Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Bincang Santai Bersama Sarnadi Adam: "Kepada Siapa Tongkat Estafet Itu Akan Diserahkan?"

2 Juni 2017   17:50 Diperbarui: 2 Juni 2017   18:03 825 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bincang Santai Bersama Sarnadi Adam: "Kepada Siapa Tongkat Estafet Itu Akan Diserahkan?"
Sarnadi Adam, pelukis budaya Betawi (Dokpri)

Tak ada penampilan eksentrik pada diri seniman Betawi ini. Rambut tersisir rapi dengan baju lengan panjang, lebih tepat penampilan seorang dosen atau guru. Kenapa langka? Karena Sarnadi adalah satu-satunya pelukis Betawi yang mengkhususkan memotret budaya Betawi dengan segala pernak-perniknya dan dipindahkan ke atas kanvas.

Suka Duka

Pria asli Betawi ini lahir di Simprug tanggal 27 Agustus 1956, sama halnya dengan warga Betawi lainnya yang acap tergusur. Kakeknya masih tinggal di Senayan, ayahnya sudah tergusur ke Simprug dan Sarnadi sendiri kini masih bertahan di Rawa Simprug.

Sebagai pelukis modern yang sudah mengenyam pendidikan formal melukis, Sarnadi menamatkan kesarjanaan seninya di Sekolah Senirupa Indonesia dan Sekolah Tinggi Senirupa Indonesia di Yogyakarta. Sebagai candradimuka pelukis muda Indonesia, kota Yogyakarta memang patut diapresiasi.

Setelah mendapatkan gelar sarjana seni-nya, Sarnadi yang lebih dikenal sebagai Bang Nadi kembali ke Jakarta dan mencoba mencari style-nya sebagai pelukis pemula. Perjuangan awalnya sungguh terjal, puluhan karyanya terserak begitu saja di sanggarnya, tanpa ada seorangpun atau institusi yang berminat mengapresiasi karyanya dengan membeli karyanya.

Masih beruntung, Sarnadi tahun 1986 berhasil diterima sebagai dosen Jurusan Seni Rupa pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sehingga masih mampu bertahan hidup. Itupun hampir membuatnya patah hati, karena orang tua calon isterinya sempat tidak menyetujui saat dia melamar untuk dijadikan isteri. Perawakannya yang gondrong dan dekil saat itu, membuat orang tua calon isterinya meragukan kesejahteraan puterinya bila dipersunting seorang seniman.

Nasib baik berpihak padanya, lambat laun, lukisannya mulai terjual sehingga Sarnadi dapat menafkahi keluarganya, tanpa harus membuat pilihan beli cat atau beli susu untuk anak. Pada awalnya, semua pesanan lukisan diterimanya, termasuk melukis wajah, yang penting dapur rumah tangganya dapat terus ngebul.

Ciri khasnya sebagai pelukis budaya Betawi tercium oleh Dinas Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta, sehingga Sarnadi mulai sering diajak berpameran di dalam maupun di luar negeri untuk memperkenalkan budaya Betawi. Hampir semua gubernur DKI Jakarta memiliki karyanya untuk dipajang di rumahnya, serta menggunakan lukisannya sebagai hadiah bagi tamu-tamu penting pemprov DKI Jakarta.

Meski belum menjadi maestro dunia, namun nasibnya tidak seburuk Vincent van Gogh, yang akhirnya harus bunuh diri karena frustrasi, namun setelah meninggal dunia karyanya justru diakui dunia sebagai karya unggulan.

Sebagai pelukis satu-satunya yang fokus pada budaya Betawi, memberikan keberuntungan dan nilai tambah bagi Sarnadi. Karena tiap kali pemerintah mau berpameran pasti akan mengajak dia. Maka karya-karya bang Nadi mulai mendunia, pameran lukisan banyak diikutinya seperti di Belanda, Amerika Serikat, Argentina, Perancis, Guangzhou, GuangDong dan Beijing.

Sarnadi dan lukisannya (Sumber: www.harnas.co)
Sarnadi dan lukisannya (Sumber: www.harnas.co)
Dukanya, hingga hari ini Bang Nadi belum berhasil mendapatkan generasi penerusnya. Banyak upaya sudah dilakukan, seperti mengasah passion ke dua anaknya yang ternyata berhenti hanya sampai SMP, dan lebih memilih profesi sarjana teknik elektro dan ahli manajemen. Juga mengupayakan regenerasi melalui mahasiswa di kampus, namun rata-rata tidak tahan menghadapi terjalnya perjuangan di panggung seni dan akhirnya memilih meninggalkan dunia seni. Bang Nadi juga banyak melirik sanggar-sanggar lukis, namun belum berhasil menemukan penerusnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x