Mohon tunggu...
SUTOMO PAGUCI
SUTOMO PAGUCI Mohon Tunggu... Advokat

Advokat | Petualang | Tinggal di Padang, Sumatera Barat | Menulis sebagai rekreasi | sutomo1975@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Ketika Naik Gunung Sago Serasa KKN di Desa Penari

10 September 2019   19:38 Diperbarui: 13 September 2019   06:18 0 8 6 Mohon Tunggu...
Ketika Naik Gunung Sago Serasa KKN di Desa Penari
Menuju pintu rimba (Dok Pribadi)

Contoh trek menuju puncak Robuang, di kiri-kanan jurang (dokpri)
Contoh trek menuju puncak Robuang, di kiri-kanan jurang (dokpri)
Kadang-kadang pijakan kaki di atas jalinan akar-akar kayu. Beberapa titik di antaranya berlobang, yang lobangnya mengarah ke jurang. Jika salah menginjakkan kaki bisa-bisa kaki kejeblos lobang itu. Nauzubillah.

Modal utama saya mendaki gunung adalah: kaki. Karena itu saya sangat berhati-hati menggunakan kaki. Jangan sampai cidera, akibatnya bisa sangat fatal bagi seorang pendaki yang berjalan seorang diri. Siapa yang menolong?

Baru berjalan sekitar lima menit dari pos Ndak Tolok Lee, saya bertemu delapan orang pendaki asal Pariaman yang sedang turun. Mereka bercerita, di camp area puncak Robuang tidak ada pendaki lain. Artinya, saya akan benar-benar sendirian.

Trek menuju puncak Robuang (dokpri)
Trek menuju puncak Robuang (dokpri)
Estimasi dari pos/shelter Ndak Tolok Lee hingga ke camping area terakhir (pos puncak Robuang) adalah dua jam perjalanan. Namun karena saya berjalan seorang diri, baru 1,5 jam berjalan sudah sampai di puncak Robuang.

Puncak Robuang ternyata indah sekali. Tidak terlalu luas, paling muat sekitar 5-6 tenda ukuran besar. Dari sini pemandangan kota Payukumbuh terhampar di bawah. Pemandangan malam pastinya sangat indah: lampu-lampu kota yang terang. Sayangnya, kabut asap menghalangi pemandangan siang-sore ini.

Saya langsung mendirikan tenda. Menghadap ke panorama kota Payakumbuh. Setelahnya masak untuk makan siang.

Selepas makan siang di puncak Robuang (dokpri)
Selepas makan siang di puncak Robuang (dokpri)
Memandang panorama kota Payakumbuh terhalang kabut asap (dokpri)
Memandang panorama kota Payakumbuh terhalang kabut asap (dokpri)
Karena jarak puncak utama (top) Sago hanya sekitar 20 menit dari puncak Robuang, saya memutuskan langsung muncak sore itu. Pukul 16.00 saya meninggalkan tenda ditemani kabut yang makin pekat.

Jalur ke top Sago ternyata sangat ekstrim. 20 menit yang mendebarkan. Tanjakan curam, beberapa tegak lurus, harus bergelantungan di akar-akar kayu, kadang harus menyusup di celah sempit. Sementara di kiri-kanan jalur jurang yang sangat dalam. Sedangkan sore itu jarak pandang kurang bagus karena kabut asap dan kabut cukup tebal. Benar-benar serem.

Muncak sore seorang diri. Suasananya serem. (Dokpri)
Muncak sore seorang diri. Suasananya serem. (Dokpri)
Contoh trek menuju top puncak, kiri-kanan jurang dalam (dokpri)
Contoh trek menuju top puncak, kiri-kanan jurang dalam (dokpri)
Benar saja. 16.20 saya sudah sampai ke top Sago. Ternyata top Sago berupa tanah sempit yang di atasnya berdiri pohon-pohon lumayan besar. Terkepung rimba. Jadi tidak ada pemandangan sekeliling di puncak Sago.

Tak lama di puncak, setelah foto-foto sebentar, saya pun kembali turun ke puncak Robuang. Jam baru menunjukkan pukul 16.30 sore, tapi pemandangan di sekitar sudah hampir gelap. Hutan lebat dan kabut cukup tebal membuat jarak pandang makin pendek.

Susana top puncak Sago sore itu (dokpri)
Susana top puncak Sago sore itu (dokpri)
Belum sampai di tenda tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Segera saya berlari secepat mungkin menuju tenda, sebab lupa bawa mantel.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x