Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Pensiunan, freelance copy writer - Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Kiat Menaklukkan Puncak Kilimanjaro

19 Juni 2021   20:52 Diperbarui: 20 Juni 2021   12:47 200 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kiat Menaklukkan Puncak Kilimanjaro
Rahmat Hadi (dok: Koteka)

Sabtu 19 Juni 2021 sore, cuaca mendung di Tangsel, sangat cocok untuk mengikuti Koteka Talks 40 yang diselenggarakan oleh Koteka, komunitas traveler Kompasiana. Nara sumber kali ini adalah Rahmat Hadi, pendaki gunung dan penulis buku, seorang Kompasianer dan mantan admin Koteka. Acara sangat seru karena dipandu oleh Dhave Dhanang, seorang admin Koteka yang memilki hobi mendaki gunung.

Tema kali ini adalah "Mendaki Gunung Kilimanjaro, Afrika". Mengenai Rahmat Hadi, dia memang sudah senang mendaki bukit dan menyusuri gua sejak aktif di kepramukaan di Bone, Sulawesi Selatan. Sayangnya di Bone tidak ada gunung yang tinggi. 

Hadi mulai mendaki gunung tahun 1992 sejak kuliah di Fakultas Kehutanan. Banyak gunung di pulau Jawa sudah didakinya, termasuk Gunung Kerinci di Sumatera dan Rinjani di Lombok. Setelah lulus kuliah dan bekerja di Jakarta kegiatan mendaki gunung agak berkurang, tapi mulai 2010 mulai menekuni hobi mendaki gunung khususnya untuk menghabiskan hak cuti kerjanya.

Hadi memutuskan berhenti bekerja, setelah bekerja kantoran selama 23 tahun, menetap di Jakarta selama 16 tahun, dan hijrah ke Yogyakarta tahun 2020. Hadi beralih profesi sebagai wiraswastawan dengan mendirikan warung kopi dengan konsep Himalaya, "Mountain, Book & Coffee". Di warung kopinya, Hadi akan melayani semua pertanyaan tentang gunung dan pendakian.

Bagi Hadi, mendaki gunung mengajarkan kesabaran dan hidup harus punya tujuan, jadi bukan sekedar berfoto di puncak gunung saja. Setelah mendaki beberapa gunung di Indonesia, muncul tantangan pada diri sendiri untuk mendaki gunung  di luar negeri. Pertama kali mendaki gunung di depan Himalaya, lalu Kilimanjaro dan kembali.lagi ke Himalaya.

Nilai kehidupan yang dipetiknya saat mendaki gunung adalah untuk menempa diri bahwa dalam kehidupan perlu proses. Naik gunung merupakan passion. Banyak belajar, berkomunikasi dengan penduduk lokal, dan tidak sekedar mendapat pengakuan sudah pernah mendaki gunung tertentu. Sebagai seorang pendaki gunung, Hadi  juga harus belajar rock climbing di Bandung untuk mempelajari keselamatan selama pendakian. Mengenai skill mendaki, Hadi mengaku banyak belajar langsung saat mendaki.

Menanggapi fenomena naik gunung yang kini mulai banyak diminati. Hadi kembali mengingatkan bahwa tujuan utama mendaki gunung bukannya untuk sekedar berfoto, tetapi harus mencari nilai-nilai yang lebih baik. 

Seorang pendaki gunung harus merasa bersahabat dengan slam dalam kondisi baik dan buruk. Banyak peminat karena kini mencari alat pendakian juga lebih mudah daripada dulu. 

Sayangnya, kini banyak orang yang belum tahu banyak tentang gunung sudah berani menjadi pemandu. Hadi sangat menginginkan banyak pendaki senior msu berbagi kepada calon pendaki gunung, seperti yang pernah dilakukannya, yakni pernah berbagi pada sebuah talk show tentang pendakian, termasuk masalah safety dan survive. 

Selain pengalaman mendaki gunung Himlaya dan Kilimanjaro, Hadi juga pernah mendaki gunung di Maroko dan Rusia. Pengalaman mendaki memiliki nilai tersendiri, dia pernah kehilangan barang-barang yang dibawanya. Untuk membeayai perjalanan pendakian di luar negeri Hadi tidak mengandalkan sponsor, melainkan dana dari hasil tabungan karena bekerja di perusahaan asing dan masih lajang. Hadi selalu hidup hemat, dia tidak senang nongkrong di cafe seperti teman-temannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN