Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Mengenal Kawasan Gondangdia Dulu dan Kini

21 Maret 2018   17:00 Diperbarui: 21 Maret 2018   17:36 0 1 0 Mohon Tunggu...
Mengenal Kawasan Gondangdia Dulu dan Kini
Gelato (sumber: Jakarta Food Traveler)

Bagi kebanyakan warga Jakarta maupun para pecinta jalan-jalan, ikon bagi kota Jakarta adalah Kota Tua. Kota Tua adalah kawasan dengan bangunan berarsitektur Eropa yang merupakan cikal bakal pemerintahan bagi wilayah Jakarta dan sekitarnya yang saat itu dikenal dengan nama Batavia.

Ternyata, selain Kota Tua ada lagi sejarah kota Batavia yang perlu kita pahami, yakni Gondangdia. Kawasan Gondangdia adalah kawasan yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda setelah Weltevreden atau Batavia Baru. Kawasan Gondangdia ini dibangun oleh biro arsitek Boplo yang kantornya sekarang menjadi masjid Cut Meutia.

Jakarta Food Traveler telah merancang sebuah tour jalan kaki guna menjelajah kawasan Gondangdia yang diberi jejuluk Gondangdia Boplo Tour. Kenapa disebut Boplo Tour, karena daerah Gondangdia ini dulu pernah ada penjual gado-gado yang terkenal yang bernama Gado-Gado Boplo, sekarang lokasi Gado-Gado Boplo telah berpindah ke Jalan Gereja Theresia, di kawasan Menteng.

Sebagai titik kumpul tour diawali dari Museum Joang 45 atau yang lebih dikenal dengan nama Gedung Joang di jalan Menteng Raya 31, Jakarta Pusat. Gedung Joang ini pada era penjajahan Belanda adalah sebuah hotel dan di masa penjajahan Jepang menjadi  tempat propaganda pendidikan politik. Di Museum Joang 45 ini peserta dapat mempelajari perjuangan para pahlawan pada masa perjuangan melawan penjajah.

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi titik kuliner tempo dulu yang masih eksis hingga hari ini yakni Toko Roti Lauw. Selain toko roti Lauw, penjual roti ini juga memiliki armada gerobak kue yang bergerak di seputar wilayah Gondangdia-Menteng.  Roti Lauw menjajakan aneka roti yang dibuat tanpa bahan pengawet, sehingga harus habis pada hari itu juga.

Gerobak Roti Lauw (sumber: Jakarta Food Traveler)
Gerobak Roti Lauw (sumber: Jakarta Food Traveler)
Peserta tour lalu diajak mengunjungi Pasar Gondangdia yang baru selesai direnovasi saat Joko Widodo masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Disini peserta tour mampir ke kedai jamu yang sudah ada sejak 1960-an dan sempat dikunjungi Joko Widodo saat meresmikan revitalisasi pasar Gondangdia, kemudian diajak mencicipi Rujak Cingur Pak Hadi yang sudah sangat kondang kelezatannya sejak tahun 1970. 

Rujak Cingur adalah kuliner khas Jawa Timur, isinya sayuran, buah-buahan, tahu, tempe dan maskotnya adalah mulut / hidung sapi yang rasanya kenyal kenyil, lalu disiram dengan sambal kacang yang telah dicampur dengan petis. Untuk menambah sensasi menyantap Rujak CIngur, lebih sedap lagi bila ditemani dengan kerupuk putih.

Rujak Cingur (sumber: Jakarta Food Traveler)
Rujak Cingur (sumber: Jakarta Food Traveler)
Lalu peserta tour diajak mencicipi ice cream Gelato di Nora Gelato, sebuah gerai gelato kekinian yang didominasi warna biru muda. Gelato adalah salah satu jenis ice cream yang berasal dari Italia. 

Gelato terbuat dari susu, cream, dan gula, lalu ditambah kacang dan buah-buahan. Gelato termasuk ice cream jenis non fat atau berkadar fat rendah.

Gelato (sumber: @noragelato)
Gelato (sumber: @noragelato)
Sisakan ruang di perut Anda, karena Anda segera menikmati lezatnya Sop Buntut Cut Meuthia yang legendaris dan sangat terkenal dengan penggunaan daging merahnya. 

Rumah makan ini tidak terlalu luas, hanya menempati ruangan satu meter kali enam meter dengan pintu-pintu terbuka. Terkenal dengan nama "Cut Meuthia" karena letaknya yang sangat dekat dengan masjid Cut Meuthia. Sop  Buntut yang sudah mulai membuka gerainya sejak tahun 1960-an ini menjadi sangat terkenal karena banyaknya tokoh terkenal termasuk para Menteri yang menjadi langganan makan siang di rumah makan sederhana ini, tentunya dengan cara take away.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2