Kesehatan Artikel Utama

Balita Gemuk Belum Tentu Sehat

11 Agustus 2018   07:30 Diperbarui: 11 Agustus 2018   20:42 585 2 2
Balita Gemuk Belum Tentu Sehat
Ilustrasi (Thinkstockphotos)

Bagaimana reaksi anda jika melihat balita gemuk yang memiliki pipi besar dan lucu ? Mungkin anda akan merasa gemas dan ingin mencubitnya. Sampai saat ini masih banyak yang berasumsi bahwa balita yang gemuk merupakan balita yang lucu dan sehat. 

Selain itu ada sebagian orang tua yang merasa bangga jika anaknya terlihat gemuk, karena hal tersebut menunjukan kondisi balita yang sehat sekaligus mencerminkan tingkat sosial orang tua.

Jika kita menelaah kembali arti dari gemuk itu sendiri yaitu keadaan tubuh yang memiliki berat badan lebih atau keadaan tubuh yang besar. Keadaan seperti itulah yang orang-orang anggap  terlihat sehat pada balita terutama ibu-ibu. Terkadang orang-orang tidak menyadari apakah keadaan tersebut normal atau tidak bagi tubuh. 

Sama halnya dengan orang dewasa, kondisi tubuh bayi pun harus dalam keadaan normal, yaitu tidak kekuarang atau kelebihan berat badan. Jika dihitung menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan cara berat badan (dalam Kg) dibagi tinggi badan (dalam meter) dikuadratkan , maka keadaan tubuh yang normal yaitu hasillnya menunjukan angka 18,5 -- 25,0.

Apabila tubuh memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT) melebihi angka 18,5 -- 25,0, maka akan mengarah pada keadaan tubuh yang dikategorekan overweight atau yang lebih parah lagi yaitu obese. Tubuh dengan keadaan overweight atau obese menunjukan adanya penumpukan lemak yang akan berdampak pada kejadian penyakit tidak menular. 

Menurut penelitian, dampak kesehatan akibat kelebihan berat badan khususnya obesitas pada balita umumnya memang lebih ringan dibandingkan pada orang dewasa. Namun kegemukan pada balita harus tetap diperhatikan karena memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan. 

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan jika obesitas terjadi selama balita atau anak-anak maka akan memiliki faktor resiko kesehetaan dini. 

Faktor resiko yang terjadi biasanya seperti tekanan darah dan kolesterol tinggi yang menyebabkan penyakit kardiovaskular, peningkatan glukosa dan resistensi insulin yang mengakibatkan penyakit diabetes tipe 2, serta masalah pernafasan seperti asma dan sleep apnea. Selain itu, jika balita mengalami obesitas maka faktor risiko obesitas dan penyakit di masa dewasa akan cenderung lebih parah.

Riset Kesehatan Dasar 2013 menghasilkan data bahwa Indonesia memiliki jumlah balita gemuk sebesar 11,9 %, sedikit lebih rendah jika dibandingkan balita kurus yaitu 12,1 %. 

Meskipun secara data jumlah balita gemuk tidak sebanyak balita kurus, namun hal tersebut perlu diperhatikan karena menurut WHO (2010), suatu negara dikatakan tidak lagi memiliki masalah gizi bila indikator balita gemuk berada di bawah 5%. 

Selain itu mengingat dampak jangka panjangnya yang juga berkontribusi dalam permasalahan kesehatan masyarakat maka perlu adanya upaya untuk mencegah terjadinya kasus-kasus balita yang mengalami kegemukan.

Langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah balita gemuk yaitu dengan cara memberikan ASI Eksklusif saat mereka bayi ( 0-6 bulan ). Jika ketika bayi diberikan susu formula maka ada kemungkinan untuk gemuk karena susu formula mengandung lemak dan gula yang lebih tinggi. 

Orang tua pun harus menyediakan makanan yang mengandung gizi seimbang sesuai kebutuhan balita. Selain itu pola asuh yang dilakukan harus memberikan peluang bagi balita untuk beraktifitas, seperti bermain di taman, berenang dan kegiatan lain yang tentunya perlu diperhatikan pula keamanannya.

Jadi ketika kita melihat balita gemuk yang lucu kita perlu mengingat bahwa dibalik itu semua terdapat resiko yang berdampak bagi kesehatannya di masa depan. Kita juga harus mulai merubah asumsi  bahwa balita gemuk belum tentu merupakan balita yang sehat. 

Pada dasarnya keadaan sehat tidak hanya ditunjukan oleh kondisi tubuh yang besar saja melainkan banyak indikator lain yang lebih akurat.