Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Mungkinkah Ada Sejarah yang Hilang di Jatinegara?

17 Maret 2019   07:54 Diperbarui: 17 Maret 2019   08:04 0 3 2 Mohon Tunggu...
Mungkinkah Ada Sejarah yang Hilang di Jatinegara?
Pusat Akik Terbesar di Asia Tenggara (sumber: Wisata Kreatif Jakarta)

Jatinegara masih belum jelas asal nama ini, ada yang menyebutkan karena dulu banyak pohon jati. Ada pula yang mengaitkan dengan Pangeran Jayakarta yang memiliki sifat "jati" pada negara.
Kawasan Jatinegara, Jakarta Timur ini banyak menyimpan ikon-ikon sejarah yang sudah mulai banyak yang hilang tergerus oleh zaman. Kawasan Jatinegara juga dikenal majemuk dan penuh toleransi, disana terdapat masjid Al Fattah, Gereja GPIB Koinonim dan tiga klenteng.
Stasiun Jatinegara
Wisata Kreatif Jakarta memiliki program wisata jalan kaki guna mengeksplorasi kawasan Jatinegara, dengan mengambil titik kumpul di Stasiun Jatinegara. Program ini sangat menarik, karena dengan berjalan kaki tentu lebih mudah mengeksplorasi kawasan Jatinegara yang terkenal macet.
Stasiun Jatinegara merupakan salah satu stasiun kuno karena dibangun tahun 1910, bergaya art deco dan masih aktif berfungsi untuk menurunkan penumpang.

Kediaman Meester Cornelis (sumber: Wisata Kreatif Jakarta)
Kediaman Meester Cornelis (sumber: Wisata Kreatif Jakarta)
Dari Stasiun Jatinegara, peserta diajak menuju sebuah gedung tua yang merupakan kediaman Meester Cornelis Senen (1621-1661). Gelar Meester karena berprofesi sebagai guru agama Kristen. Guru asal pulau Banda, Maluku ini cukup dikenal masyarakat, sehingga kawasan Jatinegara dulu dikenal dengan nama Mester. Bahkan sebuah pasar yang ada dinamai Pasar Mester. Gedung tua ini pernah menjadi markas Kodim 0505 dan saat ini sedang dalam proses untuk menjadi cagar budaya dan akan difungsikan sebagai Gedung Kesenian Jakarta Timur.
Berikutnya peserta tour diajak mengunjungi Museum Benyamin Sueb, seorang tokoh seniman legendaris Betawi, yang baru saja diresmikan. Museum yang dibuat dengan arsitektur Betawi ini menunjukkan lagu-lagu dan film yang pernah dihasilkan oleh Almarhum Benyamin.

Museum Benyamin (sumber: Wisata Kreatif Jakarta)
Museum Benyamin (sumber: Wisata Kreatif Jakarta)

Berikutnya menyusuri gang sempit guna mengunjungi Klenteng Bio Shia Jin Kong di Gang Padang, seperti klenteng lainnya yang menyimpan banyak patung dan lilin, disini pengunjung juga dapat meramal nasib melalui sarana ciam si. Yakni mengocok bilah-bilah kayu dan menjatuhkan satu bilah yang nomornya dicocokkan dengan daftar referensi yang tersedia. Pada umumnya orang sulit menafsirkan artinya, karena tulisan berujud karya sastera yang tinggi.
Selain klenteng ini, di kawasan Jatinegara terdapat dua vihara besar, yakni Vihara Amurwa Bhumi yang sudah berusia 325 tahun di Bali Mester dan Vihara Avalokitesvara di Jatinegara Timur.
Setelah melewati sebuah toko penggilingan kopi, rombongan tiba di Pasar Rawa Bening yang merupakan pusat batu akik terbesar di Asia Tenggara.
Kuliner Jatinegara
Setelah berjalan cukup jauh, sebagian besar peserta yang sudah mulai kelaparan diajak mencicipi Ayam Goreng Legendaris Ibu Haji. Setelah melewati Pasar Hewan Jatinegara, rombongan ditantang untuk menikmati Gado-Gado dan Mie Selat Jatinegara yang legendaris. Rumah makan ini uniknya tiap hari Minggu tutup.

Ayam Goreng Ibu Haji (sumber: Wisata Kreatif Jakarta)
Ayam Goreng Ibu Haji (sumber: Wisata Kreatif Jakarta)
Banyak peninggalan sejarah yang masih dapat diselamatkan di kawasan Jatinegara. Meski kawasan ini selalu macet, tetap harus ada perhatian terhadap ikon-ikon sejarah kota Jakarta yang masih tersisa.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x