknye gak yang nak cari sumbangan" celetuk Mardi sambil berbahasa khas Kalimantan.

"Abes la entar duit nih kalok semue dikasik" Timpalnya sambil melirik dan memainkan alis mata kepadaku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2