Mohon tunggu...
Susi Qory Utami
Susi Qory Utami Mohon Tunggu... squ1702

Selamat DatangšŸ¤ Selamat MembacašŸ“„Selamat MenikmatišŸ“„ Selamat MerasakanšŸ“„Selamat Kembali LagišŸ˜‰

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Problematika Siswa di Era New Normal

21 April 2021   16:58 Diperbarui: 28 April 2021   13:22 48 6 0 Mohon Tunggu...

Pendidikan mengalami perubahan signifikan dari segi pembelajaran dan metodenya, karena suatu wabah yang melanda dunia sejak akhir 2019. Covid-19 wabah yang terjadi di kota Wuhan, China. Covid-19 masuk ke Indonesia tahun 2020 telah melumpuhkan semua elemen dari segi ekonomi maupun pendidikan. Sekolah Ā mendapatkan perintah dari Pemerintah tidak membolehkan siswa pergi ke sekolah untuk pembelajaran seperti biasa setiap harinya. Mereka belajar di rumah sejak hari Selasa tanggal 17 Maret 2020.

Sekolah mengalami lockdown untuk tidak mengadakan pembelajaran tatap muka. Upaya dilakukan dengan pertimbangan agar pembelajaran tidak berhenti karena wabah tersebut. Pemerintah mengupayakan agar semua sekolah melaksanakan pembelajaran dengan "Dalam Jaringan" atau daring. Pembelajaran daring bisa dilakukan dengan cara menggunakan satu atau beberapa aplikasi, yakni zoom meeting, google meet, whatsapp, telegram, skype, google duo dan lainnya. Pemerintah pula memberikan kuota pendidikan kepada seluruh siswa di Indonesia. Dengan mendata no handphone siswa ataupun wali siswa yang bersangkutan. Besaran kuota pendidikan berbeda antara siswa dan guru. Murid diberikan sebesar 35 giga byte dan guru sebesar 40 giga byte untuk tahun 2020 lalu selama 3 bulan. Tahun 2021, siswa diberikan sebesar 10 giga byte dan guru sebesar 12 giga byte setiap bulan.

Pembelajaran daring dilakukan setiap harinya sesuai mata pelajaran. Dengan melakukan zoom meeting selama 45 menit, dikarenakan ada biaya jika lebih dari waktu tersebut. Bisa juga guru membuat grup kelas di whatsapp atau telegram untuk memberikan dan pengumpulan tugas atau info setiap harinya. Namun, pembelajaran daring berjalan dengan semestinya dan juga tidak. Daerah perkotaan bisa terlaksana karena sarana dan prasarana yang mendukung, seperti tersedianya handphone dan signal. Bagi daerah pedesaan dan pelosok handphone belum semua mempunyai dan signal belum menyeluruh. Terkadang menumpang kepada tetangga dan mengakses di tempat dengan banyak signal. Sampai akhirnya ada istilah "Guling" alias Guru Keliling, dengan mendatangi salah satu atau dua siswa yang terbatas dalam pembelajaran daring.

Pembelajaran daring juga dieluhkan oleh orang tua siswa, siswa maupun gurunya. Orang tua siswa yang semuanya berbeda dalam hal pekerjaan dan waktu yang diluangkan. Orang tua tidak dapat dengan intens mendampingi putra-putrinya dalam belajar, lain halnya orang tua yang memang murni Ibu Rumah Tangga. Bisa juga dengan ketidakpahaman orang tua akan tugas siswa. Siswa yang merasa jenuh belajar dengan daring di dalam rumah tanpa ada pertemuan dengan guru dan teman-temannya. Kadangkala dilanda stress dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Guru merasakan pekerjaan semakin menambah dikarenakan menunggu tugas dari siswa. Terkadang satu atau lebih siswa mengumpulkan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan bersama. Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, evaluasi pembelajaran sudah terselesaikan saat hari itu juga.

Setahun ini, semua sudah merasakan bagaimana bekerja dan belajar dari rumah. Tanpa ada kontak fisik dan tanpa pula saling mengobrol. Saatnya Era New Normal, membiasakan diri dengan kebiasaan baru. Mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi. Walaupun sudah Era New NormalĀ pastinya ada problematika yang dihadapi siswa yaitu:

Kecanggungan. rasa ini pasti timbul dalam diri siswa karena sudah lama tidak bertemu dengan temannya. menjaga jarak pastinya selalu membuntuti mereka. dulu sebelum ada covid-19. Mereka pastinya bisa saling bermain saat bel istirahat, saling berdiskusi tentang materi pelajaran ataupun film kartun dan cerita lainnya.Ā 

Suasana belajar berbeda. sekarang sudah New Normal suasana belajar semakin berbeda. Awalnya satu kelas terdiri dari 28 sampai 30 siswa. Sekarang dengan menjaga jarak 1 meter, satu kelas terisi menjadi 14 atau 15 siswa. Juga menggunakan masker saat pembelajaran. Dengan memberlakukan jam shift masuk kepada siswa menjadi dua waktu, pagi dan siang. Jam istirahat pun ditiadakan agar tidak terjadi kerumunan.

Memulai pembelajaran seperti sebelumnya. merasakan satu tahun belajar di rumah membuat siswa pastinya akan memulai pembelajaran baru dalam new normal ini. Guru juga memberikan motivasi dan semangat baru untuk memulai pembelajaran. Seperti kelas 1 Sekolah Dasar dalam setahun ini belum bertemu dengan guru dan temannya. Kelas 6 juga yang tahun 2021 ini sudah akan meninggalkan Almamater Putih Merahnya, memberikan pemantapan dan melaksanakan Ujian Sekolah.

Materi pelajaran belum paham. hal ini juga problematika yang sangat penting untuk diperhatikan. Di kelas sebelumnya mereka belajar di rumah dengan keterbatasan guru dalam menjelaskan materi dalam dua semester. Pastinya saat pembelajaran tatap muka dalam Era New Normal, Guru akan mengulang materi dari kelas sebelumnya agar adanya keterkaitan materi dari jenjang kelas.

Beberapa problematika yang sudah di paparkan menjadi sebuah acuan untuk pembelajaran tatap muka nantinya jika memang harus dilaksanakan. Guru mempersiapkan diri dengan suasana belajar dan kebiasaan diri baru. Saling mensupport antar teman sejawat dan juga siswa agar pembelajaran nantinya berjalan dengan efektif dan efisien.

VIDEO PILIHAN