Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Pensiunan, freelance copy writer - Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Dialek ala Anak Jakarta Selatan, Salahkah?

16 Januari 2022   06:30 Diperbarui: 16 Januari 2022   06:33 127 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Anak Jaksel (sumber: inibaru.id)


Tren ini sebenarnya sudah merata, tidak melulu didominasi anak Jakarta Selatan  Kalau dulu benar, karena orang tua yang banyak mengirimkan anaknya kuliah di manca negara, diawali oleh orang Jakarta Selatan, yang dikenal daerahnya orang yang duitnya tidak berseri. Tetapi kini orang di wilayah Jakarta lainnya, juga Botabek telah hampir merata mengirimkan anaknya kuliah di manca negara, entah dengan biaya sendiri ataupun .melalui Bea siswa.

Yang dimaksud dengan dialek anak Jakarta Selatan ini adalah pembicaraan di kedai kopi atau resto Korea, tempat nongkrong anak-anak muda yang menggunakan bahasa gado-gado yang bilingual bahkan multi langual. Contoh: "Minggu pagi kita akan ikut fun run di Sentul which is I jemput kamu even subuh ya "

Sebenarnya mereka bisa menggunakan bahasa Indonesia,namun karena kebiasaan menggunakan bahasa lain saat kuliah, kadang-kadang bahasa itu jadi tercampur secara tidak disengaja. Bahasa gado-gado ini akhirnya tren dan tampak keren hingga mereka yang kuliah di dalam negeri juga ikut-ikutan menggunakannya. Terlebih mereka yang merasa bahwa menggunakan bahasa gado-gado dengan menyisihkan bahasa asing seolah akan meningkatkan reputasi mereka.

Bahkan, penulis sering mendengar pembicaraan antara orang tua muda dan anaknya menggunakan bahasa gado-gado ini. Sebaiknya, agar tidak merusak bahasa, gunakanlah satu bahasa saja. Bila ingin menggunakan bahasa Indonesia, gunakanlah secara utuh, toh bisa. Sebaliknya, bila terbiasa menggunakan bahasa Inggris, gunakanlah secara lengkap dan konsisten.

Meski kita juga sering menggunakan bahasa gado-gado, bahasa Indonesia dan bahasa daerah, meski tidak merugikan, tetapi kuping ini jadi kurang nyaman. Gunakan 'saya' tetap 'saya', jangan diganti dengan 'gue'.

Penggunaan bahasa gado-gado tidak merugikan siapapun, bahkan dapat memperkaya suatu bahasa. Namun pada penerapannya harap diselaraskan agar tidak merusak bahasa tertentu dan kita tetap bisa  melestarikannya.

Apakah Bahasa Indonesia sulit? Sebenarnya tidak, asal kita terbiasa menggunakannya dengan benar. Justru penulis pernah menemukan suatu kejanggalan. Siswa yang masuk ke Perguruan Tinggi harus menjalani program matrikulasi Bahasa Indonesia, padahal Bahasa Inggris dapat lulus normal. Jadi, cintailab Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kita. Yang dulu dapat menyatukan seluruh pemuda-pemudi dari pulau yang berbeda dengan bahasa daerah yang berbeda pula pada peristiwa Soempah Pemoeda 1928.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan