Mohon tunggu...
Sutriyadi
Sutriyadi Mohon Tunggu... Penulis lepas

Pekerja sosial

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Dalam Cinta Terselip Maut

25 November 2018   12:42 Diperbarui: 25 November 2018   12:45 679 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Dalam Cinta Terselip Maut
Gambar: doc.pribadi/ahmad bukhari

Mulutnya seolah ingin bicara tapi tak satu kalimat pun keluar dengan jelas. Kedua bibirnya kaku, tercengang. Menatap rona lampu yang menggantung di atas jalan. Terlihat gerimis sebesar butir bercucuran dari langit gelap membasahi poster-poster rokok dan kabel-kabel kusut yang melilit di tiang anim.

Kedua bola matanya berkaca-kaca. Kantung matanya pun seperti menampung genangan air yang tak kuasa dibendung oleh usia. Wajah nestapa menutupi kekaleman dan wajah datar yang kukenal bertahun-tahun lalu. Bunyi napas teresak perlahan keluar dari kerongkongan sempit.

Dengan suara terbata-bata ia bersusah payah melawan kecamuk di pikiran dan dalam dadanya. Mencoba menceritakan sebab-musabab kegetiran hati yang terjadi tiga hari yang lalu, kepadaku. Usahanya sesekali terhenti tak berdaya oleh bayangan semu dalam kepalanya. Ia baru saja menebus cinta dengan lara. Seakan langit dan bumi mengatup oleh kandasnya perjalanan asmara yang sudah bertatah lima bulan lamanya. Ia tak sanggup untuk menceritakan. Tubuhnya terasa berat untuk tegap, kedua bibirnya bengap, lidahnya terasa pahit.

"Nasibku seperti Zainuddin, Bang Sud."

Tiba-tiba suara datar tertatih-tatih keluar dari mulut yang dikelilingi brengos tipis. Lututnya ditekuk, menyanggah siku tangan kanan yang beberapa kali menyingkap rambut yang menyentuh bulu matanya. Telunjuk dan jari tengah tangan kiri menjepit batang rokok tak bermerk. Sudah tiga batang ia sulut tapi tak sempat ia hisap.

"Tapi kau tak sampai sakit, kan?" Aku berbalik tanya.

Aku tahu Zainuddin yang ia maksud adalah tokoh dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Mad sangat menyukai film itu. Mungkin ia mengibaratkan kegetiran nasibnya seperti halnya saat Hayati jatuh ke pangkuan lelaki berkalung dasi.

"Tidak Bang Sud. Hatiku hanya sedikit ngilu." Jawabnya berusaha.

Aku mencoba meratapi apa yang dialami pemuda asal Kalimantan itu. Pemuda yang hanya ingin menitip harapan bahagia kepada satu-satunya gadis desa asal Banyuangi. Satu kampus sekaligus adik kelasnya. Entah ia kenal dari mana, tak sempat diceritakan detail seperti apa. Yang pasti, Mad benar-benar luluh dalam dekapan gadis semester tiga.

Namun musim silih berganti, dan november kali ini menjadi awal turunnya hujan yang tak henti-henti. Begitu pula kisah asmaranya, manis berubah tangis. Cinta harga matinya telah mati. Hidupnya seakan-akan tunggul gosong menunggu hujan dan panas kemudian dilumat rayap dan rata dengan tanah. Nelangsa, cinta dan harapannya terbunuh, ditikam dengan ucapan-ucapan tajam, tak ada harapan. Nasib begitu malang yang ia bangun di jantung Kota Malang. Jauh dari maut, namun sepertinya ia nyaris sekarat.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x