Mohon tunggu...
SUTOMO PAGUCI
SUTOMO PAGUCI Mohon Tunggu... Advokat

Advokat | Petualang | Tinggal di Padang, Sumatera Barat | Menulis sebagai rekreasi | sutomo1975@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Ketika Naik Gunung Sago Serasa KKN di Desa Penari

10 September 2019   19:38 Diperbarui: 13 September 2019   06:18 0 8 6 Mohon Tunggu...
Ketika Naik Gunung Sago Serasa KKN di Desa Penari
Menuju pintu rimba (Dok Pribadi)

Saya tidak percaya hantu, tapi tetap merasa seram saat mendaki gunung Sago. Apalagi pendaki yang percaya hantu? Jangan lupa, di gunung Sago ada pos bernama "Gelanggang Hantu" loh. Dan inilah kisah pendakianku: seorang diri ke gunung Sago.

Tulisan ini sekaligus panduan pendakian bagi yang bermaksud pertama kali mendaki gunung Sago jalur Sikabu-Kabu. Saya berencana mendaki gunung berketinggian 2.261 mdpl ini selama dua hari, Sabtu-Minggu 7-8 September 2019.

Pohon itu patokan di pintu rimba (dokpri)
Pohon itu patokan di pintu rimba (dokpri)
Sebelum itu, hari Rabu 4 September 2019, saya sudah menghubungi nomor kontak Posko Pendakian Gunung Sago Jalur Kayu Kolek, Nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat.

Di ujung telepon Is (pengelola Posko) mewanti-wanti agar tidak membawa cewek (baca: bukan muhrim) saat mendaki gunung Sago. Saya iyakan saja.

Is juga mewanti-wanti memulai pendakian paling lambat pukul 4 sore. Kembali saya iyakan, terbayang maksudnya: agar tidak kemalaman di jalan, karena gunung Sago adalah habitat binatang buas, seperti harimau Sumatera dan beruang, sehingga riskan mendaki malam.

Jalur menuju pintu rimba ke arah atas itu (dokpri)
Jalur menuju pintu rimba ke arah atas itu (dokpri)
Hari Jumat siang 6 September 2019 saya berangkat dari Padang menuju Kota Payakumbuh. Empat jam setelahnya, saya telah tiba di Kota Payakumbuh. Dari kota ini saya berkendara sekitar 20 menit ke arah selatan, menuju Panorama Kayu Kolek, di Nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang.

Jika belum tahu arah Panorama Kayu Kolek, cara terbaik adalah dengan menggunakan panduan Google Maps. Jauh lebih praktis ketimbang tiap sebentar turun dari kendaraan untuk bertanya, sebab cukup banyak persimpangan dari kota Payakumbuh hingga sampai ke objek wisata Panorama Kayu Kolek.

Panorama Kayu Kolek, titik awal pendakian (dokpri)
Panorama Kayu Kolek, titik awal pendakian (dokpri)
Dari kota Payakumbuh, gunung Sago nampak menjulang di arah selatan mata angin. Kelihatan jelas. Inilah salah satu gunung paling dekat kota akan tetapi tidak banyak didaki orang.

Saya sampai di Kayu Kolek mendekati pukul empat sore. Sesuai saran warga sekitar dan Is, saya memutuskan bermalam di Objek Wisata Panorama Kayu Kolek. Sekalian langsung mendaftar sore itu juga: tiket masuk per orang Rp10.000, parkir Rp20.000 (mobil) dan Rp10.000 (motor).

Kebetulan Objek Wisata Panorama Kayu Kolek baru selesai dibangun. Ada fasilitas toilet dan musala yang dapat dimanfaatkan selama bermalam.

Rambu di Panorama Kayu Kolek (dokpri)
Rambu di Panorama Kayu Kolek (dokpri)
Para peziarah gunung Sago dipersilakan bermalam di camping area yang telah disediakan di sekitar Panorama Kayu Kolek. Dari sini pemandangan malam sangat indah. Kota Payakumbuh terbentang di bawah sana.

Karena malas bongkar tas carrier dan buka tenda, saya memutuskan bermalam di musala. "Tidur di musala lebih hangat," kata Eki, salah seorang pengelola posko pendakian lainnya. Ada benarnya, tidur di musala lebih hangat, sebab sedikit angin masuk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x