Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Cermat Membaca "Term & Condition"

12 Januari 2019   12:16 Diperbarui: 12 Januari 2019   17:31 709 8 2
Cermat Membaca "Term & Condition"
Ilustrasi Cash Back (sumber: techapple.net)

Apa itu T & C atau Term and Condition, atau terjemahan bebasnya Syarat dan Kondisi. Syarat dan Kondisi ini lazimnya mengikuti sebuah promosi utama dan ditandai dengan bintang segi enam (asterisk) dan dituliskan di pojok bawah atau di bagian pinggir flyer dengan menggunakan huruf dengan ukuran font minimalis alias sangat kecil.

Karena pemasang iklan sudah menuliskan Syarat dan Kondisi, maka mereka tidak dapat dituduh menipu konsumen. Misal, iklan menarik bertuliskan "Cash Back 50%" atau "Potongan Harga 25%" dan sejenisnya, bila diikuti tanda asterisk, lalu dituliskan Syarat dan Kondisi, maka konsumen wajib mencermati isi Syarat dan Kondisi tersebut.

Ada tiga contoh kasus yang diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi Anda, yakni :

1. Cash Back 50%

Iklan menyolok bertuliskan "Cash Back 50%" sangat mudah ditemukan beberapa hari menjelang payday atau hari gajian. Baik di baliho raksasa, flyer yang dibagikan, atau pesan melalui media sosial WhatsApp.

Setelah kata kunci "Cash Back 50%", Anda harus mencari dan mencermati Syarat dan Kondisi-nya. Contoh maksimum cash back Rp. 20.000,-. Jadi, misal Anda berbelanja Rp 100.000,-, Anda tidak boleh mengharapkan mendapatkan cash back Rp 50.000,- meski iklan utama mencantumkan besar-besar "Cash Back 50%". Kenapa? Karena pada Syarat dan Kondisi tertulis "Maksimum cash back Rp 20.000,-", dengan demikian cash back terbesar yang akan Anda terima hanya sebesar Rp 20.000,- saja.

Anda boleh mengharapkan cash back 50%, bila Anda hanya belanja Rp 40.000,- , karena cash back yang akan Anda terima adalah 50% x Rp 40.000,- = Rp 20.000,- yang setara dengan maksimum cash back yang diakui pada Syarat dan Kondisi.

2. Diskon 75%

Pada iklan utama dituliskan "Dapatkan diskon 75%" dan diikuti dengan Syarat dan Kondisi "Gunakan aplikasi diskon, maksimum Rp 7.000,-", yang artinya Anda harus mengklik aplikasi diskon untuk meraih diskon tersebut, itupun hanya maksimum Rp 7.000,-.

Contoh kasus, Anda melakukan transaksi Rp 20.000,- maka Anda tidak boleh mengharapkan diskon sebanyak Rp 15.000,- meski pada iklan utama jelas tertulis diskon 75%. Diskon maksimum yang akan Anda dapatkan hanya Rp 7.000,- tidak lebih.

Agar Anda dapat meraih diskon sesuai iklan utama, maka Anda hanya boleh belanja maksimum Rp 8.000,- karena Anda akan mendapatkan diskon Rp 6.000,- ; jadi Anda cukup membayar Rp 2.000,- saja.

Bila Anda lupa menggunakan aplikasi diskon, maka Anda dipastikan tidak akan memperoleh diskon sepeserpun. Makanya, jangan jadi pelupa ya di era zaman now ini.

3. Potongan Harga 25%

Setelah Anda melihat iklan utamanya, cermati Syarat dan Kondisi yang tertulis. Contoh, tertulis "Pembelian minimum Rp 40.000,-". Saya pernah membeli roti setelah di depan kasir, kasir cantik itu menyarankan "sebaiknya tambah lagi rotinya, agar nilai pembelian mencapai Rp 40.000,- atau mendapat pertanyaan "Bapak ingin dapat potongan harga 25% ?".

Bila transaksi yang Anda lakukan senilai Rp 40.000,- maka Anda cukup membayar kepada kasir, senilai Rp 30.000,- karena Anda mendapatkan potongan harga sebesar 25%. 

Sama halnya dengan iklan di beberapa rumah makan yang bekerja sama dengan kartu kredit tertentu, diskon 10-25% tetapi diikuti dengan Syarat dan Kondisi yang harus Anda cermati. Bila Anda hanya bertransaksi senilai Rp 250.000,-, Anda jangan berharap bisa mendapatkan potongan harga, karena potongan harga hanya diberikan kepada pelanggan yang bertransaksi minimal (contoh) Rp 300.000,-

Jadi, saat membaca iklan suatu produk, Anda harus cermati benar-benar Syarat dan Kondisi. Daripada Anda sudah cenderung konsumtif, keuntungan yang diperoleh tidak sesuai dengan yang dibaca pada iklan utama. Ironis khan.

Catatan: penulis sengaja tidak menyebutkan merek atau brand, guna menghindari konflik kepentingan.