Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Wisata Kuliner dan Religi di Gambir

24 Agustus 2017   10:45 Diperbarui: 24 Agustus 2017   10:54 0 0 0 Mohon Tunggu...
Wisata Kuliner dan Religi di Gambir
Taiyaki (Sumber: www.http://keeprecipes.com/recipe/howtocook/taiyaki-fish-shaped-pastry-recipe)

Jakarta Food Traveler menyelenggarakan Tour Jelajah Gambir pada sebuah hari Sabtu di bulan Agustus 2017. Diawali dengan  mengeksplor kuliner manca negara di stasiun Gambir.  

Pertama-tama kami mencoba Kue Taiyaki Jepang yang merupakan cabang dari Kedai Taiyaki di kaki gunung Fujiyama. Taiyaki adalah kue berbentuk ikan yang didalamnya berisi kacang merah.

Berikutnya kami mencicipi Es Teler dalam bentuk Es Lilin, kalau lazimnya Es Teler disajikan di dalam mangkok, maka di Stasiun Gambir ada penjual Es Teler yang berinovasi menjajakan Es Teler dalam bentuk lebih praktis, yakni dalam ujud Es Lilin, sehingga dapat dicicipi sambil berjalan kaki.

Kami juga mencoba Ice Cream Mochi khas Jepang. Mochi yang lentur dipadukan dengan dingin dan manisnya ice cream, merupakan sensasi tersendiri.

Tour dilanjutkan dengan memadukan wisata kuliner dengan wisata religi yang menunjukkan keberagaman agama di kawasan Gambir. Kami mengunjungi tiga rumah ibadah di mulai dari Gereja Immanuel yang sering digunakan syuting film, yang terletak tepat di depan Stasiun Gambir. Gereja Immanuel  mulai dibangun tahun 1834 dengan arsitektur Paladinisme dan selesai dibangun 1839, gereja ini merupakan Gereja Prostestan Indonesia bagian Barat (GPIB).  

Lalu kami singgah di Gereja Katedral, sebuah gereja Katolik yang sudah sangat tua. Gereja sekarang dengan arsitektur neo-gotik diresmikani tahun 1901. Gereja awalnya berdiri 1810, beberapa kali direnovasi karena  terbakar 1826 dan rubuh pada 1890. 

Kami juga mengunjungi Mesjid Istiqlal yang lokasinya berhadapan dengan Gereja Katedral. Luar biasanya, arsitek yang merancang Mesjid Istiqlal adalah seorang Nasrani, Ir. F. Silaban (1954). Mesjid Istiqlal yang bertema Merdeka ini dibangun mulai 24 Agustus 1961 dengan peletakan batu  pertama oleh Presiden Soekarno dan diresmikan 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Gereja Katedral dan Mesjid Istiqlal mencontohkan toleransi yang tinggi, dengan saling bekerja sama menampung parkir kendaraan pengunjung rumah ibadah secara bergantian.

Kami sempat mampir dan berfoto di Resto Dapur Babah yang memiliki interior klasik oriental. Resto Dapur Babah dikelola oleh manajemen yang sama dengan Resto Loro Jonggrang yang bernuansa etnis. Ke dua resto ini menyajikan makanan tradisional Indonesia dengan cita rasa tinggi (fine dining).

Tour berakhir di Es Krim Ragusa, Jl. Veteran, kedai es krim Italia legendaris yang telah ada sejak jaman Belanda (1932). Menu andalan Es Krim Ragusa adalah Spaghetti Ice Cream, Banana Split dan Tutti Frutti, disamping aneka rasa ice cream home made tanpa bahan pengawet. Kedai es krim ini selalu ramai sehingga sangat beruntung, bila Anda berhasil mendapatkan tempat duduk di kursi rotan yang usianya jauh diatas usia Anda.