Mohon tunggu...
Susi Susanti
Susi Susanti Mohon Tunggu... Susi Susanti

Keluarga Adalah segalanya

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Dampak Covid-19 terhadap Kinerja Ekspor Bahan Baku Kelapa Sawit Di Indonesia

24 Januari 2021   23:29 Diperbarui: 24 Januari 2021   23:32 74 0 0 Mohon Tunggu...

Covid-19 merupakan suatu penyebab terjadinya krisis kesehatan dan ekonomi baik di Indonesia maupun di skala Internasional. Dalam Sektor ekonomi juga mengalami dampak serius akibat pandemi virus corona yang melanda dunia, salah satunya Indonesia sendiri. Dimana kita ketahui Bersama bahwa Pembatasan aktivitas dalam masyarakat sangat berpengaruh pada aktivitas bisnis yang kemudian berimbas pada perekonomian yang semakin hari semakin menurun.  


Menurut Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen. Sebelumnya, pada kuartal I 2020, BPS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 2,97 persen, turun jauh dari pertumbuhan sebesar 5,02 persen pada periode yang sama 2019 lalu. Kinerja ekonomi yang melemah ini dirasakan juga di perdagangan internasional.


Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan, Dimana ekspor didefiniskan sebagai kegiatan mengeluarkan Barang dari Daerah Pabean sedangkan, eksportir didefiniskan sebagai orang perseorangan atau lembaga atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum, yang melakukan ekspor. Dengan adanya Undang-undang ini akan memudahkan berbagai negara untuk melakukan ekspor dan impor dalam perdagangan internasional.


Komiditi kelapa sawit merupakan salah satu sumber pangan nasional yang banyak diminati dari berbagai negara didunia. Dimana kita ketahui Bersama bahwa kelapa sawit Sebagai bahan penghasil minyak nabati, sehingga negara mempunyai peran yang sangat penting terhadap pengembangan ekonomi nasional, diwilayah sektor ekspor  bahan baku dalam negeri.


Mewabahnya virus corona (Covid-19) sejak akhir Desember 2019 menyebabkan lalu lintas perdagangan internasional terhambat. Penyakit ini  bahkan menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan sangat cepat. Dimana adanya kenaikan harga sejumlah komoditas pangan terjadi karena terhambatnya ekspor diakibatkan  adanya wabah Covid-19. Perdagangan antar negara menjadi terhambat, sebab terjadinya lockdown (Pembatasan sosial berskala besar) yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi berjalan lambat yakni salah satunya aktivitas bahan baku kelapa sawit Indonesia.

Wabah virus COVID-19 berdampak negatif pada bidang bisnis dari segala sektor termasuk bisnis komoditi perkebunan dibagian bahan baku kelapa sawit. Mengingat sebagian besar hasil Crude Palm Oil (CPO) Indonesia diekspor ke berbagai negara, maka dengan adanya dampak COVID-19 volume ekspor CPO menurun. Salah satu contoh negara tujuan ekspor CPO adalah China. Pada Februari 2020, Indonesia hanya mengekspor 84.000 ton CPO jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 mencapai 371.000 ton. Diketahui bahwa volume ekspor CPO ke Pakistan dan USA juga mengalami penurunan (Media Perkebunan bagian bahan baku kelapa sawit). Begitu pula pada konsumsi dalam negeri mengalami penurunan sebesar 3,2 persen.

Menurunnya permintaan CPO diberbagai negara mengakibatkan jumlah stok dalam negeri semakin banyak. Terdapat resiko yang besar terhadap mutu CPO apabila stok dalam negeri dilakukan dalam jangka waktu panjang.  Jika dilihat dari konsep ekonomi permintaan dan penawaran (suplay and demand), maka secara umum jika permintaan CPO sedikit maka harga akan otomatis menurun. Hal ini tidak hanya merugikan pengusaha besar, namun juga berdampak pada petani kelapa sawit.

Lantas dengan persoalan menurunya nilai ekspor bahan baku kelapa sawit, diakibatkan oleh  dampak pandemi covid-19,  sehingga berefek pada krisis ekonomi nasional. Baik dalam bidang industri bahan baku, sektor perdangan, terutama pada karyawan perusahaan kelapa sawit dengan menurunya nilai ekspor berdampak pada minim nya pendapatan karyawan. Sebelum pandemi covid-19 berlangsung penghasilan para karyawan bisa dikatakan maksimal, dikarenakan proses ekspor bahan baku kelapa sawit meningkat. 

Jika dilihat dari situasi sekarang, memang sangat sulit untuk menetapkan mana yang harus di prioritaskan. Di satu sisi harus menyelamatkan perekonomian nasional untuk menciptakan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat dan disisi lain harus memprioritaskan penurunan kasus covid-19 agar tidak ada lagi korban jiwa yang semakin meningkat akibat dari pandemi ini. Dalam hal ini, perlulah kerjasama dan saling mendukung antara masyarakat dan pemerintah guna untuk mencari solusi dari permasalahan ini. Bangsa indonesia harus bangkit dari keterpurukan ekonomi dan krisis kesehatan. Sehingga solusi jalan tengah dari permasalahan ini yakni dengan cara memulihkan sektor perdagangan secara bertahap dengan tetap memperhatikan kondisi dan keadaan sekitar guna agar penurunan kasus covid-19 juga terlaksana dengan baik.


Upaya pemerintah dalam mengatasi menurunnya ekspor bahan baku kelapa sawit di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang telah mengganggu arus perdagangan global adalah: Meningkatkan daya saing melalui pengembangan produk baik dari sisi pengemasan atau desain produk yang akan membuat peningkatan daya produk Indonesia lebih unik, melakukan penguatan produk dengan memenuhi standar yang ada dalam persyaratan internasional, pelatihan calon eksporti baru terutama UMKM melalui Pendidikan dan pelatihan ekspor di Indonesia, relaksasi kebijakan ekspor dan impor, kemudahan pengajuan surat keterangan asal (SKA) barang ekspor melalui penerapan affect nature dan stamp, meningkatkan fasilitas perdagangan melalui automatic authentication, pemerintah juga memfasilitasi pembiayaan ekspor melalui lembaga pembiayaan ekspor indonesia.

Referensi:
1. Achmad Subchiandi Maulanaa, Agustinus Nubatonis Jurnal Agri bisnis Lahan Kering (2020)
2. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5182456/8-cara-mendag-dongkrak-ekspor-di-tengah-pandemi-dijamin-ampuh

VIDEO PILIHAN