Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Tips Menghadapi Covid-19 dari Dokter Zumaro

10 April 2021   19:45 Diperbarui: 11 April 2021   11:46 125 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tips Menghadapi Covid-19 dari Dokter Zumaro
Dokter Zumaro (sumber: Koteka)

Sore ini, Sabtu 10 April 2021  komunitas Koteka kembali menyelenggarakan Koteka Talks ke 30 melalui laman Zoom. Agak berbeda dari biasanya yang selalu membahas topik terkait wisata, pada Koteka Talks kali ini menurunkan topik "Hidup Aman Dengan Corona" yang merupakan topik hangat saat ini. Sebagai nara sumber utama adalah Kolonel CKM dr Ahmad Zumaro MSi Med SpB-KBD yang merupakan dokter  RS Kepresidenan RSPAD Gatot Subroto Jakarta yang sekaligus seorang penyintas Covid-19. Semula direncanakan menampilkan Nanang Diyanto perawat RSUD Harjono Ponorogo, sebagai nara sumber pendamping, namun karena saat acara berlangsung sedang bertugas dikamar operasi sehingga gagal tampil. Sebagai moderator ditugaskan punggawa Koteka, Dave Dhanang MSi, seorang dosen biologi UKSW Salatiga dan  pengembang antiseptik.

Pada acara ini dokter Ahmad Zumaro yang lebih akrab dipanggil dokter Aro mengisahkan pengalamannya menghadapi paparan Covid-19. Pada awal Maret 2020, Indonesia mulai menemukan pasien yang terdampak Covid-19 dan pada tanggal 10 Maret 2020 RSPAD ditetapkan sebagai rumah sakit untuk penanganan Covid-19. Salah satu tindakan adalah menutup kamar operasi dan tenaga kesehatan masuk bergiliran. Saat kebagian tidak bertugas, dokter Aro pulang ke Semarang. Saat tiba di Semarang, dokter Aro justru merasa badan kurang sehat, sulit tidur  sering buang air kecil, tapi indra penciuman masih baik, namun mata berkunang-kunang. Merasa badan kurang fit, dokter Aro menghubungi kolega dokter di kota Semarang. Mau test swab banyak laboratorium tutup, akhirnya dokter Aro pergi ke RS Tentara Semarang dan dari hasil test swab dinyatakan positif. Isteri, anak-anak dan ART juga dilakukan test swab untungnya hasilnya negatif, meski ada anaknya yang demam.

Dokter Aro langsung dinyatakan sebagai PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Dokter Aro setelah berdiskusi dengan DPJP akhirnya diizinkan isolasi mandiri di rumah. Karena dengan isolasi mandiri di rumah justru menguntungkan Pemerintah, karena semua beaya rumah sakit yang harus ditanggung oleh Pemerintah harus ditanggung oleh pribadi.

Dokter Aro menempati kamar sendiri yang terpisah dari keluarganya. Namun kolega dokter maupun teman-teman dari Dinas Kesehatan tetap mengunjungi dan memeriksanya dengan mengenakan alat pelindung diri lengkap. Dokter Aro harus melakukan isolasi mandiri selama satu bulan. Dan baru dinyatakan negatif setelah menjalani test swab sebanyak 5 kali.
 Selama satu bulan itu dokter Aro merasa waktu berjalan sangat lambat, apalagi dia sulit tidur. Akibatnya dokter Aro makin dekat ke Tuhan rajin membaca kitab suci, mengaji dan rajin sholat. Dokter Aro juga suka mencari tempat sepi untuk berolahraga meski hanya jalan kaki atau lari ringan, sambil berjemur yang dilakukan tiap hari antara jam 8 hingga jam 10 pagi, lalu cari makan pagi. Pokoknya hidup dibuat senang. Prinsipnya dengan rajin olahraga, dokter Aro yakin akan menang melawan virus. Dokter Aro juga selalu mencari cara mengatasi stress, dengan cara pasrah, tidak mau larut dalam kesedihan, dan dekat ke Tuhan. Selama berada di dalam rumah tetap pakai masker.
Dokter Aro yakin orang dapat terhindar dari paparan virus dengan dua cara, yakni menghindari jangan sampai terinfeksi virus dan bila terinfeksi virus, sistem imun dalam tubuh kita harus lebih kuat dari virus dengan cara rajin  olahraga, makan makanan sehat, dan selalu gembira.

Menurut dokter Aro, virus tidak ada obatnya, obat yang diberikan dokter hanya untuk mengobati batuk, demam, dll. Selama isolasi mandiri dokter Aro tidak mengkonsumsi vitamin secara khusus, tetapi pernah mengkonsumsi kapsul sambiloto yang diberi teman dokternya, hanya untuk membuat senang temannya saja. Hingga saat ini dokter Aro masih tanda tanya dengan issue bahwa plasma konvalesen dari penyintas Covid-19 sanggup nengalahkan virus. Secara logika benar, namun belum ada penelitian resminya.

Setelah dinyatakan sembuh dan dapat kembali ke Jakarta, dokter Aro mulai menghidupkan kamar operasi di RSPAD. 

Menurut dokter Aro, meski hasil test swab sudah negative, sebaiknya penyintas Covid-19 tetap isolasi mandiri selama 2 minggu untuk mencegah kekeliruan test swab. Menurut dokter Aro, ada kelemahan akurasi saat pengambilan sample.

Saat ditanya mengapa pasien Covid yang masih muda ada yang meninggal juga, menurut analisanya disebabkan karena faktor kecapaian sehingga imunitas tubuh rendah. Menurut dokter Aro, kelompok yang paling rentan  terpapar virus adalah manula, sebaiknya jangan sampai terpapar. Bila orang tua terserang virus, dan  organ tubuhnya sudah rusak tentu sulit ditolong atau disembuhkan. Yang berbahaya orang dengan komorbid ( diabetes, hipertensi, asma, obesitas, penyakit akibat merokok). 

Bicara mengenai vaksinasi, orang dengan komorbid harus disiapkan dulu sebelum vaksinasi. Orang yang sudah divaksin masih bisa terpapar tergantung kekuatan imunnya. Bila komorbid terkontrol tentu orang boleh di vaksin.

Gejala Ikutan Paska imunisasi ( seperti lemas) ini gejala wajar, saat akan divaksin orang jangan kecapaian tetapi harus dalam kondisi fit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x